HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | INVESTOR RELATION
KOLOM

Magic Brain

Waspadai Kelompok yang Ingin Merubah Konstitusi dan Menguasai Haluan NKRI



Waspadai Kelompok yang Ingin Merubah Konstitusi dan Menguasai Haluan NKRI

Berita HOT:



indosiar.com -
Manusia "otak kiri" telah membawa dunia kejalan yang sesat dan menjauhkan diri dari ketentuan serta keteraturan dari keinginan Yang Maha Berkuasa yang dijaga melalui hukum timbal balik alam. Pikiran-pikiran menyesatkan, kini telah melanda dunia yang penuh dengan hal-hal yang hanya dapat mendukung kehidupan fisik yang pendek saja. Kehidupan spiritual dengan segala kepositifannya serta keasliannya telah dikembangkan melalui pendukungan materi yang kelihatan mengatur nilai dan norma yang mulai kabur dalam hal moral, dan tak dapat diandalkan lagi.

Semua kegiatan dan penemuan yang tidak diisi serta didukung dengan kebijakan spiritual, tidak akan mampu menghadang segala bentuk penyalahgunaan dari suatu bentuk bahan yang sedang sangat digandrungi benar dengan bentuk sederhana, yaitu "kertas", dengan mutu tertentu, yang dicetak dengan tulisan angka-angka menurut nilai kegunaannya. Kertas itu dikenal dengan nama "money", atau uang, duit, fulus, pitih dan lain sebagainya, tapi sangat mempengaruhi kehidupan manusia yang begitu lemah menghadapinya.

Mungkin, mereka yang tidak dapat mengendalikan nafsu untuk selalu ingin berlebihan dalam meraih "kekayaan", yang kebanyakan dari tujuannya tidak lain, untuk melampiaskan nafsu dalam penggunaannya untuk mencapai kepuasan yang terbatas dari dimensi obyektif, belum mengetahui, bahwa penciptanya uang itu mempunyai maksud untuk dapat mempermudah perhitungan nilai dalam tukar menukar penggunaan akan kebutuhan barang dan jasa.

Pada mulanya, menentukan suatu nilai tukar dilaksanakan dengan "barter" yang mana tidak dengan mudah ditemukan penyesuaian yang tepat, karena tiada pedoman yang pasti yang dapat dilengketkan kepada suatu nilai bahan. Pada mulanya pula, membuat uang, didasarkan atas penilaian suatu bahan pendukung, dimana "emas" mempuanyai peran yang sangat berarti dan selalu dapat diandalkan. Kepercayaan kepada nilai emas (sebagai nilai pengganti) itulah yang mendukung kepercayaan terhadap nilai angka yang dicetak pada uang kertas.

Akhirnya, bila kebutuhannya akan melebihi nilai pengganti, maka dengan mudah saja, atas suatu kesepakatan, nilai angka yang dicetakan pada kertas dapat dirubah. Pengubahan itu tidak menjamin, bahwa nilai cetak angka akan sesuai juga dengan dukungan emas atau bahan pengganti lainnya, yang telah menjadi kesepakatan. Kemudian, manusia-manusia yang bernafsu untuk mengejar kekayaan secara "tidak wajar", hanya untuk tujuan berfoya-foya dan kepentingan pribadi saja.

Ada saja orang-orang yang mulai memikirkan jalan pintas untuk mendapatkan uang melalui pemalsuan uang dengan segala caranya. Ada yang telah mendapatkannya melalui cara-cara "kriminal", lalu dicoba dengan jalan "pemutihan" uang tersebut. Hal itu dilaksanakan, karena menciptakan uang palsu akan jauh lebih mudah dan murah bila dibandingkan memalsukan bahan dukungannya seperti emas atau bahan lain yang alami.

Disinilah terdapat bukt-bukti, bahwa kebanyakan manusia tidak mampu untuk mengendalikan nafsunya Itulah riwayat terjadinya banyak penyalah gunaan dari uang tersebut, yang kemudian masuk "babak penyuapan" dalam cara-cara penekanan pada "bidang politik". Manusia Indonesia, memang belum matang dalam menanggulangi tujuan serta penggunaan uang yang dikumpulkan dengan cara-cara yang negatif. Apalagi menjaga penyalah gunaannya kearah negatif tersebut.

