
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
indosiar.com - Bila kita memperbincangkan soal kesepakatan aturan serta ketentuan yang membentuk suatu pondasi dinamakan "Hukum", maka pada hakekatnya yang terlibat di dalam pembuatanya haruslah orang-orang yang dasar 'Jiwa'-nya mempunyai konotasi yang selalu 'baku Positif'.
Tanpa bentuk kualitas seperti itu, maka suatu hukum bagi suatu keadilan tuntas tak akan pernah dapat diandalkan. Jiwa manusia dimana terdapat 'spirit' yang melaksanakan pengelolaan cetusan bentuk pikiran yang tak dikendalikan akan merusak 'M u t u' dari bentuk pikiran tersebut dan akan melaksanakan hal-hal yang konotasinya pasti negatif'.
Mengapakah hal itu dapat terjadi? Ini merupakan suatu pendalaman yang tuntas yang menyangkut 'skala bentuk' atau struktur manusia yang pada hakekatnya mempunyai suatu kekuatan tuntas untuk melaksanakan pengawasan seksama terhadap cetusan-cetusan pikiran yang dikendalikan oleh 'Emosi' yang 'L i a r' tanpa dapat dikendalikan sama sekali.
Penjelasan ini memang akan menggugah perasaan keinginan tahu sampai dimana kita dapat melaksanakan pengawasan pada emosi tersebut. Seperti pernah diuaraikan sebelum ini suatu kondisi tertentu seperti adanya 'frustarasi' yang membengkak menjadi 'stres' adalah penyebab utama yang dapat melaksanakan hal itu, sehingga manusia di dalam kondisi seperti itu tidak mampu lagi mengadakan 'K o n t r o l' atau pengawasan terhadap gejolak semacam ini.
Di dalam perjalanan hidup yang menghadapi sekian banyak peristiwa serta kondisi kejadian yang melanda diri manusia yang berbentuk negatif maupun positif akan mempunyai dampak yang sangat menentukan pada 'S i k a p' kita terhadap hal itu. Bagaimana melaksanakan penanggulangan yang menyangkut kejadian-kejadian seperti yang hanya dapat ditepis bila kita sudah 'siap' di dalam kemampuan melawanya. Kesiapan seperti itu harus mendapatkan perhatian mendalam atau tuntas dari diri sendiri melalui suatu 'pelatihan' yang menyangkut kemampuan yang dinamakan 'subyektif'.
Dan disinilah sering terdapat kesimpang-siuran didalam mempersepsikan apa itu bidang 'subyektif' dan 'obyektif'. Haruslah diketahui bahwa yang disebut obyektif adalah kenyataan-kenyataan yang dapat ditangkap melalui indra-indra fisik melalui 'Pantulan Cahaya' pada indra-indra tersebut, dapatkah hal ini dimengerti benar? Kita telah dianugerahi juga dengan indra-indra yang 'Non-fisik' dan dapat disebut indra-indra yang berfungsi di dalam kondisi subyektif. Di dalam alam subyektif indra-indra 'fisik' tidak dapat berfungsi dengan alasan, bahwa getaran-getaran yang terdapat di dalam alam subyektif tersebut mempunyai frekuensi yang berbeda yang tak dapat di-antisipasi oleh indra yang fisik, karena 'Pantulan' tak terdapat pada dimensi ini, bukan? Memang demikianlah adanya 'formula' yang dibentuk oleh Alam.
Manusia yang boleh dikatakan telah mempunyai kemampuan 'subyektif' pada dasarnya akan selalu merasa dirinya diatas mereka yang belum mempunyai kemampuan seperti itu. Tapi disini sangat diperlukan sikap 'rendah diri' atau 'low profile', yang ditimbulkan oleh kondisi ALPHA OPTIMAL pada 10 Hertz tersebut! Penggunaan kemampuan 'subyektif' menurut penyelidikan seksama dari mereka yang berkecimpung di dalam hal ini selalu didasarkan atas melaksanakan kebaikan-kebaikan dan bukan hal 'merusak' apapun yang telah di-CIPTA-kan oleh YME. Hal ini bahkan ada saja orang-orang yang menyangsikan hal seperti itu. Awasilah hal ini dengan seksama.
Bila terjadi pemikiran seperti itu, maka bentuk cetusan pikiran merupakan kondisi yang penuh isian informasi 'obyektif' dimana kebalikanya tidak dikenal sama sekali. Atau di dalam banyak hal tak mau dikenal dengan sengaja karena merupakan ketakutan dan ke-engganan terhadap hal yang belum dibiasakan.
Bila diteliti kembali dengan serius, maka bentuk yang dibuat oleh pikiran kita melalui 'imajinasi' dan bukan 'visualisasi' akan menuruti apa yang 'dibentuk' sebagai hasil dari suatu 'pengelolaan' pikiran yang penuh dengan pengaruh dari sifat 'emosi' yang sedang membentuk pengelolaan dengan hasil perwujudanya. Memang demikianlah kondisi kejadianya seperti misalnya bentuk yang menakutkan atau sebaliknya. Perwujudan seperti itu terjadi dengan adanya 'vibrasi' yang berbentuk 'gelembung' dan tak dapat lagi dihilangkan serta di-'cegah' oleh kita. Gelembung vibrasi seperti itu akan melaksanakan penyatuan dengan gelembung-gelembung yang frekuensinya serupa yang telah berada pada bilangan 'atmosfir' dan diluar itu.
Pemahaman mengenai hal ini tidak akan dapat dirasakan bila kondisi pemikiran kita dibatasi oleh adanya ketentuan-ketentuan yang telah dirumuskan sebagai sesuatu yang 'harus' dipercaya serta difahami dan tak diharapkan mempunyai suatu persepsi yang berbeda. Pembatasan-pembatasan seperti inilah yang menutup kemumgkinan untuk bebas melaksanakan penangkapan ataupun persepsi dari yang diluar pembatasan tersebut.
Hal ini mirip dengan kondisi melaksanakan 'pencucian Otak' apapun bentuknya yang menyerupai 'hipnosis'. Meng-hipnos seseorang biasanya yang mempunyai kondisi ke-Jiwaan lemah, dan akan menuruti apapun yang dikehendaki oleh seorang yang meng-hipnosnya. Banyak contoh-contoh yang sering ditujukan untuk pertunjukan dimana para penonton akan mengaguminya.
Di dalam banyak praktek ternyata bahwa tidak setiap orang dapat di-hipnosis. Hal ini menunjukan bahwa hal hipnosis itu mempunyai keterbatasan pengaruh. Dan disitu pula tidak dapat dicegah tujuanya yang bisa berdampak 'negatif' atau 'positif' yang sangat tergantung dari 'Mutu ke-Jiwaan seseorang. Kemudian kemampuan-kemampuan untuk itu tidak menggunakan unsur yang dinamakan kondisi 'Alpha Optimal'.
Kemampuan untuk dapat mengendalikan hal 'Alpha Optimal' tadi, tidak dapat dipermainkan bila tujuanya 'negatif', akan terjadi suatu penutupan kearah penggunaanya seperti suatu 'kontak' atau 'switch' yang menutup dengan cara otomatis. Hal ini menandakan bahwa kondisi 'Nirsadar' atau bawah sadar kita telah ter-CIPTA untuk kondisi 'H a n y a P o s i t i f' saja dan tidak akan berfungsi bila digunakan untuk tujuan 'Negatif'.
Bila didalam hal ini masih belum terdapat suatu 'kepercyaan' tuntas, maka hal itu merupakan kenyataan bahwa fungsi 'Otak Bagian Kir'i masih jauh jangkauanya dari 'Otak Bagian Kanan'! Kebingungan sering kali terjadi di dalam fungsi Otak Bagian Kiri yang merupakan hal yang menandakan kelemahan di dalam pemeliharaan kondisi yang 'Positif'!
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System