Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Para pembaca yang budiman, bila kita pikirkan akibat dari pengaruh suatu penjajahan yang “intensif” dan dengan waktu yang lama, maka dampak pengaruhnya sudah pasti tak dapat dihilangkan dengan serta merta. Sudah pasti akan memakan waktu kematangan mental yang bebas, mandiri, bersih dan sulit untuk dipengaruhi kembali dari generasi ke generasi.
Sebagai suatu bangsa yang besar, sekalipun tersebar pada pulau-pulau dengan keleluasan fisik sebesar Eropa, secara perlahan tapi pasti pikiran kita dapat terkontaminasi “mental”-nya oleh suasana penjajahan. Sang penjajah akan selalu berusaha menghindarkan adanya suatu “persatuan” diantara yang terjajah dengan system “divide et impera”.
Hal ini memang dimana-mana selalu dipraktekan, dimana persatuan yang besar mampu mendobrak kelemahan pikiran itu bila ada saja seorang yang berani dan mampu mengobarkan semangat perlawanan untuk berjoang. Dari sejarah kita ketahui adanya pahlawan-pahlawan seperti itu. Seorang saja sudah tentu tak dapat mempengaruhi cetusan pikiran perlawanan secara massal. Dan hal itu terbukti dengan adanya kegagalan-kegagalan yang terjadi beberapa kali. Pahlawan-pahlawan kita menjadi “martir” untuk modal perjoangan selanjutnya.
Seluruh “pamong praja” pada masa itu telah di-“racuni” oleh si penjajah dengan berbagai cara, mulai dari penekanan ketergantungan melalui “suapan”, pemberian pangkat yang tak pada tempatnya, serta adanya juga sifat-sifat lemah diantara kita sendiri yang suka “menjilat” pada tuanya. Bayangkan saja, bahwa kesemrawutan seperti itu telah kita alami selama waktu yang terlalu lama.
Namun demikian, si penjajah tak dapat melaksanakan penjajahanya tanpa orang-orang yang membantunya, bukan? Mereka memerlukan orang-orang pribumi disekitar mereka yang dapat dipercayainya untuk menjaga jangan sampai terjadi suatu pemberontakan yang dapat menghalau keberadaan penjajahan mental dan fisik untuk selamanya. Secara “psikhologis” si penjajah mengetahui orang-orang mana yang akan mereka pergunakan sebagai perisai terhadap bangsanya sendiri.
Penulis akan menuju pada pengungkapan yang lebih dalam yang menyangkut “kromosom” transmisi atau pemindahan “genetis” dari generasi ke generasi yang mana pernah dialami oleh Bung Karno cs yang bersangkutan dengan kejiwaan dari individu ke individu untuk melestarikan hasil dari gagasan “Kemerdekaan” yang telah tercapai dengan tidak mudah.
Gejala memberikan kemudahan bagi pembantu-pembantunya sebagai penghargaan atas loyalitas masih berbau suapan, sungguhpun hal itu diselubungi dengan suatu cara berterima kasih. Pilihan pemberian penghargaan itu juga tidak akan mudah, karena di dalam suatu perjoangan, setiap unsur individu mempunyai “interaksi” di dalam menjaga kesinambunganya mensukseskan perjoangan tersebut.
Pernahkah para pembaca mendalami efek dari “pemindahan genetis” itu di sekitar lingkunganya sendiri? Penulis dapat memastikan, bahwa hal itu belum pernah dilaksanakan, disebabkan pada umumnya kita masih berfungsi tanpa kepekaan intuitif yang hanya mampu difungsikan oleh kondisi “nirsadar” yang hingga saat terkini masih ditanggapi sebagai sesuatu yang belum mempunyai nilai nyata, bukan dmikian keadaanya?
Bahwa pada masa orde baru kita dibuai dengan suatu pembangunan ekonomi Negara yang “ S e m u “ melalui dana yang harus kita kembalikan karena berupa “H u t a n g”, tidak dapat ditangkap dengan jelas oleh rakyat biasa, karena mereka hanya melihat kenyataan adanya cukup materi untuk menunjang suatu kehidupan yang wajar yang sebenarnya tidak wajar, bukan? Dampak perselisihan perbedaan itu nampak setelah orde baru digeser.
Bila kita tinjau kata “strategi” di dalam konteks kemiliteran, maka itu sama saja dengan arti “pikiran yang licik” untuk membenarkan suatu usaha yang negatif dijadikan positif. Pada masa 32 tahun itu, banyak kelicikan terjadi dimana terdapat pengorbanan diantara mereka yang mengemukakan kejujuran. Masih dapat diingat masa itu, para pembaca?
Rakyat yang hanya mengutamakan suatu kenyataan hidup layak, banyak yang ingin merasakan masa itu kembali lagi dan tidak mengetahui bahwa kejadian kini merupakan akibat dari masa tersebut. Mensosialisasikan hal ini memang banyak kendalanya, karena justru masa itu penuh dengan nuansa negatif dimana justru yang positif digeser dan ingin digantikan dengan suatu “pembenaran” dari yang sudah salah.
Kebudayaan lama masa penjajahan timbul kembali yang adalah hasil dari penjajahan yang terlalu lama itu. Lalu bagaimana kita akan menghadapi persoalan pelik seperti itu? Pendidikan apakah yang dapat dilaksanakan untuk menghilangkan dampak negatif yang masih merupakan suatu kromosom tertentu di dalam jiwa turunan kita? Pernahkah para pembaca memikirkan persoalan ini dengan serius? “Tong Setan” yang merupakan warisan dari masa penjajahan, mampukah kita mendobraknya dan kembali murni seperti yang dilontarkan oleh keagamaan? Hal inipun kini mengalami masa sulit karena dilanda oleh kejadian-kejadian yang makin parah yang terjadi ditanah air. Persepsi keagamaan menjadi di- p e r k o s a oleh oknum-oknum dengan tujuan yang s e s a t .
Diseluruh dunia kini bermunculan pendapat, bahwa religi kenyataanya tidak dapat melestarikan pedoman-pedoman didalam warisan buku-buku agama yang mengutamakan “kejujuran”, “keberadaban”, “keharmonisan”, “ kedamaian”, “kenyamanan” dan “keamanan” yang seharusnya dapat dilestarikan serta dipertahankan diseluruh dunia sepanjang masa keberadaan di bumi ini !
Akankah ada suatu masa, dimana manusia akan dapat hidup bersama dengan bahagia, sungguhpun kita itu terdiri dari berbagai bentuk rupa, tabiat, tradisi, kebudayaan, bahasa serta perilaku yang berbeda satu dengan yang lain? Tidak mungkin? Apakah hal itu ke-Hendak YME? Tanpa mendalami unsur mengapa kita di-Ciptakan pada bumi ini serta mengetahui jawabanya dan adanya bukti diantara multi milyaran tahun sinar yang merupakan “Jagad Raya” atau Univers, kita akan tetap masih hidup dengan teka-teki yang tanpa solusi. Silahkan mencari <JawabanNya>.Demikian Kenyataannya.(Ijs)
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method