HOME | CONTACT US | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM
Magic Brain

Apa Artinya Kesepakatan Hukum Bila Tak Diikuti Bagi Suatu Negara



Berita HOT:

Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.

Kita, penduduk negara "Indonesia" sedang dihadapkan pada suatu masalah besar yang mencakup banyak bidang. Hal itu dinamakan HUKUM dan yang diharapkan dapat memberikan suatu P e n g e w a s a n terhadap apapun dengan bentuk P e n y i m p a n g a n dari suatu kebenaran.

Kebanyakan orang, sejak dahulu kala tak dapat mempertahankan kondisi yang mendukung suatu kebenaran telanjang, yaitu yang dirasakan akan selalu melaksanakan pengungkapan bila terjadi suatu "rekayasa" serta "penyimpangan" dari peristiwa yang bentuknya, bila dilaksanakan secara menyeluruh, menjadi yang dinamakan "persekongkolan".

Itulah risiko bila kita bertindak pada ‘Alam Sadar’, dimana "Otak Bagian Kiri" kita mempunyai peran yang "mendominasi" atau "menonjol". Kemampuan Otak Kiri tersebut sudah nyata selama berabad-abad tidak
dapat ‘menembus’ batas-batas yang berhubungan dengan  R u a n g  dan W a k t u ! Ini karena didasarkan atas suatu kondisi yang dinamakan "tiga dimensional" yang terdiri atas  "Lebar", "Panjang" dan "Tinggi" dan merupakan suatu "R u a n g", bukan begitu teorinya? Kalau berbicara mengenai ‘dimensi’, maka hal yang baru diungkapkan itu merupakan suatu kenyataan "Obyektif".

Waktu yang mempunyai keterbatasan pula, disini dapat dijelaskan, bahwa hal itu menyangkut adanya pengukuran dengan batas detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Siapakah yang melaksanakan penemuan pembagian itu? Bukankah asalnya dari "gelap" dan "terang"? Adalah mereka yang kita sebut ‘cerdik’ dan ‘pandai’ yang akhirnya menjadi ‘cendekiawan’ dan ‘ilmuwan’, bukan?

Kembali kepada suatu bentuk untuk "Mengatur" adanya ukuran yang disepakati dan didasarkan atas adanya tindakan yang ‘melanggar’ suatu "Kebenaran" dan memberikan "sangsi" atas itu, dapat diterima sebagai sesuatu yang sudah konkrit sebagai "Teladan" kebaikan dan membangun, bukan sebaliknya.

Tapi hal ini sudah menjadi suatu kelaziman, bahwa harus disesuaikan dengan perkembangan baru yang menyangkut cara-cara hidup. Dan karena setiap manusia mempunyai keterbatasan cara membentuk "Arus Pikiran" dan mempertahankanya karena diikuti oleh "Kebanyakan Orang" (lingkungan), maka keterampilan dari yang sangat cerdas sering kali tidak mempunyai pengaruh, sekalipun benar, karena ‘suara terbanyak’ akan selalu dijadikan pedoman dari suatu "Keputusan".

Dan bila keputusan itu pada hakekatnya tidak sesuai dengan kebenaran yang ‘telanjang’, maka akan terjadi ‘konflik’ pemikiran, dimana yang mempunyai kekuasaan akan menyelesaikanya. Benarkah tindakan seperti itu?
Manusia sampai dengan ‘momen’ ini tidak pernah mampu untuk "mempengaruh"-kan suatu pendapat dan pendirian tanpa tergantung dari sarana lingkungan. Kenyataanya selalu demikian. Mengapakah bisa terjadi hal seperti itu?

Dipandang dari sudut ‘obyektif’ kita dibelajari untuk selalu melaksanakan pilihan, analisa, seleksi alternatif dengan cara ‘logika’ dan bila bisa, mengadakan ‘verifikasi’ dari segala bentuk informasi yang kita terima. Dengan banyaknya informasi yang bisa saja membingungkan, maka terasa sekali adanya suatu ‘keterbatasan’.

Kemudian, yang telah dirangkum dengan cermat, suatu ketika tidak mempunyai hasil yang diharapkan, sehingga harus diulang kembali pada informasi yang mendasar untuk melaksanakan keputusan……Dan begitulah terjadi pengulangan-pengulangan yang menjadi ciri di dalam menentukan suatu langkah. Bisakah di dalam masa mendatang melalui ‘system penemuan baru’ hal-hal yang diungkapkan tadi dapat dihindari dan terubahkan?

Penulis menyatakan B i s a   S e k a l i, karena pada masa depan melalui penemuan baru tersebut, kita akan "Berperan" dengan "Otak Bagian Kanan" yang akan menuntun kita kearah suatu  "K e p e k a a n" intuitif yang merasakan bahwa apapun yang tertimbul pada "dimensi Sybyektif" merupakan "Gelembung Vibrasi" yang  telah menjadikan segala bentuk "informasi dan peristiwa" yang <Asli> untuk digunakan, diperkembangkan dan mendukung yang ditangkap tanpa perlu melaksanakan apapun yang telah disebut sebelum ini.

Rasanya hal itu belum bisa diterima secara "Umum" oleh kebanyakan diantara kita. Hal ini sering dicurigai yang sebenarnya sudah tidak tepat lagi. Dalam hal ini ternyata kita akan mempunyai kemunduran dan bukan kemajuan.

H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: