
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Bila kita perhatikan benar dan dengan sendirinya men-'catat' setiap peristiwa yang kita anggap tidak patut dilaksanakan oleh orang, siapa saja pelaksananya, maka tidak heran bahwa 'persepsi' yang berkembang sebagai, yang dinamakan suatu 'cobaan' yang menimpa seseorang, tidak lain adalah karena perbuatan serta tindakan orang itu sendiri.
Banyak yang masih beranggapan bahwa bila terjadi suatu tindakan 'negatif' dengan bentuk apapun yang kita namakan 'aksi', maka akan terjadi suatu 're-aksi' berbentuk 'logika', bukan begitu pemahamanya? Ke-'Nyata'-anya adalah, bila aksinya 'Negatif', maka 'reaksi'-nya juga akan berbentuk serupa atau negatif juga.
Pandangan serta tanggapan manusia pada hakekatnya masih pada taraf 'terbatas' dan pengukuranyapun akan sesuai dengan itu. Tapi 'dampak' dari suatu tindakan negatif nyatanya bisa meluas dan tak dibatasi di dalam kondisi 'Obyektif'. Begitu pula 'reaksi'-nya akan selalu sesuai dengan inti dari tindakan negatif tadi dan sudah nyata juga bahwa akan terjadi bentuk yang sepadan.
Hal ini selama berabad-abad tidak pernah diperhatikan oleh kebanyakan manusia. Lagi pula hal itu ditanggapinya dengan enteng, karena membalikan tindakan tersebut dengan suatu pendapat, bahwa apapun yang diperbuat manusia akan di-'Maaf'-kan oleh Sang Pen-Cipta sekalian Alam.
Karena tanggapan seperti itu membawakan suatu kebiasaan dan kepercayaan, maka kita sudah terbiasa hidup dengan kebiasaan tersebut yang tidak ada jaminanya bahwa memang demikian kenyataanya. Ternyata bahwa kehidupan ini sudah ada keteraturan dan ketentuan 'Alami' dengan pengecualian pada manusia yang 'Bebas' melaksanakan keinginanya dengan 'Free Will' melalui cetusan pembentukan pengelolaan arus pikiran beserta tindakanya kemudian.
Dan ternyata pula bahwa bila terjadi suatu tindakan, baik itu negatif ataupun positif, akan membentuk yang dinamakan 'Gelembung Vibrasi' atau gelembung satuan gelombang yang lalu merupakan suatu 'energi' yang terjadi pada 'atmosfir'. Kita telah mengetahui kini, bahwa kita hidup dipengharuhi lingkungan dan bentuk 'Energi', yang sebelumnya belum dapat dimengerti dengan jelas.
Teknologi penyelidikan kini telah demikian 'Luas'- serta dalam dan yang mencakup pula pada konteks 'Fisik' maupun yang 'Non-Fisik'. Manusia kini dapat mengerti banyak dari 'Teka-Teki Kehidupan' yang selayaknya dibuka oleh bentuk 'Ke-Sempurnaan' yang di-Cipta-kan oleh Yang Maha Berkuasa Alam semesta. Bila hal itu tidak difahami serta diteruskan berupa peng-Amalan, maka akan hanya dapat dimengerti oleh sebagian kecil kita. Hal inipun akan memberikan dampak yang dibatasi oleh kondisi ruang dan waktu.
Dan disinipun banyak terjadi penyalah gunaan dari penemuan yang lalu di-'komersil'-kan dengan tujuan menguntungkan sekelompok penyelidik dan para pelaksana yang lalu akan menindakan penetrapan kemampuanya kepada yang 'kurang mampu'. Hal yang 'tidak wajar' ini akan pasti bertentangan dengan Hukum Aksi dan Re-aksi atau 'Hukum Timbal-Balik Alam' (HTBA) dan akan menindakan yang dipahami dengan bentuk suatu 'cobaan' yang diuraikan tadi.
Sudah waktunya kita harus membuka lebar Alam Pikiran kita pada penemuan-penemuan pada konteks dimensi 'Subyektif' yang akan membuka jalan keluar dari keterbatasanya dimensi 'Obyektif' dimana kita telah terdidik oleh pemahaman kondisinya tersebut.
Oleh karena itu, pendidikan 'Ulang' sangat diperlukan bagi siapa saja untuk saling melaksanakan 'pengawasan' kepada sesama yang masih rentan sekali terhadap keterbatasan dari dimensi 'Obyektif' tersebut. Hal ini seperti merupakan mesin 'Deteksi X-Ray' (sinar X) yang dapat mendeteksi segala sesuatu yang disembunyikan menembus penutupan 'fisik'. Alangkah hebatnya lalu kita dapat mendeteksi adanya pikiran-pikran sesat serta 'menyimpang' pada diri seseorang yang ingin disembunyikan.
Dan bukan mendeteksi saja sesuatu yang negatif, kita akan juga mampu menghilangkan pengaruh negatif tersebut dengan pengaruh 'positif' sehingga dapat menolong seseorang untuk tidak melanggar ketentuan dan keteraturan dari HTBA. Bentuk seperti itu sudah PASTI mendapatkan perhatian dari Yang Maha Esa, bukan demikian kenyataanya? Inginkah kini para pembaca mempunyai kemampuan seperti itu?
Renungkanlah melalui 'Meditasi' yang dalam (Alpha Optimal State) dan kita semua akan menjadi makhluk 'Sempurna' sesuai dengan Ciptaan-NYA, bukan? Masih sulit?.....Tidak....yang terpenting adalah mempunyai hasrat tinggi, kepercayaan hakiki dan harapan pasti untuk mampu membangun suatu ke-'Positifan Tuntas' pada neuron-neuron otak untuk 'sisa hidup' kita. Amin. Demikian Kenyataanya.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System