
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Naskah ini akan mengungkapkan baik-buruknya kondisi yang memberikan pengaruh seperti itu pada kehidupan manusia (kita). Nampaknya sangat diperlukan suatu "pengawasan diri" bila tidak ingin terjerumus di dalam kancah yang buruk. Namun tingkatanya bisa berbeda-beda menurut pendidikan jiwanya.
Tetapi ternyata, bahwa pendidikan jiwa apapun tingkatan- serta keleluasanya, tidak dapat men-"jamin" adanya perilaku yang homogin dengan nuansa positif. Masih banyak faktor-faktor yang dibutuhkan untuk memperkuat jaminan tersebut.
Adanya skala bentuk yang demikian kompleksnya yang diatur serta dikelola oleh "neuron-neuron" atau konstruksi persyarafan pada <Pusat Pikir> atau <Brain>, seharusnya mendapatkan perhatian yang jauh lebih dalam dan tuntas daripada yang diarahkan diluar pusat pikir tersebut.
Karena sejak ribuan juta tahun yang lalu sosok manusia hanya mengarahkan perhatianya pada hal-hal Fisik atau juga disebut kenyataan adanya tubuh atau jasad serta materi lain dilingkunganya. Tidak atau belum diketahui, bahwa aktivitas jasad secara absolut dikelola terlebih dahulu oleh adanya konstruksi kompleks dari pusat pikir tadi.
Dan hal itu diatur oleh suatu getaran energi yang mengandung daya magnetik dan listrik yang mana sumbernya berada pada Atmosfir. Hal ini pula mempunyai sumbernya pada daya energi yang mengatur kehadiran Alam Semesta atau Univers. Kita telah ketahui kini bahwa bentuk segala sesuatu yang ada pada kategori "fisik" asal-usulnya berada pada bilangan Photon dan Elektron yang mengatur bentuk-bentuk materi pada Univers, yaitu konstruksi partikel Atomik. Dan disinilah terdapat penemuan yang menyangkut hal DNA yang ketepatanya tak dapat dibantah.
Melalui cetusan pikiran yang tenang dan meditatif, kita akan mampu mempunyai pengertian yang mendalam akan kondisi seperti itu. Oleh karena itu, kini banyak sekali cendekiawan atau "saintis" (scientist) di dalam penyelidikan adanya Univers justru telah menemukan, kaitanya, pengaruh energi tersebut pada kehidupan organis apapun, baik itu di planit bumi maupun diluar itu.
Kini sudah banyak kenyataan-kenyataan ditemukan sebagai pembuktian akan kombinasi antara yang Fisik dan Non-Fisik tersebut. Dan mengikuti Urut Duduk Takdir yang berlaku absolut pada Alam Semesta, maka jasad merupakan "alat" yang digunakan oleh struktur yang "non-fisik" tadi didalam konteks yang merupakan dimensi Obyektif. Kebalikanya yang mempunyai kedudukan ketakdiran men-"Dominasi", berada pada dimensi Subyektif.
Demikianlah kenyataan yang melalui suatu penyelidikan ilmiah yang cermat kini dapat diandalkan. Dimensi Obyektif ternyata selalu mempunyai keterbatasan dari suatu R u a n g dan W a k t u. Contohnya adalah, bahwa daya penangkapan melalui indra-indra "fisik" tak dapat melampaui keterbatasan tersebut.
Tapi melalui indra-indra yang "non-fidik" kita mempunyai kemampuan menangkap kenyataan-kenyataan diluar dimensi yang Obyektif, yaitu apapun yang berada pada kondisi dimensi Subyektif. Mungkin diantara para pembaca pasti ada yang mengalami hal seperti itu yang dikenal dengan peristiwa yang berada diluar atau diatasnya yang Normal dan terkenal secara umum dengan sebutan Para-normal.
Para (diatas yang normal), asal usulnya dari bahasa Yunani. Lalu timbul pertanyaan, apa tujuan Alam Semesta meng-kreasi sosok makhluk manusia yang berbakat ke-para-normalan tadi?
Memang diantara kita ada saja orang-orang yang mempunyai kemampuan seperti itu, yang mampu menggunakan indra-indra yang "non-fisik" menangkap getaran-getaran energi yang timbul dari sosok manusia lain serta adanya konstruksi yang ditimbulkan pada atmosfir yang dinamakan Gelembung Vibrasi.
Cetusan berupa gelembung vibrasi tidak akan bisa dihilangkan kembali dan akan menetap pada bilangan atmosfir dan diluar itu. Nuansanya lalu mengikuti perwujudan cetusanya, yaitu yang positif atau yang negatif.
Jadi menurut penyelidikan ilmiah masa kini, maka terjadinya bentuk dunia yang begitu bernuansa negatif, terjadi dari kekurangan kebanyakan manusia menggunakan kemampuanya yang "sempurna" untuk menghalau atau meng-"eliminasi" gelembung-gelembung vibrasi yang terbentuk negatif!
Dengan suatu pengetahuan seperti ini, belumlah cukup, bila tidak di-"Hayati" kemampuan seperti itu. Hanya melalui peng-"Hayatan" yang telaklah, maka bentuk dunia bakal pasti bisa berubah dan dapat menimbulkan komunikasi antar manusia dengan "harmonis", "toleran", "sabar", "konsisten" dan akan memberikan ke-"damaian" serta ke-"nyamanan sosial" antar kita, bukan demikian seharusnya tujuan dari adanya manusia di-kreasi pada bumi ini?
Persoalan akan menjadi mudah bila kebanyakan dari kita dapat memahami penemuan-penemuan yang mengutamakan sifat-sifat Spiritual pada kita. Ketahuilah bahwa dengan hanya keterbatasan mem-persepsi informasi "obyektif", kita dengan sendirinya masuk kedalam kancah batas-batas ruang dan waktu tadi.
Ada yang menyatakan "takut" menggunakan kemampuan yang sempurna yang di-interpretasi-kan dengan "mendahului Tuhan". Hal ini merupakan persepsi yang tidak benar, karena "Ciptaan Tuhan" tidak pernah mempunya kekurangan dan "harus" dipergunakan di dalam perwujudan perilaku kita sebagai sosok manusia, bukan begitu kenyataanya?
Kini contoh suatu kenyataan, bila ada penemuan baru dibidang materi, seperti elektronik, mobile phone, kecanggihan mobil memakai transmisi matik, kita sok mau membeli atau berusaha mengikuti kecanggihan materi tersebut. Tapi selalu mempunyai keraguan bila kemajuan itu menyangkut hal yang "non-firisk". Padahal yang non-fisik akan selalu "mendahului" yang fisik. Ini kenyataan yang Absolut.
Mengapakah masih di-"Ragu"-kan??? Bukanya kita sebagai manusia harus mempunyai daya PD (percaya diri) yang mantap dan tuntas? Kita semua ingin mencapai kemajuan, tapi kebanyakan hanya menginginkan kemajuan Fisik saja tetapi tetap takut dan tidak mempercayai kemajuan Mental. Rubahlah pendirian seperti ini, kita akan terbiasa dan juga makin dapat mempunyai "Pengendalian"-nya.
Dapatkah kini dirasakan penyebab Utama yang melanda diri kita yang menjadi suatu "Kelemahan" di dalam merubah diri dan juga Dunia pada akhirnya?
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method