HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM
Megic Brain

Situasi Parah Dinegara Kita yang Banyak Menimbulkan Penderitaan



Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.

Didalam berbagai sektor kehidupan, dimana terdapat banyak kemiskinan yang makin lama makin tidak tertahankan lagi oleh penduduk, dan setiap harinya hanya menunggu suatu penyelesaian yang tak kunjung datang, Maka tidaklah mengherankan, bahwa situasi semacam itu akan menjadi penyebab dari timbulnya emosi2 yang tak lagi dapat dikendalikan. Hal seperti itu tidak mungkin dengan segera dapat diselesaikan, oleh karena emosi2 itu telah mencapai suatu 'keseragaman' serta merupakan pencetusan telak dari ketidak puasan dan kepercayaan lagi kepada kemampuan pemerintah beserta aparat2 penegak hukumnya.

Yang kini berkuasa, memang telah mendapatkan warisan, sepertinya harus memperbaiki 'gedung mewah', dari luar masih nampak kecantikan dan pesonanya, tapi didalamnya penuh dengan RAYAP2. Memperbaiki bentuk semacam itu, benar2 memerlukan Keteguhan Iman serta Kejujuran, yang tidak ditanggapi secara 'serius' sampai saat ini. Telah berkali-kali dinyatakan oleh orang2 yang mempunyai kemampuan melihat masa depan bangsa, bahwa dasar dasar dari 'kesatuan pengorbanan'untuk kepentingan bersama serta menghilangkan terlebih dahulu, kepentingan kepentingan 'pribadi', benar benar telah 'Sirna' saat ini.

Kepercayaan terhadap 'ulama' pun makin merenggang didalam intensitasnya, disebabkan antar pemimpin hanya memikirkan Gengsinya masing masing. Kemudian, karena ketidak kuasaan dari masing masing kita, hanya dengan mengarahkan diri kepada kebijakan dari Yang Maha Kuasa, tapi belum mencoba jalan baru yang kelihatannya memang 'buntu', berhubung tidak mampu melihatnya, bila hanya dipandang dari penglihatan kemampuan Otak Kiri. Kesibukan mencari alternatif alternatif untuk bisa keluar dari "kemelut mental” telah banyak dilaksanakan, tapi tetap saja berputar-putar disitu-situ juga, tanpa dapat 'melihat' adanya jalan keluar.

Suasana atmosfir ditanah air, penuh dengan getaran getaran kecemasan. Kekhawatiran ketakutan, kedendaman dengan bayangan pembalasannya terhadap yang dirasakan bertanggung jawab. Tetapi tidak ditemukan pendekatan yang relevan dan jitu, guna memberikan suatu 'kepuasan hati' yang membara didalam banyak hati nurani yang mempunyai keinginan bertindak, tapi tidak ada kekuasaan sama sekali. Didaerah banyak diadakan do'a bagi keselamatan negara kesatuan serta memohon kepada Yang Maha Kuasa diatas segalanya, untuk membantu memberikan TERANG didalam kegelapan kepada mereka yang nista. Ternyata juga masih harus bersabar terus, karena mutu kita pada umumnya masih banyak noda dari 'getah racun' yang disebarkan oleh kekuasaan setelah Bung Karno dijatuhkan dengan alasan bersekongkol dengan komunis.

Setelah ternyata hal itu tidak benar, maka untuk merehabilitasi nama Bung Karno sangat lamban, bahkan kalau mungkin terus saja di-'diskreditkan'. Namun rakyat jelata masih ingat bahwa Bung Karno merupakan 'mercu suar' didalam kegelapan penjajahan. Oleh karena itu pemerintahan 'orde baru', bagaimana pun, terpaksa mengambil langkah2 rehabilitasi dengan memugar kembali makamnya, memberikan gelar Proklamator bersama Bung Hatta. Selama orde baru, memang ada suasana mecekam, sungguhpun dari luar rakyat dibujuk serta dibohongi dengan 'glamour', seakan-akan negara kita sudah mentas dari kemiskinan.

Padahal, kenyataannya tidak demikian, maka terjadi keadaan, dalam bahasa jawa "kualat”, yang menjungkir balikkan keadaan yang sepertinya 'teratur' menjadi kemelut. Apakah para pembaca sudah lupa akan hal itu? Tentu saja hal itu tidak terasa bagi mereka yang telah ikut didalam 'pesta KKN'. Waktu penulis pulang kembali dari persinggahan diluar tanah air pada tahun 1983, sudah dapat dirasakan keganjilan keganjilan yang terdapat dikalangan pemerintahan. Perjoangan untuk mendapatkan 'lampau hijau' bagi perkenalan Metode Silva sangat dihalang-halangi yang merupakan perjoangan berbicara dengan 'beton'. Gagasan untuk mendirikan fakultas 'Parapsycholgi' pad UI, dihalangi, dengan alasan yang dicari-cari.

Para pembaca, berjoang untuk hal yang POSITIF akan pasti mendapatkan dukungan dan RIDO dari Yang Maha Kuasa, tapi kita tidak boleh cepat menyerah dan harus mempunyai ketabahan untuk menghindarkan diri dari hadangan hadangan yang menginginkan ketidak berhasilan dari perjoangan itu. Oleh karena itu, penulis bangga, bahwa pernah menyumbangkan jiwa dan raga bersama-sama rekan rekan dari Brigade 17, Batalyon 300, TRIP dan TP menghadapi usaha penjajahan baru dari Belanda antara 1945 sampai dengan 1949. Banyak rekan rekan pada saat itu memang berjoang "tanpa pamrih”, tanpa meminta imbalan yang sebenarnya layak saja bila keadaannya bukan revolusi. Sudah tentu diantara yang berjoang, ada saja 'oknum oknum' yang mencari keuntungan dalam kesempitan.

Tetapi, marilah kita bersyukur, bahwa masa revolusi sudah lewat, kita seharusnya jangan dikekang lagi oleh masa lalu. Bila memang bersalah, harus dihukum sewajarnya, mengikuti HTBA yang tidak ada dendam sama sekali, selalu tepat dan pantas. Yang kini sedang dilaksanakan, tidak lain adalah sepertinya permainan 'sandiwara'. Mereka yang ikut bersalah, bahkan memberikan 'angin' kepada Soeharto cs, seharusnya mengaku saja kesalahan kesalahan itu dan jangan memberikan kesempatan kepada para pengacara yang hanya mengejar keuntangan didalam kesemrawutan. Tidak semuanya demikian, tapi penulis sudah mengetahui hal itu, karena mendapatkan informasi dari dimensi subyektif, yang selalu benar dan tidak pernah terkena noda negatif.

Bila ketentuan ketentuan subyektif dapat dirangkum dalam hukum obyektif, maka penulis dapat memastikan bahwa keadilan yang tuntas pasti dapat terjamin. Hanya masyarakat belum matang untuk mengerti hal itu, yang semuanya masih berpedoman kepada norma norma obyektif yang mudah terkena kontaminasi serta usulan usulan penyimpangan melalui materi alias uang. Kelihatannya materi itu kini menjadi Tuhan dan tak ada yang dapat menghindarkan diri dari rangsangannya itu.

Membaca berita, bahwa disuatu daerah, penduduk telah melawan pihak berwajib, karena beberapa warganya menjadi pengedar narkotik dan akan 'diamankan' menimbulkan kontroversi dari institusi kekuasaan karena sudah tidak ada wibawanya lagi. Bahkan hal itu terjadi, karena dari pihak warga merasa dirugikan, karena dengan pengedaran narkotik itu, mereka kehilangan hidup lumayan, tapi tidak dipikirkan lebih jauh, bahwa penggunaan narkotik bersifat 'menganiaya' sesamanya, bahkan penerus bangsa. Kesadaran mengenai hal itu pun telah manjadi sirna.

Penulis akan mengulangi terus menerus, bahw suatu penyelesaian secara 'obyektif' didalam hal seperti itu, akan selalu menemukan perlawanan dan jalan buntu. Mengapa bisa demikian? Dapatkah dipikirkan oleh para pembaca? Penutupan dialog akan terjadi bersamaan dengan timbulnya EMOSI, emosi yang tak mampu dikendalikan atau dinetralisir. Penyebabnya lagi adalah, bahwa mudah timbulnya emosi itu, karena kebanyakan warga telah lama terkena 'wabah STRES', yang sulit dihilangkan. Stres, bila sudah terrekam didalam neuron neuron otak, khususnya Otak Kiri, tidak akan mudah dihilangkan. Dengan jalan bagaimanapun, hal itu akan terus memupuk serta bercengkerma didalam neuron neuron otak dan dibawa serta didalam pertumbuhan dan pengembangan manusia.

Banyak diantara kita tidak 'merasakan', bahwa stres itu hinggap pada diri kita. Hal itu ditimbulkan sejak kecil, dimulai dari frustrasi pada lima tingkatan dan kemudian berkumulasi sebagai tekanan getaran getaran yang non-fisik yang menghilangkan keseimbangan keteraturan dari pengelolaan kimiawi tubuh yang mangatur 'metabolism'. Penulis mempunyai seorang murid (alumni) yang ingin belajar Metode Silva. Pada saat sedang mendengarkan 'preview', ia dipantau melalui alat 'biofeedback' dengan nama ESR (Electronic Skin Resistance) apakah ada gejala stres atau tidak.

