
Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
indosiar.com - Pembahasan yang menyangkut (wanita), kedudukan serta tanggung jawab psikhologisnya di dalam banyak kasus selalu diremehkan oleh kaum lelaki. Bukanya memukul ratakan. Penulis kali ini akan memberikan suatu pembahasan tertentu di dalam missi kehidupan dari dua jenis 'makhluk' manusia ini.
Sejak dahulu kala, secara tidak menonjol sering terjadi polemik yang pada dasarnya tidak banyak menguntungkan jenis manusia yang kita sebut (wanita) itu. Bila ditinjau dari kemampuan fisiknya, memang kelihatan suatu perbedaan yang menonjol yang menyangkut 'rupa', 'kekekaran tubuh', 'perototan' serta jenis 'kelamin'.
Oleh Alam Semesta dua jenis makhluk 'manusia' itu dianugerahi "Tugas" hidup yang termasuk "Konsep" adanya kehidupan di bumi ini. Siapakah yang kini berani berkata, bahwa kita sebagai makhluk "Ciptaan" (Jagad Raya) atau (Univers) tidak mempunyai keistimewaan pada bentuk konstelasi seperti itu? Para ilmuwan dan cendekiawan sangat mengagumi bagaimana terjadinya "makhluk Manusia" yang menurut penyelidikan, 'baru' berada pada planit bumi ini hanya beberapa juta tahun lalu, suatu 'ukuran masa' yang diluar jangkauan penangkapan manusia, bukan?
Pertanyaan sering timbul yang menyangkut "mengapa harus ada dua bentuk 'spesis' yang berbeda jenis kelamin" untuk melanjutkan suatu kelestarian hidup melalui hubungan 'biologis'. Hal ini sudah diselidiki secara mendalam sekali, namun demikian masih saja ada timbul sesuatu yang belum terjawab, yaitu yang menyangkut hal kemandulan. Di dalam banyak hal yang menyangkut sel-sel manusia yang menonjol adalah bidang yang dinamakan 'organik'. Memang, segala sesuatu didasarkan atas ke-organikan tersebut. Tapi yang sangat sering dilupakan oleh kebanyakan 'penyelidik' adalah bidang yang menyangkut "energi' yang TIDAK kasat mata.
Cara pendekatan dari suatu penyelidikan selalu diarahkan pada "hanya kondisi atau kenyataan Fisik" saja. Bila kita di dalam kehidupan selalu diperkenalkan dengan kondisi "Dua Ganda", maka hal itu sering kali kedapatan hanya ditonjolkan yang termasuk di dalam (Kasat Mata) atau penglihatan dan penangkapan "Obyektif" saja.
Lawanya yaitu yang kita sebut "Subyektif" sering mempunyai konotasi yang tidak pernah "Dipercayai" serta kurang dimiknati berhubung tidak "Nyata" tadi.. Bila dikatakan bahwa manusia 'kelihatanya' hanya yang 'kasat mata' saja, itu yang hanya di-"Lihat" atau di-'tangkap' melalui 'indra-indra yang fisik'. Tapi bila direnungkan dengan masak-masak, maka banyak diantara kita diberkahi dengan suatu kemampuan untuk menangkap bentuk energi yang TIDAK kasat mata.
Hal ini pada masa beberapa abad yang lalu, tidak mempunyai perhatian yang seharusnya ditumpahkan pada 'fenomena' tersebut. Apalagi di dalam bentuk religi apapun, bahkan mempunyai tanggapan yang kurang tepat dan bahkan juga dinyatakan bahwa bila kita 'melihat' sesuatu yang oleh orang banyak tidak dilihat, maka sering dikatakan bahwa itu merupakan bentuk 'setan' atau 'halusinasi' dari yang 'melihat' dan selaliu berkonotasi "Negatif".
Pada 'neuron-neuron' Otak wanita, terjadi banyak pengelolaan daya energi yang membentuk suatu "Kepekaan Intuitif" yang sering di-'rasa'-kan, dipergunakan dan dipercayai oleh kaum wanita tersebut. Bila juga ada pada lelaki, hal itu tidak mempunyai dampak yang membawakan kepercayaan pada bentuk timbulnya rasa yang memberikan "intuisi" melalui suatu "kepekaan" yang memang 'khas' ada pada jenis wanita. Ternyata bahwa kemampuan menanggapi kepekaan intuitif ini kini telah diselidiki serta ditemukan dasar bentuk pengelolaanya yang membedakan fenomena ini antara wanita dan lelaki.
Tujuan dari bentuk penciptaan wanita adalah untuk mempersiapkan jenis ini untuk melaksanakan perawatan pada seorang makhluk 'manusia baru' yang tugasnya adalah meneruskan pelestarian 'spesis' manusia. Segala sesuatu yang lalu menyangkut "pendidikan" sampai bisa 'mandiri' merupakan tanggung jawab "Awal" yang diletakan pada Wanita. Karena seharusnya di dalam pendidikan itu, yang memang tidak mudah, diperlukan waktu tertentu yang tidak boleh diabaikan oleh sang wanita, maka iapun pada hakekatnya tidak mempunyai tanggung jawab mendapatkan hal-hal yang diserahkan kepada kaum lelaki. Yaitu mencari nafkah bagi kelangsungan hidup berdua serta memelihara 'keluarga'.
Pada beberapa abad yang lalu hal itu merupakan suatu hal yang ditanggung oleh kaum lelaki, sehingga di dalam hal pendidikan, wanitalah yang bertanggung jawab atas bentuk serta "Mutu" suatu generasi penerus yang bisa dikatakan mampu melaksanakan pelestarian dari kondisi hidup di-dunia ini secara mandiri. Kemudian meneruskan kembali kepada generasi selanjutnya.
Tapi kondisi masyarakat di dalam hal bentuk kehidupan kini sudah sangat berbeda dan berubah. Di dalam perubahan ini maka suatu ketika sang wanitu harus ikut campur untuk mempertahankan kehidupan yang "wajar dan layak". Di dalam perjalanan itu dengan adanya kemajuan-kemajuan 'teknologi materis' yang dikatakan makin 'canggih', maka terjadilah kondisi dimana wanita harus memilih antara 'ikut bekerja', karier dan menjadi ibu Rumah Tangga sekaligus. Kesempurnaan suatu "Pendidikan" awal hingga kemandirian dari suatu generasi baru, lalu kehilangan suatu "Fokus" tertentu sehingga pengaruh keluarga makin renggang. Banyak terjadi 'godaan-godaan' bagi insan baru melek yang memerlukan 'fokus pendidikan Jiwa' yang dikatakan "elegan", penuh hormat diisi dengan moralitas, etika serta kesayangan pada lingkungan keluarga dekat.
Berapa banyak terjadi 'konflik' antara anak dan orang tua, karena pengaruh lingkungan jauh lebih besar,
intensif dan sering kali menyimpang dari Azas "Ke-Benaran". Bukan demikian kini adanya labih banyak kasus konflik yang terjadi?
Kematangan 'psikhologis' pada wanita memang harus diperhatikan secara serius, dan tidak bisa disamakan dengan hal tingkatan "Intelektual". Hal ini merupakan tingkatan "Inteligensia" atau "Kecerdasan Alam Pikir" yang merupakan sesuatu yang kini dapat ditingkatkan dan melebihi kemampuan intelektual. Hanya melalui 'kesadaran' bahwa bagian "Nirsadar" dapat dikembangkan dengan serius, kita akan mengarahkan pengalaman-pengalaman kita kepada hal-hal yang membangun, produktif dan hanya POSITIF saja, tanpa dapat diganggu gugat oleh 'provokasi' NEGATIF.
Bahwa kenyatanya adalah adanya "kelebihan" kepekaan intuitif pada wanita, merupakan hal yang harus kita waspadai dengan s e r i u s . Kita harus lebih mempercayai "s u a r a H a t i" yang bakal
mengarahkan diri kita pada masa depan yang jauh lebih "c e r a h" daripada yang sudah-sudah.
H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.
Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory
Silva International Incorporation of The Silva Method