Egois, Selalu Ingin Menang Sendiri, Tidak Mau Mengalah Atau Memberi Kesempatan Bagi Orang Lain
Ego berasal dari bahasa Latin yang artinya “Diri Sendiri” dalam arti yang luas adalah “Kepentingan Diri Sendiri”, setiap orang selalu ingin melindungi kepentingannya sendiri namun orang yang egois membela kepentingannya sendiri secara berlebihan tanpa memikirkan bahwa orang lain juga memiliki kepentingan yang sama sehingga akhirnya merugikan orang lain.
Pada sebuah loket orang-orang berkerumun saling berebut ingin mendapatkan tiket, masing-masing takut kehabisan dan ingin mendapatkan tempat terlebih dahulu. Pemandangan ini umum terjadi di berbagai tempat di Indonesia, pada tiket Pesawat, tiket Kereta Api, tiket BLT (Bantuan Tunai Langsung), tiket Raskin, dan bahkan untuk menonton bioskop orang tetap berebut tiket. Karena berebutan tersebut seorang tua terjatuh karena terdorong-dorong dan akhirnya terluka.
Apa yang terjadi menggambarkan bagaimana orang dalam keadaan tertentu mudah melupakan kepentingan orang lain dan lebih mementingkan kepentingannya sendiri. Ditempat kerja anda suatu saat anda berdebat dalam sebuah meeting dan beberapa orang saling mengeluarkan ide untuk solusi suatu permasalahan, masing-masing memandangnya dari sudut yang berbeda, atasan memandang dari kepentingan atau sudut budget perusahaan dan anda mungkin memandang dari sudut kepentingan pelanggan serta melindungi nama baik perusahaan maka atasan cenderung mengambil jalan dengan biaya terendah sedang anda dan kawan-kawan lainnya cenderung mengambil jalan lain meskipun biayanya lebih tinggi.
Apabila anda dan atasan tidak mau saling mengalah masing-masing mempertahankan idenya sendiri-sendiri maka biasanya akan ada salah satu pihak yang merasa “dikalahkan” kadang-kadang kita begitu takut mengalah hanya karena ingin melindungi “muka” kita didepan orang lain dan karena ingin menjadi yang terhebat serta disebut sebagai ‘pencetus ide’ atau lainnya padahal didalam hati kita menyadari bahwa ide orang lain lebih baik. Lebih celaka lagi kita sering tidak mau mengalah dengan sengaja karena ingin menutup jalan bagi orang lain.
Namun apabila kedua pihak berusaha saling mendengarkan dan kemudian mencari jalan yang terbaik mungkin ditemukan solusi yang terbaik dan masing-masing pihak merasa “dimenangkan” dan terjalin rasa saling menghargai dan dihargai, rasa saling diakui dan mengakui. Dengan demikian dimasa mendatang banyak kesempatan akan terbuka karena setiap pihak baik atasan, anda, pelanggan dan pihak-pihak lain yang terkait dengan kasus tersebut akan lebih membuka diri untuk bekerjasama dikemudian harinya untuk sebuah alasan yaitu kerjasama yang saling menguntungkan bukan saja secara materi namun juga secara immateri.
Tanpa kita sadari sesungguhnya dengan bersikap egois kita justru menutup peluang bagi diri kita dan orang lain untuk bekerjasama dan menemukan hal-hal baru yang lebih menguntungkan bersama-sama dan dengan bersikap ‘Assertive atau Seimbang’ maka kita membuka kesempatan lebih besar dan banyak kedepan untuk bekerjasama dan menemukan hal-hal baru yang lebih membanggakan dan menguntungkan semua pihak.
Kata Mutiara:
“MEREKA YANG EGOIS MENUTUP KESEMPATAN DAN MEREKA YANG ASSERTIVE MEMBUKA KESEMPATAN UNTUK BEKERJASAMA DAN MENEMUKAN HAL-HAL BARU BERSAMA-SAMA”.
Check List anda:
APAKAH ANDA TERGOLONG ORANG ‘EGOIS’
1. Apakah anda memarkir mobil anda tanpa mempedulikan garis atau marka parkir?
2. Apakah anda membunyikan radio/tv/tape dengan suara keras tanpa peduli apakah orang lain suka atau tidak?
3. Apakah anda berdebat sambil marah-marah atau mengancam atau menantang lawan bicara anda?
4. Apakah anda duduk ditempat umum sambil menaruh tas anda dibangku sebelah anda dan tidak peduli meskipun banyak orang lain belum kebagian tempat duduk?
5. Apakah anda membuang sampah sembarangan dijalan dari dalam mobil anda?
6. Apakah anda minum ditempat banyak orang berkerumun pada bulan puasa?



September 11th, 2008 at 12:08 pm
Dear Yulia,
Benar pendidikan memang membantu seseorang menekan egoisme-nya, hal ini karena melalui pendidikan kita bisa belajar ber-macam-macam ilmu dan mengembangkan wawasan kita, misalnya kita belajar ilmu ‘Perilaku Berorganisasi’ (Organization Behavior) sehingga interaksi kita dengan orang lain lebih berorientasi pada situasi ‘win-win’ dengan demikian kita menjadi orang yang lebih ‘assertive’ atau seimbang, artinya tidak egois atau hanya mengutamakan kepentingan sendiri melainkan juga mengedepankan kepentingan orang lain.
Nah Yulia, sukses selalu ya , terimakasih.