Waktu dites, penunjukannya adalah, bahwa ia mempunyai kondisi stres berat. Bapak itu heran sekali, karena ia tidak merasakan apa apa, lagi pula ia suka 'humor' katanya dan sering bertamasya ('naar boven', ke Puncak Pass). Ia tidak percaya dan mencoba alat alat biofeedback lainnya yang ada pada penulis. Ternyata sama saja. Beliau memutuskan untuk mengikuti kursusnya seminggu kemudian, dengan mengisi form pengikut sertaan.

Pada hari yang telah ditentukan, bersama-sama dengan pengikut pengikut yang juga telah mendaftar, beliau tidak muncul. Penulis mencoba menghubunginya untuk mengingatkan kesediaan ikut kursus itu. Dirumah penulis mendapatkan berita, bahwa semalamnya itu, beliau masuk Rumah Sakit, dirawat di ICU. Ia telah mendapat serangan stroke. Hal itu sama sekali tidak diharapkan, tapi rupanya, dokter di RS itupun menyatakan bahwa ia mempunyai ketegangan mental tinggi menurut ukuran dari pantauan EEG (Electro Encephalo Graph), sesuai dengan biofeedback yang ditunjukkan dirumah penulis. Bagaimana pendapat para pembaca?

Stroke dari calon alumni penulis itu agak berat, sehingga beliau lumpuh sebelah, dibutuhkan terapi selama dua bulan. Tapi berkat kesabaran dan masih ingin terus ikut kursusnya, akhirnya beliau menjadi alumni dan berkat kegigihannya berlatih, telah sembuh seperti sedia kala. Stres telah hilang lenyap dari alam pikirannya. Bahkan ia menganjurkan rekan rekan sekantornya untuk juga ikut kursusnya serta menceritakan hal ihwalnya secara terbuka diantara rekan dan kawan.

Dengan cerita ini, yang terjadi pada tahun 1986, penulis ingin menyampaikan suatu peringatan kepada para pembaca, bahwa stres itu harus kita waspadai dan awasi. Jangan menganggapnya enteng, banyak orang juga yang tidak merasakan 'hypertensi, tahu tahu terjadi pendarahan otak dengan akibat kelumpuhan. Hal itu dapat menyerang bagian bagian tertentu, dimana program program terletak pada neuron neuron otak. Saudara dekat penulis (umur 57 tahun), juga terkena stres berat, setelah menjadi purnawirawan selama dua tahun. Ia diserang dalam saluran 'bolak-balik' pembuluh cairan otak yang menjaga otak itu jangan berbenturan dengan batoknya. Karena saluran itu buntu, maka terjadi tekanan keras dalam batok yang menekan otaknya, sehingga ia berperilaku tanpa kendali. Kadang kadang menangis seperti anak kecil, kemudian ketawa tanpa hentinya, marah marah sudah menjadi kebiasaan setiap harinya.

Setelah di-operasi, bisa sembuh, tapi stresnya tidak dapat hilang dari alam pikirannya. Terjadi kebuntuan lagi, dan pada operasi kedua ia meninggal dunia, enam bulan setelah operasi pertama. Ketegasannya disini adalah bahwa operasi selalu akan ada risikonya, biaya tidak sedikit, seakan-akan investasinya menjadi sia sia. Padahal, ia mengetahui bahwa ada Metode silva itu, untuk dapat menghilangkan stres. Disini jelas, bahwa pilihannya ada pada diri sendiri, yaitu menentukan nasib. Hal itu merupakan anugerah dari Yang Maha Pencipta dengan tujuan untuk diatur dan diarahkan kepada KODRAT yang selalu positif atau membangun suatu kesempatan baru. Kodrat memberikan kita kesempatan untuk menyelesaikan masalah, baik itu berupa hadangan dijalan, tempat kerja, dari orang lain maupun penyakit.

Manusialah yang mentukan nasibnya masing masing serta mengisi takdir yang merupakan tugasnya dimana kesempatan positifnya diberikan oleh kodrat. Begitulah hakekat dari 'siklus' penghidupan ini, yang telah diriset dengan ketentuan ketentuan ilmiah. Bila anda berkenan untuk membaca artikel artikel lain dibawah naungan Magic Brain, maka pembaca dapat membuka wawasan yang jauh lebih luas, apalagi dengan mengalaminya melalui ikut serta didalam pelatihannya.


H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: