
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Para cerdik pandai atau ‘cendekiawan’ kini sedang melaksanakan riset yang menyangkut berbagai macam bentuk negatif yang mengenai 'Bumi', sebuah planet, satu-satunya tempat kita makhluk manusia dan ‘spesis’ lainya ‘berpijak dan tinggal’.
Sejak ter-Cipta-NYA gumpalan tanah, sampai dengan adanya ‘spesis’ di dalam “Jagad Raya” atau “Univers”, telah dialami berbagai macam perubahan berbentuk pembangunan, kemajuan, perusakan dan kemunduran sepanjang masa. Mulai dari kesederhanaan hidup sampai dengan kerumitan dengan adanya kemajuan teknologi materis yang mempengaruhi hidup ini, terjadi karena cetusan pengelolaan “energi” Alam Pikiran kita, manusia.
Tanpa dirasakan secara benar-benar sadar dengan “Tuntas” perubahan-perubahan telah terjadi, yang mana dampaknya kini makin mengkhawatirkan. Betapa tidak, bila diperhatikan bahwa energi yang dikelola di dalam Pusat Pikir telah menjadikan “Dunia” pada suatu bentuk “rumit” yang kita kenal kini.
Kita harus menyadari, bahwa kemajuan yang telah tercapai, juga telah melalui masa perusakan berbentuk “Peperangan antar manusia” yang hingga saat terkini “belum” dapat dikatakan telah 'Sirna'. Disana-sini masih saja terjadi bentrokan-bentrokan yang didorong oleh ketidak “Puasan” antar manusia yang tidak menyadari hal itu dengan telak.
Seperti dengan spesis binatang atau hewan yang dengan paksaan diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, maka spesis manusia agaknya di dalam zaman 'Modern' kini, justru mengarahkan diri kepada apa yang terjadi pada spesis hewan tersebut. Padahal kita berada pada tingkatan tertinggi di dalam 'Ciptaan' Yang Maha Kuasa.
Tingkatan dimana kita berada di-Anugerah-kan kepada kita untuk “Mampu” menciptakan suasana SORGA di Dunia ini, seperti yang selalu di-per-khayalkan serta dijanjikan bila telah meninggalkan dunia ini. Bukankah hal ini menjadi sesuatu yang diharap-harapkan. Lalu menjadi suatu “Paradox”? Merupakan kontroversi dari 'Ciptaan-NYA'? Kini para cendekiawan makin menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk memperbaiki kondisi “Dunia”, adalah mendalami pertama-tama 'Kemampuan' manusia itu sendiri terlebih dahulu untuk dapat mebentuk ‘Sorga Dunia’ yang menjadi ‘angan-angan’ kita semuanya, benarkah demiukian???
Dari manakah seharusnya dimulai? Kita pandai melaksanakan “pendidikan-pendidikan” demi suatu kemajuan di-tempat dimana kita hidup. Tapi arahnya selalu berbeda dari yang diharapkan. Mengapakah bisa demikian? Kita seharusnya sudah lama melaksaksankan 'Introspeksi' pada diri sendiri di dalam “Mengendalikan Emosi” kita, yang sangat berperan di dalam tingkatan kesadaran bangun.
Mengendalikan “Emosi” tersebut sangat sekali tergantung dari tingkatan “Getaran Frekuensi” yang diolah di dalam peringkat Pust Pikir yang mempunyai “Keseimbangan” telak yang diekspos atau ditimbulkan melalui 'Kesadaran Obyektif' dan 'Kesadaran Subyektif'!!! Di dalam beberapa artikel sebelumnya telah penulis jelaskan yang menyangkut artinya yang 'Hakiki' dari kedua dimensi tersebut.
Hanya mengetahui saja, tapi tidak mendalami pengertianya serta melaksanakan “Praktek”-nya, tidak akan membawakan hasil yang didambakan. Pengawasan diri sendiri di dalam hal ini harus sangat “Ketat” yang dapat dilaksanakan melaui suatu “Disiplin” dan “Konsistensi”. Mendapatkan keberhasilan atau sukses yang istimewa memerlukan: 1. Suatu 'Keinginan' keras dan besar, 2. 'Keyakinan' yang tuntas dan hakiki serta 3. 'Harapan' yang “konkrit” yang sama dengan “Pasti”, tanpa dipengaruhi oleh ‘keraguan dan kebimbangan’.
Dapatkah unsur-unsur ini di-interpretasikan atau di-terjemahkan secara gamblang oleh para pembaca yang budiman? Menurut penyelidikan yang seksama hal yang baru diungkapkan itu tadi memang satu-satunya cara untuk mencapai keberhasilan “Absolut” atau telak. Inilah yang selalu menjadi pondasi dari para cendekiawan yang melaksanakan riset menuju kepada keberhasilan yang “Mantap”.
Dari riset-riset tersebut kini telah diketahui, bahwa dunia sedang menuju kepada “Kerusakan Total”. Panas bumi yang bertambah gawat, “Polusi” yang mencemarkan udara yang diperlukan untuk di-hirup” oleh kita, makin menjadi “Parah”. Hanya dengan kesadaran beberapa gelintir orang yang telah mengetahui hal ini, tidaklah “Cukup” untuk dijadikan pedoman bagaimana “melestarikan” pen-Ciptaan” bumi ini di dalam keseluruhanya.
Sebagian sedang membangun dan sebagian lagi sedang melaksanakan perusakan. Apakah hal ini tidak diwaspadai oleh diri kita sendiri dengan kewaspadaan yang tuntas? Merasa tidak kuasa? Janganlah menimbulkan pengelolaan pikiran seperti itu, karena akibatnya akan pasti fatal.
Berfikir negatif kini dapat di-“netralisir” sehingga yang keluar hanya energi pemikiran yang “Positif” saja dan pasti akan mempengaruhi adanya “Gelembung-gelembung Vibrasi” yang terjadi di dalam “Atmosfir”. Apakah kita semuanya masih meragukan, bahwa gelombang-gelombang “energi” tidak akan mempengaruhi diri kita?
Pengertian seperti itu masih termasuk pikiran di dalam dimensi “Obyektif”, karena dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita seharusnya sudah lama bisa “Keluar” dari pengertian serta persepsi seperti itu. Apakah lalu kita akan menerima terus saja keterbatasan itu? Waspadailah diri sendiri terlebih dahulu sebelum melihat kepada sesama yang lain. Pupuklah kekuatan untuk menjadi panutan dengan sifat “Jujur” yang absolut. Tak dapat tergoyahkan sepanjang masa.
Percayalah, kita akan sungguh mampu menjadi seorang yang “murni” dengan segala “atribut” kemampuan yang dipunyai berkat Ciptaan yang Maha Sempurna dan tiada taranya! Kita semua sudah pasti akan ingin menjadi individu semacam itu untuk pula dapat mempertahankan suatu “gengsi” yang tepat karena ke-“positifanya”.
Demikianlah hendaknya manusia berkembang dan akan dapat melestarikan bentuk dunia dengan jauh lebih baik daripada masa lalu.
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method