
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Sebelum penulis mengungkapkan apa yang termaktub di dalam judul artikel ini, mohon dapat dimaafkan bila menyinggung perasaan diantara para pembaca yang mungkin terkena ulasan kebenaran ini.
Sebagai 'makhluk Manusia' yang telah ter-Ciptakan secara SEMPURNA di bumi oleh Yang ber-'Kuasa Absolut' pada Jagad Raya ini, sudah selayaknya-lah kita memberikan suatu 'perhatian khusus' pada ketidak mampuan kebanyakan diantara kita, terutama yang berada pada tingkatan 'Atas' serta dipercayai oleh 'Khalayak Ramai' untuk di dalam kemimpinanya mendapatkan penyelesaian JITU pada berbagai masalah serta untuk menyikapi suatu tabiat yang sudah 'menyimpang' dari kondisi ke-SEMPURNAAN tersebut.
Bila diperhatikan keadaan sekeliling kita yang demikian luasnya dan berkembang dengan sempurna secara 'Alamiah' dengan pendukungan disana-sini oleh adanya kita, Manusia, yang diharapakan akan menjaga ke-'Lestarian' serta perwujudan dari Ciptaan tersebut yang sifatnya adalah mem-BANGUN lingkungan dan bukan me-RUSAK-nya maka itulah yang harus lebih diperhatikan demi pe-LESTARIAN CIPTAAN YME.
Kondisi dan tindakan 'perusakan' ini memang merupakan 'Penyimpangan' yang selalu terjadi di dalam suatu perkembangan, bila tujuanya tidak sesuai dengan suatu penimbulan 'Emosi Pikiran' yang seakan menjadi hal yang di-'Benar'-kan merupakan hal yang memberikan suatu ke-'Puas'-an bagi yang mencetuskan bentuk perubahan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan.
Kebenaran yang disebut 'Absolut' merupakan sesuatu yang pada hakekatnya berdasarkan adanya 'Fakta Subyektif' yang mendukungnya. Bila seseorang mendapat informasi yang didasarkan atas formula tadi, maka bisa saja dirasakan sebagai hal yang memberikan suatu 'tamparan' pada muka orang yang menerima informasi tersebut. Hal itu pada dasarnya tak dapat disampaikan bila seseorang belum 'Siap' untuk menerimanya.
Kapankah seorang bisa ditanggapi sebagai telah 'Siap' menerima suatu informasi yang berdasarkan atas yang bisa dinamakan 'Kebenaran Asli'? Banyak pendapat dan persepsi yang menyangkut hal ini. Kita pada dasarnya harus sudah mengetahui melalui suatu 'Kepekaan Intuitif' bahwa mengucapakan atau mengemukakan suatu 'Kebenaran Asli' itu bisa dikatakan 'sudah waktu'-nya untuk diungkapkan.
Tanpa memperhitungkan hal ini, akan bisa mengakibatkan hal yang tak terduga semula. Antara lain justru kitalah yang bisa kena pernyataan melaksanakan hal 'Fitnah'. Padahal yang diutarakan tersebut merupakan suatu 'ke-Nyata'-an subyektif. Tanpa 'Jiwa' yang mantap dengan 'Mutu' yang memadani, banyak orang yang mencari-cari alasan menghindarkan diri dari kenyataan tersebut.
Lika-liku dari persepsi yang dapat dijadikan alasan menghindar itu sering kali kita dapatkan, tapi tidak diperhatikan dengan seksama sehingga kejadianya akan lewat begitu saja dan tak menjadi sesuatu yang seharusnya diselesaikan dengan tepat. Kondisi seperti ini justru akan menambahkan persoalan yang sebetulnya sudah harus dapat selesai. Penumpukan 'masalah' seperti itu akan menjadikan hal yang 'sederhana' menjadi 'sulit', bukan? Kemudian akan menimbulkan masalah yang seharusnya 'tidak ada'!
Seperti inilah lalu akan menambah bentuk 'masalah' yang seakan seperti benang kusut yang basah lagi. Menguraikanya akan memerlukan penelitian ulang dari sumber terjadinya suatu 'kemelut' atau benang kusut tersebut. Lagi pula apakah penguraian itu akan menemukan sumbernya? Belum tentu, bila ditengah jalan terjadi penyimpangan-penyimpangan lagi yang bisa saja timbul tanpa diharapkan.
Mungkin bagi beberapa diantara para pembaca, ungkapan seperti ini menjadi sebuah kenyataan yang tadinya belum pernah diperhatikan dengan seksama. Memang, suatu perhatian mengenai hal yang tadinya tampak kurang penting, dan makin tidak diperhatikan akan menimbulkan hal-hal yang dilewati oleh pandangan kepekaan kita.
Kelewatan suatu pandangan perhatian itulah yang bakal menimbulkan suatu bentuk 'Masalah' yang lalu memberikan performa yang seakan sulit untuk dapat dipercaya. Meneliti sumber suatu masalah hanya dapat tercapai, bila kita telah terbiasa dengan yang, sekali lagi, dikatakan 'mempunyai 'Kepekaan Intuitif' yang bisa saja telah mendarah daging pada diri kita untuk selamanya. Yang terpenting adalah menerima kebenaranya itu terlebih dahulu sebelum memberikan pendapat.
Hal yang baru diungkapkan itu, para pembaca, merupakan suatu kebiasaan yang kini dapat dikembangkan pada diri kita masing-masing. Secara 'Intelektual' kita telah dikembangkan melalui 'pendidikan' yang seksama. Hal ini untuk mempersiapkan diri mendapatkan suatu 'Urut Duduk Takdir' di dalam masyarakat yang sudah pasti akan mengikuti perwujudanya karena ada suatu TUGAS SUCI yang telah di-Cipta-kan oleh Yang Maha Esa serta menentukan 'Urut Duduk Takdir' tersebut yang merupakan kelanjutan dari “kesempatan” yang dinamakan 'Kodrat'.
Menyimpang dari tujuan perwujudan suatu ke-'Hidup'-an yang telah di-'Atur' oleh-NYA, yang mana sifatnya menuju kepada dasar ke-POSITIF-an di dalam membangun kondisi di 'Bumi', maka memperhatikan hal itu dengan tuntas merupakan kondisi yang sudah HARUS dapat dirasakan oleh kita semua tanpa pandang bulu.
Kekurangan yang menyangkut hal ini, akan menjadikan lingkungan di Bumi ini seperti sesuatu yang mempunyai bentuk ke-TIDAK serasian yang lalu akan berbentuk 'penyimpangan' dan 'perusakan' yang bukan didasarkan atas tingkatan FISIK, tetapi yang lebih mendasar kepada tingkatan MENTAL atau MIND. Arti yang disebut ini mempunyai suatu 'kondisi' yang se-HARUS-nya dapat di-KENDALI-kan dengan TUNTAS tanpa mana kehidupan kita sebagai makhluk manusia akan selalu terlibat di dalam per-MASALAH-an yang rumit dan seakan sulit sekali untuk dapat diatasi.
Tetapi, bila kita dapat menyadari akan ke-MAMPU-an kita yang dikatakan SEMPURNA melalui suatu ke-SEIMBANG-an yang bisa dikatakan sesuai dengan ke-SEMPURNA-an yang telah di-CIPTA-kan oleh YANG MAHA SEMPURNA, maka sudah PASTI dunia kita akan menjadi wawasan yang mendekati yang kita idamkan, yaitu S O R G A di D U N I A. Dan di dalam dunia seperti itu, TIDAK akan terdapat hal-hal yang menyesatkan. Pilihan berada pada diri kita sendiri yang disebuat melaksankan pengaturan NASIB melalui ke-BEBAS-an keinginan atau FREE WILL yang merupakan sesuatu ANUGERAH bagi kita MANUSIA.
Demikianlah Kenyataan yang harus kita perhatikan dengan SERIUS, tanpa 'keraguan' yang akan selalu mematahkan 'Niat baik'.
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System