Profile Penulis

Ketika ingin membuat tulisan ini, Saya merasa tidak pantas karena belum berhasil membuat suatu prestasi yang pantas dibanggakan dalam hidup ini namun segala sesuatunya harus berjalan dan yang terpenting adalah “Kita tidak berhenti berusaha berbuat sesuatu yang lebih berarti”
“Nama yang aneh”
Getol adalah sebuah nama yang terdengar “aneh” bagi kebanyakan orang-orang yang lebih suka memilih nama yang indah dan bergaya. Nama ini sesungguhnya terjadi ketika di tahun 1963 warga Negara keturunan di Indonesia dihimbau untuk mengganti nama mereka yang terdiri dari tiga suku kata menjadi nama Indonesia dengan tujuan mempercepat assimilasi atau pembauran antara warga Negara keturunan dan warga pribumi.
Ketika itu, Saya berusia 15 tahun dan duduk dibangku SMA kelas I, dan tinggal di kota Solo sedangkan orang tua saya, tinggal disebuah desa bernama Losari (Brebes), dan saya sendiri memilih nama “Gunadi” namun karena masih dibawah umur 18 tahun maka surat ganti nama saya tergabung dalam surat bersama orang tua dan disana langsung tercantum “Gunadi bin Getol” sehingga nama Getol sesungguhnya adalah warisan orang tua kami
Nama Getol sendiri sebenarnya berasal dari sebuah merk perusahaan pengangkutan yang dimiliki orang tua kami yang bermerk T.O.L. yang disingkat dari “Transport Onderneming Losari” yang artinya “Perusahaan Pengangkutan Losari” karena itu akhirnya ayah saya mendapat julukan “Babah Tol” dari orang desa dan lama kelamaan berubah menjadi “Babah Getol” mungkin karena nama ini lebih mudah diucapkan.
Ketika kebingungan mencari nama maka ayah memutuskan untuk mengganti nama nya sesuai dengan nama yang diperolehnya dari masyarakat desa yaitu “Getol” sehingga demikianlah saya mendapat warisan nama tersebut. Uniknya warisan ini sekarang cukup effektif menjadi “Pemecah Es” atau pembuka suasana ketika kami harus berbicara didepan audience yang banyak bertanya untuk memuaskan keheranan asal usul nama saya yang terdengar aneh tersebut
Gagal dari Perguruan Tinggi
Sejak kecil kami sebenarnya bercita-cita menjadi “Dokter” ……. dan oleh karena itu setelah lulus SMA di Santo Yusuf Solo tahun 1969 kami melanjutkan kuliah disebuah perguruan tinggi swasta di bandung yaitu “Universitas Kedokteran Maranatha” dengan biaya gotong royong dari keluarga. Saat itu untuk masuk keperguruan tinggi negeri sangatlah sulit khususnya untuk Fakultas Kedokteran. Tahun1971 kami gagal menempuh ujian kenaikan tingkat yang diadakan oleh Universitas Pajajaran (saat itu setiap tingkat mahasiswa swasta harus menempuh ujian NBCMS yang diadakan oleh Universitas Negeri ) dari seratusan mahasiswa Maranatha yang mengikuti Ujian hanya kira-kira 5 orang yang lulus dan kami tidak termasuk diantaranya. Gagal dan Frustasi karena tidak lulus ujian kami tersadar dari “MIMPI” kami yang ternyata merupakan sebuah mimpi yang tidak mungkin terwujud ibarat peribahasa “Menggantang asap, mengukir langit”. Tahun 1971 kami memutuskan untuk melupakan kegagalan yang sangat menyakitkan dan kembali ke kampung halaman dan kami mencoba berdagang.
Menjadi Salesman
Dikota kelahiran kami di Losari-Brebes banyak terdapat pabrik kecil yang memproduksi “sohun” sejenis mie putih yang terbuat dari tepung tapioca yang banyak digunakan pedagang baso sebagai campuran pada mie kuning yang terbuat dari gandum. Kami mencoba memanfaatkan keadaan ini dengan ikut memasarkan sohun produksi salah satu pabrik disana ke beberapa kota besar di Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Kami tidak mendapatkan gaji hanya boleh mencari keuntungan sendiri dari selisih harga beli dan harga jual saja, untungnya pabrik memberikan harga beli yang cukup rendah untuk menutup biaya transport, perjalanan, makan/minum dan tersisa sedikit keuntungan namun seluruh resiko kerugian harus ditanggung sendiri. Sohun dari daerah itu kami jual ketoko-toko yang menjual hasil bumi dengan sistim kredit 15-30 hari dan segera setelah dibayar harus disetorkan ke Pabrik. Perdagangan ini berlangsung selama dua tahun lebih dan ketika itu banyak pembongkaran pasar di Jakarta sehingga suatu hari ketika kami menagih ternyata kios pelanggan sudah dibongkar dan kami tidak tahu kemana pelanggan tersebut pindah. Alhasil tagihan kepada pelanggan tersebut tidak terbayar sedangkan kami tetap harus membayar kepada pabrik karena segala resiko memang harus ditanggung sendiri sesuai dengan perjanjian dengan pabrik.
Menerima kenyataan pahit yang kedua dan yang pertama dalam karir kami membuat kami lebih frustasi dan hampir-hampir putus asa. Kemudian kami bertemu dengan seorang guru bahasa Inggris, seorang wanita yang banyak memberikan dorongan kepada kami untuk maju, beliau mengajari dan melatih kami bahasa Inggris dan kemudian menganjurkan kami merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib dengan bekerja disana.
Merantau ke Jakarta.
Setelah melalui pertimbangan yang cukup berat akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti saran Ibu Guru kami merantau ke Jakarta, kebetulan beliau juga mengajar disalah satu Lembaga Kursus diJakarta dan tinggal di Jakarta sehingga kami dapat menumpang beberapa hari dirumah kontrakan beliau sampai mendapat kamar yang dapat kami sewa. Setelah melalui beberapa kali wawancara akhirnya kami diterima disalah satu perusahaan yaitu P.T. Timur laut, sebagai salesman, tugas kami menjual cosmetic (Merk Max Factor) ketoko-toko. Inilah pengalaman pertama kami bekerja pada sebuah perusahaan besar dan kami merasa mendapat banyak ilmu disana baik keterampilan lapangan maupun pengetahuan.

Setelah pengalaman pertama kami karir kami mulai berjalan, meskipun dengan segala suka dukanya kami berhasil meningkatkan karir setahap demi setahap sampai akhirnya berhasil menduduki posisi yang cukup baik dibeberapa perusahaan antara lain:
1972 – 1977:
Kami bekerja sebagai sales Representatif pada P.T. Lindeteves Indonesia Distributor GS-Battery di Indonesia dan banyak mendapat pengalaman baru memasarkan barang-barang Semi Industri baik kepada pengguna kendaraan secara langsung, took-toko maupun Industri automotive di Indonesia. Disini kami sempat dipromosikan menjadi Sales Supervisor sampai akhirnya memutuskan untuk pindah pada tahun 1977.
1977 – 1982:
Disini kami langsung melamar dan diterima sebagai Sales Manager pada P.T. INTRAPORT RAYA, dengan tugas memimpin sebuah tim armada penjualan yang bertanggungjawab atas target penjualan perusahaan di DKI Jakarta. Disinilah tugas pertama kami dalam mengelola sebuah armada penjualan berbekal pengalaman selama tujuh tahun bekerja dibidang penjualan ini.
1982 – 1986:
Pada tahun 1982 kami mendapat tawaran untuk bekerja sebagai Marketing Manager pada sebuah perusahaan pharmacy besar bermodal Amerika yaitu P.T. Warner lambert Indonesia dan kesempatan ini tidak kami sia-sia kan dan disinilah kami banyak belajar untuk pertama kalinya bagaimana merk-merk besar dipromosikan dan dipasarkan melalui berbagai media periklanan dimana mereka berusaha membangun “Citra” sebuah produk dan mem-posisikannya dimata “Konsumen”. Kepuasan Konsumen selalu menjadi pusat tujuan pemasaran mereka sehingga produknya dapat bertahan selama ratusan tahun.
1986 – 1989:
Lima tahun bekerja di Warner Lambert kami memutuskan Pindah lagi , kali ini pada sebuah perusahaan yang memproduksi “Kemasan Aseptik” yaitu kemasan Kotak untuk makanan cair seperti susu dan juice, yaitu TETRAPAK INTERNATIONAL, Pertimbangan kami saat itu adalah income yang jauh lebih tinggi dan pula disini kami mendapat pengalaman baru dalam pemasaran produk-produk Industry dari selama ini pengalaman kami memasarkan produk-produk konsumen.
1989 – 1997:
Dari Tetrapak kami berkenalan dengan beberapa industry minuman seperti Ultra Jaya, Sosro dan ABC dan kemudian dari ketiga produsen minuman terbesar inilah kami mendapat tawaran untuk mendirikan dan memimpin sebuah perusahaan “Distribusi” gabungan untuk memasarkan dan menjual minuman Teh dalam kemasan kotak keseluruh Indonesia. Kesempatan ini sebenarnya bukan pengalaman baru dalam pemasaran dan penjualan namun uniknya justru memberi kepada kami pengalaman bahwa didalam sebuah organisasi masalah perilaku justru menjadi masalah paling besar yang dapat menghambat kemajuan sebauh perusahaan. Hal ini terjadi karena diantara direktur dan Pemegang saham perusahaan justru kurang ada kerjasama dan kesepakatan tentang konsep kemana perusahaan akan diarahkan.
1997 – Des 2002:
Oleh karena hal ini pula akhirnya kami meninggalkan perusahaan dan memang akhirnya perusahaan dibubarka setelah 8 (delapan) tahun bergabung dan saat ini distribusi produknya dikembalikan kepada perusahaan induknya masing-masing. Kami kemudian bekerja pada sebuah perusahaan istribusi minuman berenergi yaitu LIPOVITAN sampai tahun 2002 ketikakami memutuskan untuk meletakkan semua jabatan walaupun menghasilkan uang yang lumayan besar karena ingin melanjutkan impian kami mendirikan sebuah “Pusat Pelatihan Perilaku Assertive”
Mendirikan Y.P.M.B. (Yayasan Pendidikan manajemen Bogor).
Sampai dengan tahun 2002, kami masih bekerja sebagai professional pada P.T. Taisho Indonesia dan menjabat sebagai General Manager dan ketika kami memutuskan untuk mengundurkan diri karena ingin mewujudkan cita-citanya sebagai seorang “Trainer” atau “Motivator” sebuah cita-cita yang sebenarnya tertunda karena pekerjaan-pekerjaan kami sebagai professional yang sangat membutuhkan konsentrasi dan sangat menyita waktu namun memberikan kepada kami bekal untuk akhirnya kami sharing kepada anda semua para pembaca “Kolom Getol, Salesman Get On Line”
MOUNTSA OUTBOUND
Di YPMB kami merasa bahwa apapun pengetahuan dan keterampilan anda tidak akan bermanfaat secara maksimal apabila anda tidak bisa atau tidak mau “bekerja sama” dan hanya mementingkan diri sendiri saja tanpa mau mementingkan kepentingan orang lain. Oleh karenanya kami memutuskan membuat sebuah program Outbound yang akhirnya kami namakan “MOUNTSA OUTBOUND”
MountSa Outbound menfokuskan programnya pada pembinaan “Perilaku Assertive” melalui simulasi berbagai permainan physic dilapangan yang sangat menyegarkan, permainan-permainan direncanakan sedemikian rupa sehingga membuat para peserta training bekerjasama satu sama lain dan tanpa dipaksakan akhirnya membuat peserta training menyadari pentingnya “Bekerjasama” ini adalah awal dari sebuah usaha “Team-Building” Pelatihan juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi guna meningkatkan pemahaman mereka atas pentingnya sebuah tim dan “Komitmen” bersama sehingga ketika mereka kembali kepada suasana kerja sehari-hari kerjasama tim seperti yang dikerjakan dalam pelatihan dapat diterapkan.


