HOME | CONTACT US | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM
Magic Brain

Menanggapi Pidato Presiden Ketika Berangkat ke Wilayah Singapura dan Malaysia



Berita HOT:

Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.

indosiar.com - Pandangan secara "subyektif" ini dengan sendirinya ada kemungkinan kurang dapat diikuti dan dimenegrti oleh kebanyakan diantara kita yang masih belum mempenyai kemampuan untuk menggunakan bentuk informasi "subsadar" pada kondisi "sadar".

Artinya, di dalam kondisi "subsadar" terdapat informasi yang telah diverifikasi yang menyangkut tujuan suatu arus pikiran yang bisa membawakan cetusan tersebut pada lingkungan dengan suatu "tujuan" yang sesuai dengan kondisi informasi yang terdapat (diverivikasi) di dalam perangkat "subsadar" tersebut.

Secara umum, konteks pidatonya telah mempunyai nuansa yang sesuai dengan kondisi yang berada pada bagian "subsadar". Hal ini memang merupakan pedoman yang boleh dikatakan jelas dan tidak ada konotasi yang menyangkut adanya penetrasi dari kondisi "negatif" atau penyimpanganya.

Pencetusan pikiran umum yang dilaksanakan oleh hampir semua orang, akan selalu berpatokan kepada informasi yang telah ditangkap, dikelola, dianalisa serta dikalkulasi dan dimanipulasi dengan cermat melalui suatu kemampuan dari kesadaran yang pasti masih rentan terhadap intervensi "Gelembung Vibrasi" yang "negatif".

Suatu pengelolaan "Positif" dari penyusunan arus pikiran yang sifat tingkat kesadaran- serta kewaspadaanya diolah pada kondisi "subsadar", akan PASTI mempunyai nuansa "Positif". Sangat tergantung dari banyaknya bentuk nuansa seperti itulah yang akan dapat mempengaruhi cetusan-cetusan yang "Negatif" yang saat terkini sedang "marak" dimana-mana.

Hal ini yang oleh kebanyakan orang belumlah dipunyai yang merupakan hal yang seharusnya bisa digunakan sejak berabad-abad yang lalu. Kebiasaan yang seharusnya ditanamkan di dalam bagian neuron Otak yang terkelola pada "subsadar" melaui suatu pendidikan khusus, belum pernah dilaksanakan apalagi diperhatikan dengan tuntas dan "seksama".

Pakar-pakar pendidikan merasa sudah cukup untuk hanya memacu Otak bagian Kiri saja yang disebut "Kepintaran" dan tidak mengerti atau bila mengerti, tidak menanggapi kesempatan seperti itu yang memang adalah Ciptaan Maha Besar dan Sempurna dari Yang Maha Esa.

Ada memang beberapa orang diantara kita yang dengan "tak sengaja" telah dipengaruhi oleh kondisi "subsadar" tersebut, yang dengan sendirinya akan ditanggapi sebagai sesuatu yang biasa, dan tidak mengetahui bahwa hal itu mepunyai hubungan dengan kemampuan "subsadar" tersebut.

Pemimpin yang "Mampu" membawakan haluan suatu tujuan yang "Positif" dan di-ikuti oleh yang di-pimpinya mempunyai <Vibrasi Kharismatik> yang dapat mengobarkan yang dinamakan "Semangat Berjoang" di dalam mencapai tujuan tersebut. Tingkatan <Kharisma> tersebut harus sedemikian luas yang menyangkut "pengaruhnya", sehingga efek-efek "sampingan" yang 'negatif' dapat disingkirkan.

Itulah yang terjadi pada <Bapak Bangsa> Ir.DR.Soekarno yang bentuk penyimpanganya bisa disebut "minim" dan tidak meluas yang diketahui merupakan akibat dari penderitaanya di dalam pengasingan beberapa dekade. Memungkiri akan "Kharisma"-nya tersebut telah mempunyai akibat 'lepas kendali' dari mental penggantinya yang memupuk kekerasan 'terselubung' yang mengarah kepada kenegtifan pemerintahan totaliter.

Bukanlah bentuk "Kharisma" yang terdapat pada presiden kedua. Tapi hal itu karena didukung oleh kondisi Non-Demokrasi serta ke-engganan untuk  melaksanakan pengawasan yang dibayangi oleh mereka yang "bersenjata", bukan demikian telah terjadi dan dialami masa orde baru? Mereka yang di MPR-DPR merupakan orang-orang "YES MAN" saja.

Seakan telah terjadi keamanan dan sandang-pangan yang serba kecukupan. Tapi ternyata yang diberi kekuasaan telah meletak-kan bibit-bibit ke-negatifan yang tertanam sebagai "Budaya Baru" yang disebut "Korupsi-Kolusi-Nepotisme" (KKN).

Kita, rakyat yang percaya akan adanya perubahan telak dari suatu "bentuk Negara" kearah yang di-"Angan-angan-kan" oleh sang "Pencetus  K e m e r d e k a a n" masih tetap meng-Elu-kan kepimpinan Bung Karno karena melalui intervensinyalah serta pengobaran semangat "Revolusi", kita kini menjadi suatu "Bangsa" yang meneukan "Djati Diri"-nya dengan bentuk Bangsa Indonesia yang harus dijaga "Kredibiltas"-nya dengan langgeng dengan menjaga hal itu sebaik-baiknya dengan hati sanubari yang peka dan murni positif!
Demikian Kenyataanya.

H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: