HOME | CONTACT US | BERITA | INFO UNTUK ANDA |
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM
Magic Brain
Mencari Asal-usul Fenomena Hidup Sedang Merupakan Topik Utama bagi Para Saintis (3)

Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.

Meneliti serta memahami kemajuan di dalam bidang m e n t a l   atau a l a m  p i k i r   kini telah mendapatkan sorotan tajam masyarakat dunia yang luas. Dengan sendirinya yang menonjol adalah negara-negara yang telah berkembang dengan tingkatan kesejahteraan tinggi. Yang masih sedang berkembang karena hilangnya  “kolonialisme” tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan suatu riset mendalam, karena kekurangan dana untuk itu.  Mereka masih berorientasi pada pengembangan Fisik dimana bidang mental merupakan prioritas kedua. Padahal sebenarnya saja tidak seharusnya demikian.

Penulis sendiri berkeinginan untuk membangun suatu Pusat Riset di Indonesia di dalam bidang ini, tapi terbentur karena situasi di tanah air yang masih sangat memerlukan perhatian menyelesaikan masalah-masalah pada bidang lain. Hendaknya hal itu dimasukan prioritas terlebih dahulu dan jangan ikut-ikutan Negara-negara yang telah lama berkembang seperti Eropa dan Amerika Utara. Karena bagian Selatan masih belum juga terkembangkan dengan tuntas, sungguhpun sudah masanya mempunyai keseimbangan bidang apa saja.

Meningkatnya <Inteligensia> manusia pada bidang riset <Mind> kini makin maju dan bebas dari masih adanya hambatan dari dogma/doktrin keagamaan. Juga di dalam riset  <Jagad Raya> terjadi banyak kemajuan akan pengertian terjadinya bentuk galaksi-galaksi, lobang-lobang hitam, konstelasi perputaran planit-planit serta bintang-bintang dan lainya. Hal ini telah dimungkinkan dengan penemuan “teleskop Hubble” yang berorbit diluar angkasa. Kini sedang dikembangakan “teleskop elektronik”  baru yang akan menambah keleluasan dari Hubble teleskop.

Penulis sendiri, karena telah bebas dari kerjaan serta pertanggungan jawabnya, memang mendalami kemajuan-kemajuan di dalam metafisik maupun spiritual. Bila para pembaca nanti setingkat dengan kondisi penulis, maka hal itu akan sangat meng-asyikan, dimana pengetahuan kita yang dulu-dulu, apalagi pada bidang intelektual sudah tidak memadai lagi. Intelektualisme dibangun untuk menguasai dimensi <obyektif>, tapi Inteligensia merupakan keharusan bila ingin mengerti serta mahami apa arti dari dimensi <subyektif>. Dan kita akan langsung memahami, bahwa kondisi manusia sebenarnya dapat jauh lebih teratur serta “Sempurna” bila meng-keseimbangkan visi kita dengan dominasi dari dimensi subyektif.

Hal ini masih banyak diragukan oleh para saintis muda, karena pendidikan didalam hal spiritual masih belum merata, hanya kondisional saja. Pengetahuan yang dikatakan “formal”, hanya pada bidang <Intelektualitas>. Mengapakah hal bidang spiritual tak dapat ditanggapi seperti itu? Mungkin menunggu kematangan total yang akan merupakan suatu <Kebiasaan> Baru, sehingga segala sesuatu akan diarahkan kesana. Inilah yang dikatakan pengembangan <Tahap kedua> dari manusia.

Bila nanti terjadi kehancuran total dari planit yang kita huni yang keagamaan menamakanya <K i a m a t> karena visi yang terbatas, maka kemanakah keberadaban makhluk manusia itu akan berlangsung? Pertanyaan ini kini sudah mengarah di dalam riset spiritual yang kedudukanya ada pada Alam Pikir kita. Herankah para pembaca? Mampukah manusia mencari jawabanya untuk itu? Mampukah manusia meningkatkan Alam Pikirnya setaraf dengan kebesaran <Jagad Raya> atau juga dikenal dengan <Universe>?

Pendapat penulis memang mampu, bila manusia bersedia mengakui kesempurnaanya yang asal-usulnya dari Universe itu sendiri dan masih banyak pertanyaan yang seolah belum terjawab. Banyaknya persepsi yang masih mempunyai gejala ber-simpang-siur akan dibuktikan oleh  W a k t u  yang tanpa  B a t a s.  Penulis berharap hal ini dapat diikuti dengan cermat, dan akan memberikan rasa  N y a m a n  tanpa dipengeruhi oleh  K e t a k u t a n .

Pemahaman yang menyangkut  <Jagad Raya> kini sudah mempunyai landasan yang dapat diandalkan, dimana makhluk manusia termasuk dari suatu bagian yang sangat, sangat kecil, merupakan  “D e b u   K o s m i k”  atau “C o s m i c   D u s t” . Berarti, bahwa sejak masa lalu, kita tidak mampu melaksanakan pemeliharaan serta pelestarian dari Ciptaan Universe yang kita sebut juga <Yang Maha Esa>.

Pendalaman serta persepsi untuk persoalan ini sering kali mengalami penyimpangan oleh mereka yang menyatakan dirinya sebagai seorang <ahli> atau <Pakar> yang didasarkan pada pengetahuan Intelektual. Kita haruslah keluar dari peningkatan bentuk pengertian Intelektual apapun, karena tanpa adanya  I n t e l i g e n s i a  hal itu percuma saja didalam pengamalanya. Mau bukti? Mengapa terjadi banyak masalah di dalam pelaksanaanya? Kata yang menjadi biasa adalah bahwa didalam pengamalan intelektualitas, kita harus <Mencoba> dan bila <Salah> memperbaiki dan mencoba kembali. Hal ini sepertinya sama dengan istilah <Try and Error>.

Waktu didalam perbaikan akan lama sekali dengan melaksanakan pengulangan-pengulangan yang akhirnya menghambat di dalam kelancaran dari suatu pelaksanaan, bukan begitu selama ini? Masihkah mempunyai keraguan akan kesempurnaan manusia yang dapat diperkembangkan dengan tuntas? Penulis berharap para pembaca dapat membuka Alam Pikiranya untuk memahami hal tersebut.(dilanjutkan/Ijs)

 H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code:
Audio Version
Reload Image
Verify Code:

More KOLOM:
[ more Kolom ]