HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM
Megic Brain

Sportivitas Merupakan Hal yang Harus Dipelihara Dengan Jujur dan Toleran



Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.

Para pembaca yang secara 'fokus' mengikuti uraian pada artikel-artikel yang dicanangkan melalui "magic brain". Kini kita akan membahas arti dari kata "sportif" serta "toleran" atau di dalam bahasa kita berupaya sebagai 'olahragawan' serta terbuka hati untuk menerima hal-hal pendapat yang dasarnya 'positif', tapi belum tentu seirama dengan pendapat kita secara pribadi.

Mepunyai 'kondisi' seperti itu memang akan sangat tergantung dari suatu "pendidikan Jiwa" yang pada awalnya bisa dikatakan "Matang Sekali". Mengapakah penulis sebut demikian? Karena ke-'tidak matangan' pendidikan Jiwa memberikan justru peluang untuk bisa terkena 'provokasi' yang bernuansa 'negatif', bukankah demikian sering kali terjadi di dalam ke-bergaulan?

Sifat seperti itu tidak lain di-'bangkitkan' oleh "Emosi" yang kesekian kalinya penulis kemukakan sebagai suatu "Kekuatan Dahsyat" yang memberikan 'arahan' bagi kita, manusia, melaksanakan tindakan-tindakan yang bernoda negatif ataupun benar-benar "Positif".

Dan disinilah akan terbukti, bahwa kondisi "pendidikan awal" kita itu 'mantap' ataupun sebaliknya. Kemantapan Jiwa pada zaman dahulu, jauh lebih terlihat pada tokoh-tokoh yang diandalkan oleh masyarakat dan sering kali dijadikan "panutan" yang mendasar. Mungkin diantara para pembaca masih ingat pada petuah-petuah yang dianjurkan oleh mereka yang sudah berumur dan mempunyai banyak pengalaman, dalamm arti kata telah banyak memakan garam.

Disinilah juga akan terjadi kesenggangan masa umur antara yang muda dan yang tua. Yang muda, yang kurang mantap biasanya di dalam suatu 'pendidikan Jiwa', akan selalu kurang mengindahkan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh mereka yang jauh lebih tua, bukan begitu kini terjadi? Mereka menyebut yang tua sudah "ketinggalan
zaman", kurang dapat menyesuaikan diri pada suatu perubahan. Benarkah demikian?

Makanya, dahulu ahli-ahli pendidikan akan selalu diolah melalui yang dikatakan sebagai unsur "Peadagogi" (diterjemahkan dengan bahasa Indonesia: kemapuan untuk mendidik). Mengikuti suatu 'pengisian' dari hal-hal yang masih kekurangan di dalam bentuk sifat-sifat mereka yang umurnya belum 'matang' dan merupakan suatu "brain wash" dalam arti kata bernuansa 'positif'. Dan pula dapat memperlihatkan hal-hal suatu arah yang menuju kepada nuansa 'negatif' yang ada konsekuensinya bila dilaksanakan.

Disinilah terdapat suatu unsur utama dari seorang yang dianggap sebagai "Guru" atau "Pendidik", bahwa harus mempunyai sifat-sifat yang jauh dari noda negatif, selalu mempunyai sifat "Jujur Mutlak" dengan memberikan "contoh-contoh" agung yang dapat ditiru dan ditangkap oleh anak-anak didiknya.

Sebabnya, tanpa sifat-sifat dan perilaku seperti itu, justru akan terungkapkan hal suatu "kelemahan" yang akan menjadi suatu pertanyaan mengapa bisa dimikian.

Pendidikan, para pembaca, tidak lain adalah "pencucian serta pengisian Otak" yang biasanya bertujuan memberikan suatu "arah hidup" serta "perilaku" sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri. Menjaga jangan sampai terpengaruh oleh kondisi yang banyak berunsur perilaku negatif. Dan hal ini tak bisa dibiarkan 'tanpa pemeliharaan' terus menerus selama hidup, oleh pada mulanya, lingkungan keluarga dan seterusnya
oleh pengaruh satuan masyarakat.

Dapatkah pembaca kini merasakan betapa rumitnya yang merupakan "Pendidikan"? Apalagi, bila yang akan di-didik sudah pada suatu tingkatan "Dewasa" yang pada hakekatnya sudah mempunyai banyak pengalaman-pengalaman yang tak ternoda oleh provokasi-provokasi "negatif", bukan? Dapatkah para pembaca merenungkan kenyataan seperti
yang penulis utarakan kini?

Janganlah menuding lingkungan terlebih dahulu, tapi sebaiknya kita "introspeksi" terlebih dahulu dan melihat pada diri sendiri apakah 'sumbangan' yang telah dan akan kita berikan pada lingkungan dapat membawakan 'kemajuan' dan bukan justru 'kemunduran', bukan?! Mendidikan ke-mandirian pada kaum muda yang sifatnya "Luhur",
seharusnya sudah menjadi 'patokan Umum' bagi seluruh 'kelompok orang tua' yang menjadi tolok ukur dan pondasi dari masyarakat sebagai 'Bangsa Indonesia' yang ingin dijadikan 'Mercu Suar' bagi negara lain di dalam pengembangan ke-nasionalan dalam lingkungan 'Internasional'.

Ini yang ingin dilaksanakan oleh setiap bentuk negara yang didahului oleh Amerika Serikat, Russia, Kerajaan Inggris, Perancis, Cina, Jepang yang ingin menonjolkan diri dengan sifat-sifatnya yang dasarnya tentu
haruslah P o s i t i f   dan bukan sebaliknya!

Bagaimana kita Bangsa Besar Indonesia yang diidamkan oleh tokoh-tokoh perjoangan "Ke-Merdekaan" yang dipimpin oleh Bapak Bangsa Ir.DR.Soekarno? Mampukah kita meraih nama baik itu di dalam konteks ke-"Dunia"-an???

Usahakanlah dengan sifat ke-J u j u r a n  mutlak, tanpa ada keraguan se-sedikit apapun akan kemampuan kita yang  "S e m p u r n a" melaui keseimbangan yang tuntas.

Jagalah ke-"sportif"-an serta "toleransi" antar kita untuk selamanya yang dapat dijadikan lambang kebolehan Bangsa Indonesia untuk selamanya.

 

H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System

Bookmark and Share


Page: 1
21-Feb-2012 19:19:31 WIB by alya
050802
23-Nov-2011 10:21:30 WIB by oneship
jangan la anda sering korupsi karena perbuatan tersebut sangat merugikan orang banyak,korupsi termasuk perbuatan dosa besar maka dari itu bersegeralah anda meminta ampun kepada Allah SWT.

 

Nama:
Email:
Security Code: