HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM
Magic Brain

Sekali Lagi Surat Terbuka Kepada Para Elit Politik



Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.

indosiar.com
- Melalui surat ini yang penulis telah pernah sampaikan pada website Indosiar beberapa bulan yang lalu, kini sudah saatnya kembali memberikan kenyataan-kenyataan serta pandangan yang kurang baik bagi kondisi NKRI yang makin hari kelihatan menuju pada jalan yang 'menyimpang'.

Kita sedang berada di dalam keadaan ibaratnya seperti "Bom Waktu" saja, yang setiap saat bisa saja meledak dengan dahsyatnya. Tidakkah para pembaca merasakan adanya tekanan seperti itu pada setiap harinya? Bagi mereka yang belum mempunyai daya 'kepekaan intuitif', sudah tentu hal itu tak dapat dirasakan.

Tapi penimbulan suatu arus pikiran seperti itu, bukanlah merupakan hal yang dapat dianggap sebagai sesuatu yang remeh dengan nuansa 'negatif' atau memberikan rasa cemas dan khawatir yang bisa menjadi suatu peristiwa yang bakal benar-benar terjadi. Apa yang kita 'imajinasi'-kan dan bakal terjadi setiap saat, maka hal itu akan menjadi "Nyata".

Apakah diantara para pembaca tidak mempunyai kepercayaan akan hal yang baru saja dikemukakan itu? Sayang sekali, dan bila hal itu jelas akan terjadi, maka mereka yang kurang peka itu akan heran dan kaget bahwa sesuatu yang tak disangka bisa jadi suatu 'kenyataan'.

Hal seperti itu memang kurang dapat diwaspadai, karena kita sedang sibuk memenuhi 'alihan' perhatian kepada hal-hal sehari-hari yang menyangkut rutin kehidupan. Yang masih mempunyai waktu untuk memperhatikan hal-hal seperti itu secara 'kebetulan' akan pasti dapat merasakan akan terjadi sesuatu yang tak diharapkan.

Di dalam kondisi "gelembung Vibrasi" yang sedikit 'khaotik' atau 'semrawut', kita seakan tidak mampu untuk melaksanakan suatu pengaruh yang dapat melaksanakan 'netralisasi' dari arus bentuk imajinasi yang berkonotasi negatif tersebut. Hanya mereka yang mempunyai yang dinamakan harisma yang dapat melaksanakan 'netralisasi' tersebut serta mengisikan atau meng-'induksi'-kan arus pikiran yang positif kepada lingkungan.

Mungkin diantara para muda-mudi masih bisa mengingat adanya pemimpin yang demikian mempunyai "Kharisma" sehingga seluruh rakyat Indonesia dipelosok-pelosok dapat mengikuti gagasanya untuk melepaskan diri dari masa penjajahan yang begitu lama, yaitu "Tiga Ratus Lima Puluh" tahun. Apakah lalu kita ini, khususnya para muda-mudi bisa melupakan peristiwa bersejarah tersebut?

Bisakah kita selalu merenungkan hal yang membuat kita menjadi suatu <Bangsa Besar> diantara bangsa-bangsa lain di-dunia ini? Bangsa yang berpenduduk lebih dari "Dua Ratus Dua Puluh Juta" orang yang seharusnya dibina, dipimpin dan disejahterakan secara ' l u a s ' dan langgeng!

Apakah hal ini kurang dapat di-"Fahami" oleh kita semua? Apakah lalu harus terjadi suatu "Revolusi" lagi, yang artinya bukan yang 'fisik' tapi yang " M e n t a l ", karena memang kita kini sedang mengalami suatu  'k e m u n d u r a n' dari perilaku yang tidak menunjukan banyak bentuk "Positif".

Dan memang dunia kini sedang mengalami suatu perubahan "Mental" yang didengungkan dimana-mana melalui saluran pemerintah maupun swasta di internet. Kita tidak dapat tinggal diam yang menyangkut hal ini, tapi justru harus siap untuk menerima perubahan bentuk pemikiran seperti itu. Hal itu bukanlah sesuatu yang harus di-'takuti' atau di-'curigai' asal kita  's i a p' dengan suatu 'kepekaan' yang 'intuitif'.

Yang masih meragukan, bahwa kita mampu meraih suatu "Kesempurnaan", memang sudah terkena yang dinamakan di-"Brain Wash" oleh kondisi yang ditanamkan dengan sengaja pada saat berpindahnya pimpinan kepada yang membentuk 'orde baru'.

Dan seakan hal itu telah menjadi suatu 'kebetulan", bahwa ada 'muda-mudi' yang masih duduk dibangku sekolah (Universitas) mampu memberikan keadaan tekanan yang demikian kuat, sehingga presiden kedua terpaksa harus mengundurkan diri atau 'lengser'.

Sekalipun lalu keadaanya berubah kepada kondisi yang lebih 'bebas' di dalam mengutarakan bentuk pikiran, tapi tak dapat dihindarkan adanya oknum-oknum yang mengambil kesempatan untuk mempermainkan cara ber-'politik' sedemikian rupa, sehingga kita harus mengalami banyak pergantian di dalam kepemimpinan kita, hingga sampai enam presiden di dalam waktu yang tidak wajar, bukan? Ini sepertinya tidak ada seorang pun yang mampu menguasai perubahan.

Kita kini dengan adanya pimpinan presiden ke-enam, sedang berusaha untuk memberikan 'arahan' yang benar-benar jitu didasarkan atas sifat ke-"Jujuran". Memang ke-"Jujuran" berpolitik dinegeri ini masih merupakan hal yang belum tuntas serta di-'biasa'-kan.

Dan siapakah yang berpendapat begitu sempit bahwa politik itu harus mempunyai 'konotasi' yang "tidak Jujur" serta "Negatif"? Apakah hal ini juga sudah mempunyai bentuk 'Budaya' tertentu yang kita  "t i r u " dari negara-negara sekelilingnya?

Begitu lemahkah kita sebagai bangsa Indonesia untuk mempertontonkan suatu cara "berpolitik" yang lebih "Elegan", penuh dengan sopan santun dan paling penting yang dapat di-"tiru" oleh negara-negara lain. Itu semua adalah 'pondasi' dari suatu ke-JIWA-an yang matang menurut Ciptaan "Sempurna" dari Yang Maha Kuasa, bukan begitu hendaknya???

Hal seperti itu memang sudah ditemukan dan telah menjadi 'sumber' kini bagi perubahan suatu pandangan terhadap 'informasi' apapun, baik itu yang ada pada dimensi 'Obyektif' maupuan pada kondisi dimensi yang 'Subyektif'. Renungkan hal ini baik-baik, dan akuilah bahwa kita terperangkap di dalam suatu kondisi yang dibatasi oleh 'Ruang' dan 'Waktu'.

Bila ingin 'keluar' dari kondisi seperti itu, maka "satu-satu"-nya jalan adalah  "M e r u b a h" diri melalui kesempurnaan tadi yang memang tidak dapat dipungkiri lagi, karena 'Alam Semesta' sudah memberikan suatu "T a n d a" masuknya kita di dalam 'Tahap Ke-Dua" di dalam pengembangan manusia untuk selamanya.  Kita akan meninggalkan lebih berperan secara "Obyektif", tapi justru akan lebih berperan secara "Subyektif"!

Belum pernahkah para pembaca memperhatikan banyaknya kelahiran berupa tang dinamakan 'anak-anak Indigo'? Tanda Alam apakah itu? Pernahkah kita menyelidikinya dengan seksama dan tuntas? Mereka itu justru lebih 'peka' daripada orang tuanya sendiri.

Suatu contoh yang mengejutkan, bahwa seorang anak CIndigo' mengucapkan kata-kata 'selingkuh' pada ayahnya yang terperanjat mendengarkan itu, serta memukul anaknya sampai cidera?

Padahal kenyataanya memang demikian, dimana lalu terjadi suatu 'perceraian' dengan penuh kebencian. Maukah kita menghadapi hal-hal semacam itu? Periksalah internet dengan teliti yang menyangkut hal anak 'Indigo' tersebut. Gunakanlah, sudah tentu, suatu 'kepekaan intuitif' dan jangan sembarangan percaya pada suatu informasi. Seorang anak jangan ditekan bila ucapanya itu didasarkan atas suatu 'Kebenaran Telak'. Bila begitu, maka kita telah 'enganiaya' makhluk hidup' Ciptaan Ala Semesta.

H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method

Bookmark and Share


Page: 1
7-Oct-2010 12:34:51 WIB by Awien zero
Hai indosiar, stasiun televisi indonesia yang sangat kreatif.
harap meliput team film kreatif di Serang-Banten yang berhasil menciptakan sebuah mitos menjadi sebuah film berjudul MENEMBUS MERCUSUAR (info, trailer film dapat dilihat di fb : MENEMBUS MERCUSUAR) Film berdurasi 60 menit ini dikaryakan oleh usia 16-18thn tapi hasilnya very amazing padahal mereka belum mengecap pendidikan perfilman/sinematografi. kami harap indosiar dapat meliput/sekedar melihat karya anak bangsa yang belum diketahui banyak orang ini.

contact person : 08179124399 (lihat di profil FB menembus mercusuar) terima kasih.

 

Nama:
Email:
Security Code: