* Oleh: H.Rd. Lasmono Dyar
Memang para pembaca yang budiman, yang dikatakan tadi begitu dahsyat sifatnya. Manusia yang sudah terisikan dengan kekuatan E m o s I seperti itu, seakan menjadi singa sehingga bisa memilih antara lari atau menghindar terlebih dahulu atau bila merasa lebih kuat dari lawan akan melawanya dengan dahsyat.
Hal ini sering terjadi di dalam kehidupan di hutan. Dimana manusia tergantung dari diri sendiri pada suatu saat tertentu. Banyak yang tak mengetahui hal itu dan merasakan, bahwa bila terjadi hal itu, memang sudah termasuk pemberian dari -nya. Bukan begitu kita menganggapnya? Inilah sudah termasuk Ciptaan yang yang tak dapat kita abaikan lagi karena telah banyak diselidiki.
Didalam suatu zaman atau peran budaya yang lebih tinggi seperti sekarang ini, dimana kekerasan hutan tak lagi didapat, maka kita sudah tak terlatih lagi untuk menimbulkan respon seperti tadi. Tapi kenyataanya adalah bahwa serangan kehidupan dimana kita harus mempertahankanya, ternyata jauh lebih dahsyat dan tak dapat begitu saja diselesaikan dengan respon seperti itu. Hampir setiap hari kita dihadapkan kepada tekanan hidup yang tak kunjung selesai.
Kita membutuhkan suatu system yang lebih canggih lagi, bukan? Sesuai dengan kemajuan zaman atau -nya. Bukan lagi merupakan sistem dimana bagian fisik kita akan banyak mempunyai peran, tapi harus lebih banyak merupakan kelihaian penggunaan . Kelihaian inilah yang mengatur emosi dengan tujuan yang maupun kebalikanya, yaitu . Masihkah diantaar para pembaca yang mempunyai penjelasan lain? Dapat langsung menghubungi penulis untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam.
Penulis sendiri dari kecil mempunyai emosi yang keras, sering berkelahi dan dinamakan orang kecil taoi cabe-rawit. Berani melawan siapapun yang hendak menganggu, baik itu lebih besar atau lebih kuat darinya. Bersyukurlah bahwa per-awakan kecil hingga saat terkini masih selamat dari gejala kekerasan dunia, baik diwaktu sedang bertempur maupun diluar itu.
Umur telah juga mengembangkan suatu kekuatan mental yang mengakibatkan keluarga suka minta pertolongan di dalam hal yang tak sanggup lagi dengan cara fisik. Seakan penulis menjadi seorang para-normal. Apapun tanggapanya, asal tidak melaksanakan penganiayaan, penulis terima dengan pikiran terbuka dan selalu mengarahkan kepada suatu tujuan yang lebih baik dan selalu adanya.
Didalam menolong seorang, ada suatu persyaratan Alami yang sering dilupakan. Bila seorang ditolong terus menerus tanpa diberi kesempatan untuk bisa , maka hal itu dikatakan mentergantungkan seseorang dari kita. Misi kita adalah untuk mengangkat derajat orang lemah menjadi kuat dan mampu menanggulangi sendiri kesulitanya. Bila hal itu tidak dilaksankan, maka pertolongan akan berubah menjadi , bukan?
Bila kini kita renungkan lebih dalam lagi, mengapa didunia ini sering kali terjadi pikiran-pikiran yang tidak serasi, sehingga mencari penyelesaian yang cepat atau instan, maka ingatlah kepada unsur e m o s i ini. Oleh karena itu, sebagai seorang yang diberi kesempatan untuk memimpin orang lain sesuai kebijakanya, maka ketahuilah, bahwa banyak diantara kita akan selalu tergelincir didalam melaksanakan kandungan atau tatanan emosi tersebut.
Hal inilah yang menjadi penyebab utama dari suatu perlawanan emosional, karena seorang manusia tidak dapat terlepas dari kandungan atau tatanan -nya! Dan seorang lagi yang diberi wewenang untuk menjadi pemimpin dari struktur psikhologis manusia itu, harus dapat menyesuaikan diri dengan bentuk struktur setiap manusia yang bekerja dibawahnya. Tanpa pengetahuan mendalam mengenai hal tersebut akan selalu menimbulkan masalah, karena tidak dapat dengan tuntas menanggapi unsur seperti itu. Mungkin kini pengertian pembaca yang awam akan hal psikhologi dan kehidupan emosional manusia baru dapat mengetahui akan hal ini.
Dan juga akan memahami, bahw bentuk selama ini masih terpengaruhi dengan kendala penggunaan e m o s i yang kurang pada tempatnya. Masih saja terumbang-ambing oleh kekuatan dahsyatnya sendiri dan tak mampu untuk mengawasi gejolaknya!!!
Bukankah arti dunia itu adalah: ? Diantara kita akan ada pendapat, bahwa mereka telah mendapatkan nikmat dari dunia ini. Mereka itu selalu mempunyai arogansi dan tidak akan mengakui bahwa kelimpahan kekayaan itu TIDAK bakal menjamin adanya tuntas, karena selalu masih ada saja masalah-masalah yang tetap menghampiri mereka.
Inilah kerjanya HTBA itu para pembaca, dan hal itu tidak akan memandang bulu, baik bagi yang miskin maupun yang terlalu kaya. Lebih baik kita meninjau kembali apa yang dituju didalam kehidupan ini. Apakah itu memikirkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya? Apakah itu menjadi suatu tujuan yang dikatakn ? Apakah memikirkan kesosialan dan selalu siap membantu di dalam membentuk dunia menuju kepada kondisi seperti ‘Sorga’?
Ini semua kurang dapat diperhatikan oleh mereka yang sedang berada diatas yang dikatakan a n g i n . Penulis harapkan bahwa apa yang sedang diungkapkan ini menjadi suatu penjelasan yang meraih segala unsure sumber kehidupan. Karena kehidupan itu sendiri tidak dapat terlepas dari kandungan atau tatanan e m o s i yang memang merupakan dasar kehidupan manusia yang dapat memajukan atau merusak. Demikianlah Kenyataanya.(tamat/Ijs)
Hubungi Kursus Silva : klik di sini