
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
indosiar.com - Apakah hal itu termasuk sesuatu yang seharusnya difahami oleh semua makhluk manusia tanpa hambatan apapun? Hal yang akan penulis kupas ini, memang tidak biasa di-alami oleh kebanyakan diantara kita. Itu semua menjadi dasar dari suatu "Pendidikan Awal" yang kita peroleh dari orang tua atau 'bapak-ibu' kita yang pada dasarnya akan selalu menyayangi diri kita sejak di-lahir-kan.
Tetapi ternyata tidak semua 'generasi penerus' telah mengalami kesayangan yang mendalam tersebut. Ada yang tak diinginkan datang di-'dunia' ini, berkat 'kecelakaan biologis' yang dialami oleh para muda-mudi yang tanpa dapat 'mengendalikan gairah'-nya seakan menjadi "Buta" akan konsekwensi dari suatu hubungan yang 'Suci' dari dua insan berbeda kelamin.
Kesemuanya itu pada hakekat-nya dapat di-atur dan di-awasi dengan sangat ketat sekali. Sudah tentu banyak diantara pembaca yang sebelum membaca pengupasan ini dan membacanya sampai titik terakhir, mempunyai
pendapat yang berbeda dengan penulis. Mengapa ada perbedaan pendapat seperti itu? Disinlah akan penulis mencoba untuk menjelaskanya dengan tuntas.
Akan tetapi pengupasan seperti ini harus ditangkap dengan suatu "Jiwa" yang bebas dari yang dinamakan 'STRES'. Akan jauh lebih mudah untuk menerimanya dan akan membuka suatu pemikiran yang 'cerah', tanpa banyak 'analisa', 'ke-curigaan', 'salah tangkap', 'mencari-cari alternatif', 'keraguan' dan masih banyak sifat-sifat yang dapat dikemukakan dengan suatu 'konotasi' yang tidak baik atau 'negatif'.
Mempunyai pikiran yang Cerah menurut suatu penyelidikan 'ilmiah' sangat tergantung dari yang dinamakan 'kondisi ALPHA OPTIMAL'. Apa itu dan bagaimana dapat dikembangkan merupakan suatu penjelasan yang
agak panjang, memang. Dan tidak semua orang akan bisa mengertinya tanpa diganggu oleh suatu 'Persepsi' yang kebenaranya masih dapat dipertanyakan mengenai pembentukanya serta 'sumber'-nya.
Kita yang belum memahami hal yang diungkapkan diatas itu, belumlah mempunyai ke-'sempurnaan' di dalam penangkapan informasi, karena daya penerimaanya belum 'Lengkap'. Apa yang dinamakan 'lengkap' itu?
Para pembaca yang budiman, seperti yang telah dijelaskan tadi, dengan penggunaan hanya kemampuan "Otak Bagian KIRI" saja, kita mempunyai suatu keterbatasan yang menyangkut Ruang dan Waktu. Jadi, kita akan berfungsi dengan hanya 'Separuh' dari kelengkapan kita sebagai makhluk Ciptaan Maha Sempurna oleh "Yang Maha Kuasa". Dapatkah hal ini di-akui dengan telak?
Tak ada makhluk manusia, apapun bentuknya, yang dapat mengingkari hal itu, bukan? Akan tetapi, mengapakah kita masih saja belum 'ingin' mengakui hal seperti itu? Dan bila sudah dapat menerimanya, ada lagi sifat yang sangat merugikan kita, yaitu sifat r a g u yang akan selalu menghambat di dalam mencapai suatu kemajuan optimal.
Itu semua adalah karena kita sudah di-'biasa'-kan dengan suatu performa penindakan dari bentuk arus pikiran yang terkelola di dalam neuron-neuron Otak kita. Tidak diketahui, bahwa pengelolaan itu memerlukan kewaspadaan dari "pengendalian" cetusan pikiran tadi. Berapa banyak orang yang mendasarkan pengungkapan arus pikiran itu
tanpa tergantung dari suatu 'analisa', 'seleksi alternatif', 'perhitungan' serta mendapatkan 'bukti pembenaran'-nya yang merupakan suatu "verifikasi" dari bentuk informasi?
Disinilah kita merasakan keterbatasanya itu, bukan demikian kenyataanya?
Ketahuilah, bahwa pada 'bawah sadar' yang berada pada 'dimensi subyektif', informasi tanpa lika-liku itu dapat memberikan kita bentuk informasi yang t i d a k di-'pengaruhi' oleh hal-hal yang terjadi pada 'dimensi obyektif' tadi, informasi yang ditangkap melalui 'indra-indra Fisik' yang dibatasi oleh ruang dan waktu!
Bila kita sudah mempunyai kemampuan untuk menggunakan atau meng-'fungsi'-kan 'Otak Bagian Kanan', maka kita akan keluar dari keterbatasan tadi dan akan langsung mendapatkan hubungan dengan apapun yang tak pernah di-'pelintir' atau direkayasa sebagai suatu kebenaran. Hal tersebut terakhir ini, memang sangat 'keras' serta 'menyentuh' sekali bila kita tidak 'siap' menerimanya. Bila kita siap, maka hal itu tidak merupakan hal yang keras lagi yang datang atau menyentuh diri kita.
Di dalam menanggulangi perubahan pada diri kita, diperlukan suatu pikiran 'terbuka' tanpa ke-curigaan yang sering mamacu ke-raguan dan bisa menjadi suatu performa yang merugikan diri kita. Apakah merugi itu termasuk yang 'positif'? Tidak demikian bukan? Kita seharusnya mencari banyak keuntungan, baik didalam kebergaulan, keberhasilan dan pelestarian segala tindakan kita yang Positif.
Apakah menjadi hanya bersifat positif saja termasuk suatu kelemahan? Janganlah mempunyai cetusan pikiran seperti itu. Ke-Positifan mempunyai arti yang sangat 'kuat' bila diwaspadai dan dikendalikan
dengan tuntas. Sesuatu yang negatif sudah pasti tak dapat mempertahankan ke-langgengan. Belenggu seperti itu harus dilawan dan di-'dobrak' melalui kekuatan yang ada pada Bagian "Bawah Sadar" atau
"Nirsadar" untuk selama kita Hidup !!! Banyak sekali berita-berita di 'internet' kini mengemukakan suatu cara "perubahan Diri". Berhati-hatilah di dalam menangkap hal itu, karena banyak sistim yang telah di-'modifikasi' atau diubah untuk penyesuaian pada suatu lingkungan tertentu.
Apapun yang telah di-ubah, akan kehilangan FOKUS sistimnya, jadi nyatanya tidak 'asli' lagi. Ketahuilah perbedaan telak antara yang 'Klasik' dan yang 'Modern'. Kita semua akan mengalami hal itu. Mengapakah hal yang klasik itu selalu akan mengatasi yang modern? Yang modern banyak mendasarkan pembentukanya atas dasar pengubahan (innovasi) yang jarang didasarkan atas penyelidikan ilmiah yang klasik. Mengapakah demikian? Karena investasinya akan menjadi sangat tinggi dengan mengulang kembali apa yang telah menjadi dasar dari suatu penyelidikan klasik
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System
.