DR.Jose Silva telah menemukan jawaban dari penggunaan harta itu, yang dikatakannya seperti ini:  Dalam mencapai harta yang pada hakekatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang "layak", dimana definisi mengenai arti "layak" itu dapat diatur oleh kita sendiri, maka yang penting adalah penyesuaiannya kepada HTBA. Atau hukum alam dengan timbal-baliknya. Mencukupi kebutuhan layak tersebut, wajar-wajar saja, tapi tidak diperkenankan berkelebihan serta "mengambil" haknya orang lain. Sisanya, setelah terpenuhi hidup layak yang wajar itu adalah, untuk memperuntukannya dalam tindakan "kesejahteraan sesama manusia" yang tidak mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan hidup yang "layak".

Dari pernyataan itulah, timbul niatnya untuk mencari suatu sistem yang dapat dipergunakan oleh semua manusia dalam meraih kehidupan layak dengan mengikuti ketentuan dan keteraturan HTBA. Bila hal itu belum bisa terlaksana, maka dunia akan tetap berada dalam "ke-terumbang-ambingan" antara positif dan negatif serta penyalah gunaan uang, dimana kondisi negatif akan menjadi "dominan". Hal itu dapat terjadi, karena kelemahan dari kebanyakan manusia (90 %), yang belum dapat dilatih untuk mampu mengendalikan fungsi bawah sadarnya  atau "nirsadar secara sadar" !

Manusia yang mempunyai tekad bulat dalam memberikan kelayakan hidup bagi sesamanya, kini dapat dihitung dengan jari-jari kita. Dalam hal ini, memang sangat diperlukan kepekaan yang menyangkut rasa "keadilan sosial" kepada lingkungan. Pendidikan kearah itu masih sangat kurang dan belum ada suatu sistem yang khusus, dimana kebanyakan dari sistem subyektif itu, tidak mempunyai konsep jelas serta melalui penyelidikan ilmiah yang cukup panjang dan intensif. Kemudian mampu melaksanakan pengaruh tuntas yang dapat dibangkitkan melalui pendidikan subyektifnya, dimana salah satu yang paling tua serta melalui penyelidikan ilmiah yang intensif, dan yang paling terkenal saat ini, yaitu Metode Silva yang merupakan produk dari riset sains yang dinamakan Psychorientology.

Kelemahan manusia menghadapi arus provokasi negatif, memang belum pula ada cara yang ampuh, untuk digunakan dalam menentang hal semacam itu. Nafsu orang untuk berkuasa terhadap manusia lain, sudah ada sejak pen-Ciptaannya, baik itu dengan jalan yang kasar maupun dengan jalan yang halus. Kekasaran dilaksanakan dengan baku hantam secara fisik, dalam arti memerangi yang tidak sefaham ! Karena sudah lebih pintar, maka dilaksanakan pula penipuan verbal dengan penetrasi pola pikir yang disebut "intimidasi".

Siapa yang lebih lemah, akan terkalahkan dan siapa yang kuat mentalnya, akan dikejar melalui intimidasi mental, ditakut-takuti, ditangkap, di-"brain wash" dan dibujuk melalui penyuapan dan cara-cara yang sudah melanggar "etika" serta tanpa "ukuran moral" lagi. Oleh karena itu, kita yang tidak ikut serta dalam kegiatan politik, seharusnya memupuk kekuatan mental yang akan sulit untuk diintimidasi.

Bahkan dengan pemupukan kekuatan "pengendalian mental" itu, kita dapat melawan arus intimidasi dari mereka yang ingin mempengaruhi kita dengan tujuan mengikuti kehendak mereka, biasanya dengan paksa dan tanpa syarat apapun. Mereka yang diberi kekuasaan melalui kesepakatan yang tertera dalam pengesahan undang-undang apapun, akan selalu berusaha mempertahankan kedudukan mereka melalui kesepakatan pembentukan undang-undang itu yang lalu dapat "direkayasa" bagi keuntungan mereka, bukan bagi keuntungan rakyat. Dalihnya adalah, supaya, memelihara ketentraman umum, kemudian dipaksakan mengikuti aturan-aturan yang telah disepakati oleh kelompok-kelompok anti aspirasi rakyat dalam badan yang dinamakan "parlemen" atau "dewan perwakilan rakyat" itu.

Tapi, siapakah mereka dan bagaimanakah mutu pola pikir dari wakil-wakil rakyat itu ? Bagaimanakah isi jiwa mereka ? Adakah mereka itu benar-benar mewakili aspirasi yang digandrungi oleh rakyat yang secara "permainan" pula, dalam peristiwa "pemilihan umum" telah "mencoblos" kelompok-kelompok manusia yang bergabung dalam badan yang dinamakan "partai" (dari bahasa Belanda ‘partij’) ? Kemudian tidak terjamin bebas dari dukungan suatu "penyuapan" dengan uang yang tak dapat dibuktikan, tapi yang telah menjadi "rahasia umum".

Suatu perumusan undang-undang yang diproses oleh dan melalui mereka yang jiwanya tidak bersih dan dengan sendirinya tidak jujur, akan pasti menelorkan ketentuan undang-undang yang nuansanya adalah bagi keuntungan yang memprosesnya dan pasti hasilnya akan tidak bersih pula, dan tidak akan menguntungkan masyarakat !. Ini merupakan tantangan bagi rakyat untuk tetap tegar dalam mempengaruhi serta menuding mereka yang dirasakan telah menyimpang dari kejujuran.

Sampai dimanakah ketulusan serta kejujuran mereka yang telah dipercayai melalui pemilihan umum itu ? Manusia yang tidak mempunyai kondisi "ALPHA OPTIMAL" sepanjang keadaan "bangun sadar", tidak bisa diharapkan akan mempunyai pola pikir yang jernih, bersih dan jujur. Apapun kilahnya yang dikemukakan dengan berbagai macam alasan, dapat dibaca dengan jelas melalui aura mereka, yang tidak bisa dan tak mungkin dapat ditutupi atau disembunyikan dengan cara  apapun.

Inilah keuntungan yang dapat diperoleh melalui suatu pelatihan dalam pengembangan kemampuan  'kepekaan' yang dapat diikuti melalui peningkatan pengendalian 'nirsadar' dengan sistem Silva. Pada fraksi golongan, dimana ada juga orang-orang yang berkecimpung dalam hal ke-para-normalan, nyatanya dapat dengan mudah dilanda oleh pola pikir yang negatif. Pola Pikir yang hanya mengutamakan kepentingan sendiri dan kelompoknya saja, jauh dari aspirasi rakyat, dan makin hari akan makin dilibatkan dalam tindakan-tindakan yang ceroboh serta menyesatkan rakyatnya.

Itulah yang terjadi dikalangan Dewan Perwakilan Rakyat yang anggota-anggotanya kita hormati dengan cara terpaksa, bukan karena memang mereka itu harus dihormati karena pekerjaan yang dilaksanakan dengan benar, tanpa nuansa apapun,  untuk "mensejahterakan" kita semua "tanpa kecuali" !

Para pembaca yang budiman, waspadailah tindakan-tindakan para wakil rakyat, yang karena kelemahannya sebagai manusia, akan selalu rentan sekali terkena rangsangan-rangsangan emosi yang "sulit dinetralisir", tanpa suatu pengendalian nirsadar tersebut. Hal ini hanya dapat diperoleh melalui pelatihan yang seksama dan jitu, dan dapat diawasi atau diikuti sebagai pengontrolan melalui peralatan" biofeedback".

Pengawasan mengenai hal positif dan negatif pun, dapat dilaksanakan oleh peralatan "biofeedback" tersebut, seperti halnya dengan pengawasan yang diadakan dalam suatu laboratorium, bila kita terkena serangan penyakit-penyakit seperti  kolesterol, diabetes, darah tinggi, darah rendah dan yang lain sebagainya. Mengapakah mental tak dapat dikontrol ? Bila ada seorang yang enggan untuk dikontrol kedudukan gelombang otaknya, maka sudah akan jelas, bahwa ia merupakan seorang yang tidak bersih.

Arus suatu pencetusan pikiran yang negatif, termasuk penyakit mental yang harus ditanggulangi dengan seksama dan "serius" dengan cara-cara yang modern yang dapat ditanggulangi melalui ilmu pengetahuan fisik (alat biofeedback) dan mental (sistem pendidikan subyektif). Dunia kini, sedang mengalami penyakit merosotnya norma-norma moral dan etika, dan hal itu disebabkan, karena sampai saat ini, tidak pernah diobati melalui sistem pendidikan dan terapi sistem mental tersebut yang dinamakan pendidikan subyektif !

Demikianlah kenyataan yang dapat diambil sebagai bahan perenungan seksama.

Oleh : H.Rd.Lasmono Abdulrify Dyar, Dipl.Sys.Ing., Ph.D.

Lecturer dan Director/Coordinator, Indonesian Territory Silva International Incorporation of The Silva Ultramind Esp System

Bookmark and Share