Cermin

Pernah kudengar orang berkata begini, banyak orang di kota ini sudah tidak bisa lagi menjaga kotanya sendiri. Lihat saja betapa tidak terurusnya kota ini, padahal kan ini jadi tanggung jawab dunia akherat.
Sang aktor terus angkat aksi, meski sudah banyak orang yang lalu-lalang memelototi. Mereka sama-sekali tidak peduli, sebab lebih dari pada itu apa yang disebut harga diri ternyata menjadi alasan kuat kenapa mereka bersikap demikian.
Di sebuah desa terdapat sebuah keluarga yang cukup berada. Sebut saja keluarga Mahar. Dalam rumah yang terbilang besar tersebut tinggallah seorang suami, istri dan seorang anak yang masih belum beranjak dewasa. Maka suatu hari tiba-tiba datang tiga orang pengemis ke rumah tersebut.
Aku lihat dari balik kaca jendela orang yang mengganggu belajarku itu, seorang wanita usia lima puluh tahunan, menggendong satu baku jamu dan membawa ember kecil di tangan kirinya. Kebaya lusuhnya itu berwarna biru tua dengan jahitan tambalan di sekitar lengan kebaya itu.
Perempuan ini menyimpan banyak kepahitan di dalam hatinya. Terlahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara menjadikan perempuan ini kuat memikul semua beban yang dipercayakan Papi dan Maminya agar adik-adiknya bisa bersekolah hingga urusan menikahkan adik-adiknya.
Di suatu sore yang cerah, indah dan menakjubkan, terlukis seberkas senyum dari bibir seorang bocah perempuan di retinaku. Indah lembayung yang perlahan turun memberi nuansa tersendiri, manakala ia menggerak-gerakkan tubuhnya di tepi kanal yang dipenuhi sampah-sampah.
Di antara sekian banyak keangkuhan, akukah yang angkuh ? Pohon-pohon tua yang berderet itukah ? Orang-orang itukah? Kendaraan-kendaraan mewah itukah? Rumah jabatan itukah? Atau langitkah ? Ketika mataku terfokus pada seonggok tubuh yang terka tragis di pundak jalan yang ....
Bu Imah harus berjuang keras untuk bangkit dari rasa sakit yang mengiris-iris hatinya. Bu Imah sadar bahwa ia harus menghidupi tiga orang anaknya. Bukan hanya itu, Bu Imah juga menampung tiga keponakannya yang sudah yatim piatu.
Berdampingan dengan seorang laki-laki tua di sebuah halte di tengah kota, membuatku terkenang kembali sosok seorang kakek yang telah meninggal dunia 2 tahun silam. Wajahnya, rambutnya, matanya, kulitnya, dan caranya berpakaian, betul-betul membuatku seolah melihat kembali wajah sang...
Laki-laki suku bugis yang mengantar saya pulang ke rumah di suatu malam yang sangat larut ternyata adalah satu dari sekian banyak tukang ojek yang kerap berseliweran mencari penumpang di sepanjang jalan Pettarani. Kumisnya tebal dan nampak kasar, wajahnya sangar, ditambah warnah kulit hitam. Melihat laki-laki itu terus-terang membuat saya berpikir panjang ketika tiba-tiba ia menghampiriku berdiri di tepi jalan sepi sembari berkata, “Ojek. Kemana?” Ojek? Satu langkahku mundur, sembari berpikir panjang, perasaan di sekitar jalan ini tidak ada pangkalan ojek, bahkan saya tidak pernah mendengar sekalipun ada tukang ojek di sini. Laki-laki itu kembali menatap saya dengan perasaan gundah yang berkelebat di dadaku. Saya khawatir akan mendapat masalah jika saya berlama-lama menatapnya, apalagi di jam-jam seperti ini. Akh, Tidak pak, kataku menolak sambil menggerakkan telapak tangan.

 1 2 3 > 

© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :