jeruk bali
Sosbud
8-Apr-2008 10:01:24 WIB
CERMIN
Kepada yang Tercinta



Oleh : Ashady
http://bugistoto.bloggaul.com

Pertama-tama ijinkan saya menyatakan bahasa jiwa ini kepada yang tercinta, bangsa ini. “Bangsaku, nasibmu adalah nasib kami. Bangsaku, jiwamu ada jiwa kami. Dan bangsaku, hidupmu berarti hidup kami juga!”

Ketika saya berjalan di tengah hiruk-pikuk kota yang katanya temperamental (maaf, hanya mengutip ungkapan teman), tak bukan dan tak lain kudapati segadang proyeksi di dalamnya ; ada mall megah, ada corak kebudayaan yang kian berkembang, ada seruak deru kendaraan yang menggaung, ada bangunan-bangunan tinggi menjulang, ada bos-bos yang lewat berdasi garis-garis, ada pengemis dan gelandangan berbaju dan berwajah urakan, dan ada banyak lagi yang kulihat. Sebenarnya ini bukan hal baru lagi, sebab keadaan seperti itu sudah sekian lama menghiasi kota. Saya salah meraba sepertinya, tapi entah kenapa jiwaku merasa bahwa yang kusaksikan itu adalah hal-hal baru dan membuatku merasa menemukan ‘kejutan’ lain di tengah peradaban yang salah atau tidak jika dikatakan temperamental. Cukup, saya mau berjalan lebih jauh lagi ! Kataku tegas saat kuayuhkan kaki kembali menelusuri jalan yang terik mencucuk.

Sampai pada sebuah dukan di pinggiran jalan, seorang perempuan berjilbab menyambutku dengan sapaan, “Mau beli apa, nak?” merdu suaranya, membuatku mengenang perawakan ibu nun jauh di kampung halaman. Maka kusambung kata-katanya dengan sekelebat senyum lebar. Kukatakan setelahnya bahwa segelas air kubutuhkan untuk melepas dahaga.

Maka perempuan itu lekas membuka lemari pendingin dan menyodorkanku sebotol minuman dingin. Saya menolak, lantaran di dompetku sepeser rupiah tak kupunyai. Hari ini saya sengaja berjalan sejauh mungkin tanpa memiliki serupiah pun, namun dalam benakku meyakini bahwa masih ada orang-orang yang nantinya mau berbelas kasih kepadaku.

“Maaf bu, saya lagi tidak punya uang untuk beli minuman itu. Disimpan saja.” Kataku sembari menelan ludah cepat-cepat.

“Ohh, tidak apa-apa, diambil saja kalau begitu,” suara pelan perempuan sederhana itu lagi-lagi membuatku terketuk. Jiwanya begitu ikhlas bagiku, apalagi perempuan itu senantiasa memberiku senyum ramah. Kuraih pemberiannya, dengan harapan bahwa saya punya utang budi pada perempuan itu.

Kering tenggorokanku akhirnya terbasuh juga dengan dingin minuman yang kuteguk bersama keikhlasan perempuan itu. Semangatku muncul lagi, kelelahanku sudah terusir jauh-jauh. Lalu perempuan itu mendekatiku, setelah merapikan sampah plastik yang ada di halaman dukannya.

“Bu, kenapa ibu mau beri saya minuman ini. Bukannya ibu menjualnya, kalau ibu rugi bagaimana?” kataku basa-basi. Perempuan itu tertawa kecil memerlihatkan gigi-giginya yang putih.

“Kalau ibu rugi juga paling tidak seberapa dibandingkan pemberian ini. Yah, namanya juga kita mesti saling bantu.”

