
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
indosiar.com - Seperti yang pernah penulis ungkapkan, bahwa kita masih mendapatkan pengaruh dari suatu penjajahan "mental" yang terlalu lama, 350 tahun, memang merupakan hasil kondisi banyak bentuk kenegatifan masa kini. Banyak diantara kita yang tidak mampu mempertahankan "kejujuran" yang sangat diperlukan di dalam bentuk "kejiwaan" yang dapat dinyatakan "baku positif" atau "Mantap".
Yang dinamakan seorang "pendidik" dimanapun dan bagaimanapun kedudukanya, sebagai orang tua, guru sekoleh, dosen dan kepala-kepala organisasi bentuk apapun, seharusnya mempunyai jiwa "kewibawaan" terhadap asuhan- atau bawahanya, bukan begitu semustinya?
Memang tidak semuanya yang mampu mengendalikan bentuk kewibawaan tersebut. Kenyataanya akan selalu terdapat kelemahan bila menyangkut memberikan "arah didikan" sesuai dengan tujuanya untuk menjadi manusia yang bersifat J u j u r! Nampaknya masih sangat sulit untuk mempengaruhkan bentuk jiwa yang L u h u r kepada lingkungan, baik itu di dalam taraf kecil maupun besar.
Manusia pada kenyataanya selalu rentan terhadap pengaruh suatu lingkungan yang sudah mempunyai bentuk suatu arahan nuansa tertentu. Kita belum mampu mempengaruhkan pendapat kita kepada suatu bentuk lingkungan yang sudah ternoda, sekalipun pendapat kita itu b e n a r . Pada banyak kasus kita akan selalu tergantung dari dukungan suara "paling banyak". Hal ini menunjukan juga, bahwa pada diri kita, pada suatu ketika tertentu akan merasakan adanya k e r a g u a n, yang dapat mementahkan kembali pendapat kita akan suatu kasus atau persoalan.
Apalagi bila dihadapkan pada tekanan kekuasaan pada lingkungan darimana kita mempunyai ketergantungan akan kelanjutan hidup. Hal ini merupakan pengaruh yang mempunyai dampak mendalam pada masyarakat kita terutama. Kenyamanan suatu "keamanan sosial" di dalam bekerja serta berusaha belum terciptakan di bumi Indonesia kini.
Kondisi seperti itu, yang telah dibangun di dalam konstitusi negara yang terdidik serta berpengalaman memerlukan kematangan dari para N e g a r a w a n kita. Mereka masih harus banyak belajar dan melaksanakan "studi banding" dengan konstitusi negara-negara lain yang telah memperlihatkan keberhasilan yang mencakup kesejahteraan rakyatnya. Mungkin suatu bentuk ‘konstitusi’ sudah bagus dan tepat, tapi ‘interpretasi’ dari implementasinya masih memerlukan pengawasan yang ketat!
Pada lingkungan masyarakat seperti itu, maka pendukungan yang menyangkut ke- j u j u r a n akan p a s t i memberikan dampak yang positif dan mampu menggeser provokasi negatif. Penulis telah merasakan hal itu selama berada di manca negara. Kematangan suatu negara tak dapat dipicu dengan cara yang tidak wajar. Karena penyesuaian pengembangan m e n t a l seharusnya setaraf dengan evolusinya.
Pemaksaan akan hal itu akan menimbulkan banyak masalah seperti kini terjadi di dalam negara kita. Kematangan bernegara tak dapat di- u k u r dengan kemajuan di negara lain yang setiap lingkungan negaranya mempunyai ciri-ciri yang khas dan sesuai dengan nuansanya, ditambah dengan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan lingkungan suatu kondisi negara tersebut. Negara-negara di Amerika Selatan telah juga berkembang selama lebih dari dua ratus tahunan, tapi masih juga banyak ketinggalanya dari negara yang dipengaruhi oleh bangsa kulit putih.
Kemajuan di Cina, misalnya, telah terpicu juga oleh pengaruh itu dan menimbulkan suatu kondisi "kontroversial" dengan idealismenya sebagai negara komunis. Perhatikanlah saja evolusinya dari setiap negara didunia ini. Indonesia termasuk negara yang sedang berkembang selama "enam puluhan" tahun, dan tidak dapat dinyatakan mempunyai perkembangan yang disebut I d e a l. Masih banyak yang harus dibenahi, dipelajari serta dilaksanakan suatu perwujudan bentuk negara yang dikatakan makmur dan sejahtera di dalam keseluruhan.
Masih banyak adanya kemiskinan, kepincangan "kenyamanan sosial" yang antara lain dapat ditiru dari bentuk negara yang telah berkembang selama ratusan bahkan ribuan tahun. Kesemuanya tergantung dari suatu k o n d i s i kejiwaan penduduk atau rakyatnya.
Demikianlah kenyataanya.
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method