
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Para pembaca yang cerdas dan penuh dedikasi yang menyangkut keselamatan ‘Negara Indonesia (Save Our Nation). Pada saat-saat kita sedang membina suatu system ketata negaraan dengan dasar yang secara ‘keren’ dinamakan “Demokrasi”, terjadi banyak masalah yang sebenarnya tidak seharusnya ada.
Kebebasan mengeluarkan pendapat dengan cara saling menghormati dan pemberian kesempatan untuk menjelaskan ‘jalan pikiran masing-masing’, sebenarnya telah ada dinegara kita sejak masa sebelum terjajah.
Yang berperan di dalam menentukan batas-batas kebebasan ini hendaknya diatur oleh permufakatan serta kesepakatan bersama sampai dimana kita “Pantas” memberikan ‘ukuran nyata’ akan batas-batas , serta untuk menjaga adanya tindakan-tindakan yang mengarah kepada ”Anarkhi”.
Emosi merupakan suatu kekuatan yang banyak sekali diantara kita dapat disangka serta dirasakan sebagai dorongan yang lebih banyak “merusak” daripada “membangun”. Dan hal ini kurang dapat diperhatikan dengan tuntas, karena kita tidak pernah belajar dengan telak untuk mengamati ‘ciri-ciri’ emosional yang dapat diarahkan melalui “netrakisasi” untuk tujuan yang positif, bukan demikian selama ini?
Bila ada diantara kita yang tidak sefaham dengan pernyataan ini, maka sudah jelas bahwa individu-individu seperti itu tidak memahami adanya kekuatan emosi di dalam diri masing-masing. Kemudian tidak mempunyai ‘persepsi’ yang telak akan hal itu. Emosi yang menjadi pendorong kearah ‘negatif’ tidak dapat dimasukan hal yang membangun. Kondisinya akan selalu merugikan serta “merusak” atau negatif.
Suatu contoh misalnya, bila kita terkena dorongan emosi sehingga menjadi , maka pertanyakan pada diri sendiri apakah ‘keuntungan’ yang didapat dari ke-marahan tersebut. Apakah dengan demikian kita membangun ‘kesehatan’? Disukaikah kita oleh lingkungan di dalam kondisi seperti itu? Bukankah dengan demikian kita telah, bagaimana pun, menganiaya seseorang?
Kemudian, dapatkah kita dengan telak “Mengendalikan” kemarahan itu yang bila tidak, akan menjadi-jadi dan dapat menimbulkan ‘mata gelap’? Ditinjau dari kesehatan, apakah lalu kondisi membangun ‘imunitas’ tubuh akan berlangsaung dengan sempurna? Atau terhenti karena ‘emosi; itu pasti akan menimbulkan “Stres”?.
Pikirkanlah masak-masak, bila suatu ketika kita diprovokasi dan akan menimbulkan gejala dorongan emosi yang menyebabkan kemarahan kita. Hal ini merupakan suatu hal yang bisa ditanggapi kecil atau ringan, tapi dapat melampaui batas yang tak terduga, bukan begitu sering terjadi? Seorang yang mampu ‘mengalihkan’ dorangan emosi negatif dengan termasuk mereka yang berke-“Imanan” tinggi. Dan hal ini dapat di-‘pelajari’ dengan tuntas, bila memang dapat dilaksanakan serta memperhatikan kemajuan tingkah-laku manusia ke arah .
Pengakuan akan hal itu tidak selamanya memberikan rasa ‘nyaman’ bagi mereka yang berkepentingan. Tidak akan diakuinya secara ‘rela’ karena mengenai -nya, bukan? Kita ketahui bahwa masyarakat kita tidak akan pernah ‘rela’ untuk mengakui sesuatu “kesalahan”, kekurangan atau perbuatan yang melanggar moral maupun etika.
Mendidik untuk menempatkan pada proporsi yang benar, tidak pernah dilaksanakan pada waktu dini, sedang kita mengalami pendidikan awal. Inilah kekurangan-kekurangan yang seharusnya kita akui dan perhatikan sehingga generasi penerus menjadi orang-orang yang cara pandanganya akan berbeda dengan kaum tua.
Pendidkan memang sangat rumit, sensitif dan caranya harus mengindahkan ‘faktor-faktor’ tertentu yang bagi setiap insan mempunyai perbedaan yang telak, karena menyangkut hal turunan dan lainya. Biasanya setelah kejadian marah tersebut, lalu timbul rasa ‘menyesal’, tapi cetusan marah terlanjur dikelurkan dan tak dapat ditarik kembali. Bagi yang menerimanya akan selalu tinggal efeknya.
Pada hakekatnya hendaknya kita melaksanakan pendidikan jiwa awal dari anak-anak yang kita sayangi dengan penuh perhatian serta dipantau selama mungkin untuk mengetahui keberhasilanya. Kelengketan pendidikan letakanya pada banyak pengulangan serta implementasi pemahaman tuntas yang sengaja ditrapkan di dalam memupuk kebiasaan yang boleh dikatakan juga menjadi salah satu soko guru di dalam suatu .
Hal ini sangat diperlukan didalam kelanjutan perkembangan perjalanan hidup yang “Mantap” yang penuh dengan hal “Positif” yang dengan sendirinya akan menolak hal-hal yang negatif berupa ‘provokasi’ suatu perubahan dari yang sudah mantap kepada yang belum mantap.
Bila unsur-unsur ini kita perhatikan dengan seksama, maka dapat dipastikan, bahwa pertumbuhan perkembangan negara akan mengarah kepada manusia Indonesia yang berjiwa, yang menjadi ‘pondasi’ suatu bentuk negara yang tidak bakal mudah terkena serta oleh kondisi diluar negara tersebut!
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method