Sederet kalimat itu ibarat sebuah tiupan angin yang mengibas di pori-poriku,  damai rasanya, sedamai jiwa ini yang bernaung di bawah pepohonan rindang dan menatapi sungai yang tenang di kaki bukit. Buru-buru kumetaforakan tentang dirinya. Berbahasa layaknya seorang penggugah yang menyatakan kebanggaan akan perspektif angan-angan. Tidak berlangsung lama, di otakku, ternyata masih terpaut kekeluhan tentang apa dan di mana saya berada kini. Di pelukan bangsaku yang kian sesak dengan hiruk-pikuk di dalamnya, bangsa yang sudah menjelma seperti sesosok temperamental kata temanku. Kukatakan saja pada perempuan di sampingku.

“Sekarang hidup di kota susah sekali yah bu, orang-orangnya juga sudah banyak yang tidak peduli dengan nasib bangsanya sendiri. Tapi bukan berarti semuanya, saya yakin masih banyak dari kita yang punya kepedulian.” Dari tempat dudukku, mataku bebas memerhatikan seorang anak yang sibuk mengurusi koran jualannya. Entah keadaan atau karena keterpaksaan hingga dirinya seakan sudah punya takdir hidup di perempatan jalan itu.

Dan perempuan di sampingku justru tersenyum lebar, katanya anak yang kusebut itu adalah korban kekerasan dari orang tuanya. Semuanya karena terpaksa sampai akhirnya orang tuanya tidak lagi memedulikan pendidikan dan masa kecilnya yang semestinya ceria. Kutatap mata perempuan tersebut. Iba menyembur cepat, ketika ia berkata tentang pendidikan dan masa kecil. Yah, memang tidak wajar untuk anak seperti dia harus kehilangan kebahagiaan serta hak memperoleh pendidikan hanya untuk keterpaksaan demikian. Sangat tidak rasional, bukankah pemerintah juga sudah memberlakukan himbauan wajib belajar 9 tahun? Dan jika seperti ini; satu, dua, tiga, puluhan, ratusan, atau jutaan anak yang diperlakukan seperti itu, maka nasib bangsa ke depannya akan seperti apa? Keluhku.

Tentang bahasa jiwaku kepada yang tercinta, bangsa ini sedari tadi, “Bangsaku, nasibmu adalah nasib kami. Bangsaku, jiwamu ada jiwa kami. Dan bangsaku, hidupmu berarti hidup kami juga!”

Kupertanyakan lagi kalimat tersebut, bangsaku, bangsaku, dan bangsaku. Kuulang-ulang dengan nada lemah. Membayangkan anak yang masih sangat mungil itu menjual berita-berita tentang nasib bangsa yang tercetak di kertas koran tersebut. Sebetulnya ia pun telah bersusah-payah berjuang demi bangsa, tapi apakah bangsa ini sendiri sudah memikirkan tentang nasibnya kelak. Ke mana dia dan sekian banyak serupa dia menggantungkan asa dan cita-cita kelak? Maukah bangsa ini beserta motor penggerak bangsa yang kusebut para ‘pejabat terhormat’, tersebut turut peduli dengan hati ikhlas seperti perempuan di sebelahku yang dengan keikhlasannya pula memberiku sebotol minuman dingin pengusir dahaga tanpa pamrih dan bayaran sepeserpun.

Mudahan-mudahan kata temperamental hanyalah sekedar angin lalu yang keluar dari mulut temanku atas penilaiannya terhadap bangsa ini; sistem pemerintahan, KKN, atmosfir keterpurukan dunia pendidikan, anarkisme dalam lingkup kemasyarakatan, perilaku terselubung dari para pemangku kekuasaan tertinggi yang jusru akan merenggut sekian banyak hak-hak rakyatnya, dan ketidakwajaran lainnya. Dan dari sini pula kuharap bangsa ini tetaplah menjadi bangsa yang memiliki siri’ (harga diri), bukannya menjadi bangsa temperamental yang semakin hari semakin garang memperlakukan jiwa-jiwa penuh rintihan di dalamnya.

Ditulis di Makassar, 02 April 2008

Nama:
Email:

More CERMIN:
[ more Cermin ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :