
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
indosiar.com - Akhir-akhir ini kita disuguhi berita-berita melalui TV, media cetak dan lain sebagainya, yang menyangkut pembongkaran adanya penyimpangan-penyimpangan serius yang terjadi dibidang 'perhukuman', yang bisa disebut melaksanakan 'penyelidikan-penyelidikan' menuju kepada penyelesaian suatu 'kemelut' yang terjadi justru pada bidang penegaan 'H u k u m' serta 'K e a d i l a n n y a'.
Hal seperti ini benar-benar memerlukan orang-orang yang ke-'Jujuran'-nya dapat 'Teruji' dengan tuntas dan seksama. Penulis ingin mengemukakan disini, bahwa mempunyai jiwa yang 'Jujur' itu sangat tergantung dari latar belakang suatu 'Pendidikan' perilaku positif mulai dari awal sampai dengan tingkatan 'Dewasa'.
Bila kini ditinjau kembali maka pada masa penjajahan, kita telah diperkenalkan dengan cara-cara yang digunakan oleh sang penjajah, sehingga bagaimana pun kita telah terbiasa dan dipaksakan untuk di-'biasa'-kan di dalam pelaksanaanya. Dan hal seperti itu telah ter-'tanam'-kan pada neuron-neuron Otak 'Leluhur' di dalam kurun waktu yang lama, sehingga sudah pasti akan bisa terjadi suatu gejala 'Transmisi Genetis' atau pemindahan bentuk genetik yang dibawa serta oleh para generasi penerus sampai dengan jumlah 'Lima Belas' pendidikan G e n e r a s i.
Suatu pematangan dari pengembangan 'generasi', menurut penyelidikan ilmiah, memerlukan sistim pendidikan dan praktek selama kurang lebih 23 s/d 25 tahun. Kalau tidak lebih lagi dari itu. Kita ketahui bahwa sistim pendidikan kita tidak pernah mencapai ke-sempurnaan, yaitu hanya tergantung pada informasi serta teori-teori yang dibatasi oleh 'Ruang' dan 'Waktu' atau disebut juga 'Dimensi Obyektif'!
Didalam pendidikan tidak di-'Ikut Serta'-kan suatu tingkatan 'Inteligensia' mendalam yang sangat diperlukan bagi penetrapan ilmu pengetahuan 'dimensi Obyektif' yang telah di-'Induksi- Tanam'-kan pada sel-sel 'neuron-neuron' Otak. Disini bukan dimaksudkan yang sering disebut sebagai tingkatan 'IQ' atau perhitungan formula inteligensia yang menentukan kita itu pintar atau tidak serta ber-'bakat' yang digunakan di dalam sains 'Psikhologi'. Hal ini merupakan suatu perhitungan yang sudah kuno atau 'konvensional' yang lalu kini diikuti oleh penggunaan sistim 'Finger Print' yang dikemukakan di dalam buku yang dikarang oleh seorang dosen 'Psikhologi' dari Uni Pajajaran Bandung. Jelas disitu bahwa ada suatu bentuk peningkatan dari, yang masih belum berubah, 'Pendekatan Fisik' dimana dari ciri-ciri tubuh kita dapat mengetahui bakat seseorang.
Penyelidikan ilmu pengetahuan 'Psikhorientologi' dapat lebih mendalami mengenai yang berhubungan dengan kemampuan berbakat melalui bentuk 'Vibrasi' yang diproduksi oleh Otak yang dapat ditangkap melalui indra-indra yang disebut 'Non-Fisik'. Kemampuan manusia bukan di-ukur dari 'Luar', tapi dari 'Dalam' dirinya. Pada kondisi tertentu memang pada 'Tubuh' seseorang akan terbentuk ciri-ciri yang khas yang menyangkut pengaruh 'emosi'-nya pada suatu momentum tertentu. Seperti diketahui, bukan Fisik yang akan mempengaruhi Mental, tapi 'S e b a l i k'-nya. Segala sesuatu akan terjadi di DALAM TUBUH SPIRITUAL terlebih dahulu dan bukan dari 'Luar'-nya.
Tapi ternyata hal itu juga tidak memberikan kenyataan 'nyata obyektif' yang dapat diandalkan dengan tuntas. Suatu bakat tertentu pada diri 'Skala Bentuk' atau 'Struktur' manusia akan selalu tergantung dari 'pemindahan genetik' ditambah dengan 'Kepekaan Sempurna' yang telah berada pada sosok manusia sejak masih sangat muda ditambah dengan kemampuanya menerima informasi 'Subyektif' melalui indra-indranya yang 'Non-Fisik'.
Kita sering kali terjebak oleh ungkapan-ungkapan yang dikemukakan serta ditanggapi dengan cara 'Subyektif', tapi yang tak dapat di-'verifikasi' dengan jelas oleh mereka yang sudah terbiasa menerima tangkapan subyektif tersebut. Disinilah maka suatu kondisi 'Subyektif' masih saja dipertanyakan, karena hal seperti itu belum merupakan sesuatu yang dapat diterima serta ditanggapi secara 'umum'.
Ini semua merupakan ungkapan yang melatar belakangi suatu sistim bagaimana kita dapat meningkatkan kemampuan kita untuk mampu membentuk 'Fenomena Subyektif' yang lebih dikenal dengan mempunyai kemampuan ke-'para-normalan'. Di dalam ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hanya informasi 'Obyektif' saja, kita tidak akan mampu menangkap hal-hal yang disebut 'Subyektif' karena merupakan hal yang belum pernah dibelajarkan dengan cara yang 'signifikan'. Masih terlalu banyak orang yang di dalam hal ini tidak mampu menaruh perhatian yang sepatutnya. Mereka tidak mengetahui bahwa dengan demikian kita menjadi 'statis' dan tidak 'dinamis' lagi. Di dalam kehidupan diperlukan suatu 'dinamika' sehingga kita tetap bisa pro-aktif dalam mendukung serta mempengaruhi hal-hal yang patut ditunjang melalui 'emosi positif'.
Tapi dinamika dengan hanya menggunakan fungsi 'Otak Bagian Kiri' tidak serupa dengan dinamika yang ditimbulkan oleh fungsinya 'Otak Bagian Kanan'! Para pemimpin kita yang sedang memerintah menurut hemat penulis sangat kekurangan produktivitas yang kebanyakan dipaksakan sehingga segala sesuatu penglihatan dan apapun yang menyangkut 'Kepekaan Intuitif' tidak bakal bisa bekerja secara 'Optimal' atau sama seperti hanya mempunyai 'Produktivitas' selama hanya 'empat' jam saja, yang semustinya bisa sampai minimal 'Dua Belas' jam terus menerus.
Hanya ber-istirahat sekejab, menurut penyelidikan ilmiah tidak akan mampu menghadapi bekerja selama itu. Penyelidikan itu pun menemukan bahwa bila tidak menggunakan kemampuan dari fungsi 'Nirsadar' yang di-'Sadar'-kan yang merupakan bangkitnya 'Otak Bagian Kanan' sebagai manusia yang bisa dikatakan 'Sehat' dan tidak terkena 'Frustrasi' dan 'Stres' pasti akan mempunyai 'produktivitas' selama 'Dua Belas' jam, yang pasti sangat mencukupi.
Sayang sekali bahwa hal ini masih saja belum dapat dipercayai serta di-akui, di-alami serta di-'fahami', karena dengan adanya 'Produktivitas Tinggi' maka mereka bahkan akan berfungsi dengan kemampuan yang 'Lebih' berarti! Penulis juga prihatin sekali dengan kekurangan pengertian yang menyangkut apa yang telah diungkapkan melalui artikel ini. Ada kemungkinan juga mereka belum atau tidak sama sekali berkecimpung di dalam keleluasan 'Internet'. Jadi bukan merupakan seorang 'Netter'.
Justru melalui 'Internet' ini kita mendapatkan segala sesuatu yang bermanfaat di dalam meningkatkan pengetahuan kita, baik hal itu yang berhubungan dengan informasi 'obyektif' maupun yang 'subyektif'. Hanya saja bila kita tidak mempunyai suatu 'Kepekaan Intuitif', maka harus berhati-hati menerima segala sesuatu yang disuguhkan melalui 'Internet' tadi. Hanya dengan yang diungkapkan terakhir itu kita akan mempunya 'Jaminan Tuntas' bahwa diantara informasi 'subyektif' dapat juga 'TERSELIP' yang palsu pada apapun yang didapatkan melalui 'Internet'.
Keleluasan perasaan 'intuitif' yang ditunjang oleh 'kepekaan' akan memberikan kita justru suatu 'Ketegasan signifikan' yang sangat diperlukan oleh seorang pemimpin. Kita bahkan akan memupuk 'Nyali' yang tinggi di dalam menanggulangi segala bentuk per-masalahan tanpa diganggu oleh suatu kelemahan yang ditimbulkan oleh sifat ke-'Ragu'-an!
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System
