
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Kalau dibicarakan soal pendapatan yang dilekatkan pada nilai pemberian jasa tenaga dan pikiran, alias gajih, yang disumbangkan kepada suatu organisasi baik yang swasta maupun pemerintahan, maka kita akan selalu terbentur pada perbedaan yang terkadang sangat menyolok diantara gajih yang paling rendah dengan yang tertinggi.
Suatu standarisasi akan sangat penting secara timbal-balik untuk direnungkan oleh para pakar yang menyangkut persoalan 'pelik' ini. Di dalam pemikiran para tokoh yang menjadi pemimpin pemerintah, memang diharapkan bahwa persoalan ini seharusnya mendapatkan "prioritas Utama" bila ingin menanggulangi kesulitan penyelesaian bentuk masalah apapun.
Ini dikarenakan dari suatu "visi" yang memerlukan keleluasan yang tidak diperoleh bila kita hanya berfungsi dengan bagian kemampuan kita yang hanya mengkhususkan penerimaan informasi melalui indra-indra "fisik" saja. Apakah hal ini sudah dapat diperhitungkan oleh kita yang selalu terkadang terpaksa mengikuti peraturan yang diterapkan oleh mereka yang cetusan arus pemikiran dibatasi oleh ruang dan waktu?
Sekali lagi, "Kepekaan Intuitif" yang hanya diperoleh melalui kondisi berfungsi dengan pengendalian "nirsadar", belum lagi dapat difahami dan dipercayai oleh kebanyakan diantara kita yang menyerahkan segala penyelesaian kepada kebesaran YME dan percaya, bahwa Beliaulah yang selalu akan memberikan jalan keluar.
Penulis kenal dengan beberapa orang yang hidupnya di dalam kondisi seperti itu. Menyerahkan diri kepada ke-Besaran-NYA, tapi "tidak berusaha" kearah perbaikan di dalam mengatur nasibnya. Mereka ketinggalan sekali dengan cara hidup seperti itu. Hal ini kasarnya merupakan suatu tindakan kemalasan dan tidak mengetahui, sekalipun diberi tahu, bahwa letak YME bukanlah diluar kita, tapi justru di dalam diri kita. YME di dalam <Pen-Ciptaan> seluruh Jagad Raya beserta penghuninya, dimana kita termasuk "salah satu" spesies diantara yang lain, pada hakekatnya belum manyadari benar akan "kemampuan" yang telah juga di-Ciptakan di dalam 'skala bentuk' kita sebagai manusai "Utuh".
Memikirkan hal ini pada masa lalu termasuk sesuatu yang "tabu" atau tidak masuk di-akal. Perkembangan manusia dan Jagad Raya tidak pernah berhenti, berjalan terus dengan kesinambungan waktu yang ditentukan bagi tahap kemajuanya sesuai dengan perkembangan tadi. Mendalami hal ini masih merupakan hal yang dikatakan belum diperlukan oleh mereka yang "Muda" dan masih ada banyak waktu, sekalipun terbatas, untuk melaksanakan jalan hidupnya.
Sebenarnya mereka mensia-siakan waktu yang bisa dikatakan "tidak produktif" sama sekali. Hal seperti itu sangat tergantung dari suatu "pendidikan dini". Banyak orang tua yang mendidik putra-putrinya tanpa mempunyai suatu perangkat pendidikan yang kini dinamakan "Pendidikan Subyektif". Hal seperti itu akan melampaui batas-batas yang berada pada suatu dimensi "Obyektif". Cobalah membuka Alam Pikiran kita lebar-lebar untuk berani memutuskan terjun pada sesuatu yang baru sama sekali dan meninggalkan budaya lama yang tidak berkembang dengan pesat tapi lamban sekali.
Suatu tradisi yang mengikut sertakan unsur-unsur baru yang diketahui akan selalu "Positif", karena telah dibuktikan secara penyelidikan ilmiah, akan memberikan manfaat baru yang belum dialami dan bahkan akan menjadi sesuatu keuntungan yang tak dapat diduga semula. Kita masih terbius oleh kondisi yang telah dibiasakan, karena mengikuti perkembangan lingkungan yang sebenarnya memberikan kita tiada pilihan, berhubung adanya nuansa yang terumbang-ambing antara yang "positif" dan negatif".
Dengan adanya penemuan rumusan yang akan menjadi standarisasi umum dapat ditemukan, bila kita benar-benar mempunyai suatu "kepekaan intuitif" yang menurut penulis, akan mendukung arus pikiran kita kepada suatu arah yang tepat dan sesuai dengan angan-angan tanpa berhadapan dengan permasalahan. Melaksanakan "perubahan" memang harus berani me- m u t u s k a n suatu pilihan yang bakal menguntungkan serta memajukan.
Kelihatanya 95 persen dari kondisi manusia akan selalu dipenuhi dengan sifat "r a g u". Hal ini merupakan inti dari permasalahan " s t r e s " yang menimbulkan 'enzym hormon' di dalam proses pelestarian kesehatan tubuh atau jasad kita. Tak ada seorang pun yang tak pernah mempunyai pengalaman pahit dari adanya -keraguan- tersebut. Bila telah mengetahui dan mendapatkan pengalaman seperti itu, mengapakah tak dapat menghilangan sifat ragu itu? Ingat, bahwa pengaturan n a s i b berada pada diri kita masing-masing dan bukan menyerah kepada tuntunan JME. Kita telah diberi kebebasan untuk menggunakanya. Perhatikan artikel penulis yang menyangkut hal "F r e e W i l l" beberapa waktu yang lalu.
Sekali lagi, tentukanlah standarisasi pada prioritas utama bila ingin menjadikan Negara kita setaraf dengan Negara yang telah berkembang dengan baik. Yang menguntungkan dan baik dapat ditiru dan jangan sebaliknya, bukan begitu seharusnya? Pengalaman penulis yang lama sekali tinggal dibilangan Negara-negara yang disebut 'Benelux', yaitu Belgia, Nederland dan Luxemburg, dasar penggajian dilaksanakan atas dasar umur seseorang atau disana disebut 'barrema'. Jadi seorang yang umurnya lebih tua dari seorang atasan yang lebih muda akan mendapatkan dasar yang seperti itu. Lalu diatasnya diberikan tambahan-tambahan menurut pendidikan, kedudukan dan aspek 'psikhologis'-nya.
Bila hal ini dapat diperhatikan oleh para pemimpin dan bagi mereka yang hanya didasarkan atas keuntungan, maka akan terjadi suatu keseimbangan dari 'Urut Duduk Takdir' yang memang merupakan kondisi tuntas dari keteraturan Alam Semesta atau Jagad Raya. Konstitusi keseimbangan memang sangat diperlukan di dalam segala bentuk kehidupan di-Bumi ini.
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System