
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Dengan tercetusnya gagasan "Demokrasi Terpimpin" oleh Bung Karno. Seakan beliau sudah merasa bahwa dimasa mendatang, bangsa kita masih harus banyak belajar yang menyangkut system Demokrasi yang "murni" yang akan dianut. Dan kenyataanya memang terjadi seperti yang dapat di-ramal oleh Bung Karno.
Di dalam memimpin suatu system bentuk negara, yang juga dikerjakan dalam era golkar ciptaan presiden kedua, Soeharto, terjadi suatu "penyimpangan" yang memberikan haluan berbeda dari cita-cita semula. Di Era tersebut rakyat ditekan untuk tidak melaksanakan demo, pendapat yang dianggap 'liar', dan mendukung adanya penyelewengan-penyelewengan yang menyangkut "Kejujuran" yang mengakibatkan terjadinya "korupsi" (KKN) dimana-mana.
Yang menjadi pedoman yang seharusnya tuntas di negara ini ialah suatu Kejujuran Total dan Absolut yang tak dapat diganggu oleh provokasi lingkungan yang terbentuk oleh nuansa ke-"tidak jujuran". Mengapa bisa disebut demikian?, karena ternyata banyak orang-orang jujur sering terpojokan dan tidak dapat berperan di dalam mengemukakan pendirianya.
Budaya yang kini sedang berkembang serta dengan sengaja "diper-kembangkan" oleh adanya energi cetusan pikiran yang negatif yang dengan perlahan tapi pasti menodai cetusan pikiran positif, akan memberikan dampak merusak untuk seterusnya.
Kita harus keluar terlebih dahulu dari 'cengkeraman' ketidak jujuran tersebut, yang akan pasti selalu "memacu" pada sifatr-sifat Koruptif yang tidak kondusif di dalam menyelesaikan banyaknya masalah yang telah timbul untuk dapat diselesaikan dengan "moral" dan "etika" yang tinggi.
Kondisi melaksanakan Re-Tooling dari suasana yang tidak memungkinkan "Kejujuran" dapat diperkembangkan dengan telak, tidak mendapatkan perhatian dengan tuntas. Seakan suasana "maling" dan berteriak "maling" sudah mendarah daging diantara kita, sehingga mendengar usulan "pendidikan ulang" untuk merubah sifat-sifat ketidak jujuran tersebut tidak menyentuh kalbu jiwa yang telah dirusakan.
Keprihatinan akan hal seperti itu kini sangat meluas diantara mereka yang masih mempunyai Jiwa Jujur dan terbukti selama pembangunan 65 tahun dapat di-"pertahankan" dengan telak. Tetapi, karena bentuk lingkungan akan selalu mengikuti energi yang terkeluarkan dari pengelolaan cetusan pikiran dari mereka yang kejujuranya dapat dipertanyakan, maka kesulitan tersebut masih akan marak!
Kita harus menaruh lebih banyak perhatian terhadap masalah ini dengan suatu "kewaspadaan" tinggi dan bersedia mencari "solusi" yang tepat bagi masalahnya. Kompleksitas yang demikian dalam dan luasnya membutuhkan orang-orang yang Peka dan Intuitif terhadap bentuk situasi seperti itu.
Pilihan yang dihadapai oleh kita semua adalah, mau melaksanakan introspeksi pada diri sendiri dan bersedia untuk merubahnya melalui suatu system yang tepat, atau mendidik suatu generasi baru. Yang disebut terakhir akan memakan waktu yang tak sedikit dan memerlukan juga pendidik-pendidik yang jiwanya Jujur dan belum tersentuh noda dari lingkungan dengan bentuk suasana apapun terutama yang negatif.
Bila tidak, maka pendidikan sesuatu yang tepat, baru dan kondusif tidak akan semudah disangka. Bagaimana pendidik, bagaimana bentuk yang terdidik, bukan demikian kenyataanya? Apakah hal yang dikemukakan ini masuk "akal sehat" bagi para pembaca? Adakah suatu usul yang dapat dikatakan "jitu" hingga saat terkini?
Mengawasi perilaku diri sendiri, tanpa adanya kesempurnaan yang dapat dipergunakan pada diri sendiri yang telah ter-Cipta-kan dengan cara Maha Sempurna oleh YMK, memerlukan komitmen yang tuntas di dalam pelaksanaanya.
Banyak kini timbul dan marak yang seakan telah diketemukan secara "Ilmiah", system-system pendidikan "Alam Pikiran" atau "Mind". Tapi apakah benar-benar "mendalam" di dalam "riset"-nya masih dapat dipertanyakan yang selalu dijanjikan dengan kata-kata yang manis.
Penyelidikan secara tuntas dari "Hasil-Hasil" yang dapat dicapai harus diikuti dengan cermat, bila kita ingin mendapat "Jaminan" bahwa suatu system telah menelorkan suatu "Keberhasilan Positif" yang dapat diandalkan dengan telak!
Jaminan seperti itu memang diperlukan sekali, karena dari hasil positif seperti itulah akan terjadi suatu “perubahan telak” yang menyangkut kemajuan pembangunan Akhlak yang hanya positif saja, tanpa khawatir akan bisa dilanda lagi oleh nuansa negatif yang terbentuk pada suatu lingkungan.
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method