Fiksi
22-Apr-2008 08:26:00 WIB
CERMIN
Tukang Ojek
Laki-laki suku bugis yang mengantar saya pulang ke rumah di suatu malam yang sangat larut ternyata adalah satu dari sekian banyak tukang ojek yang kerap berseliweran mencari penumpang di sepanjang jalan Pettarani. Kumisnya tebal dan nampak kasar, wajahnya sangar, ditambah warnah kulit hitam. Melihat laki-laki itu terus-terang membuat saya berpikir panjang ketika tiba-tiba ia menghampiriku berdiri di tepi jalan sepi sembari berkata, “Ojek. Kemana?”
Ojek? Satu langkahku mundur, sembari berpikir panjang, perasaan di sekitar jalan ini tidak ada pangkalan ojek, bahkan saya tidak pernah mendengar sekalipun ada tukang ojek di sini. Laki-laki itu kembali menatap saya dengan perasaan gundah yang berkelebat di dadaku. Saya khawatir akan mendapat masalah jika saya berlama-lama menatapnya, apalagi di jam-jam seperti ini. Akh, Tidak pak, kataku menolak sambil menggerakkan telapak tangan.
Kali ini laki-laki itu tersenyum kecil menampakkan deretan giginya yang putih. Sekali lagi langkah kaki saya bergeser saat laki-laki yang sudah menggunakan helm hitam itu mengisyaratkan sebuah ajakan. Ajakan dan penolakan antara saya dan laki-laki itu pun terjadi. Saya menatap sekeliling, sudah begitu sepi, jangankan pete’-pete’, taksi pun sudah tidak kelihatan lagi di retina mataku.
“Adek mau ke mana, tidak usah takut. Saya tukang ojek, bukan penjahat!” sedikit nada meyakinkan keluar dari bibirnya, saya tersenyum saja.
“Tidak pak, saya lagi nunggu teman yang jemput!” elakku.
“Malam seperti ini adek mesti hati-hati, bukan apa, takutnya nanti terjadi apa-apa dengan adek!” lagi-lagi ia mengisyaratkan nada meyakinkan. Benar kata laki-laki itu, sangat banyak resiko jika sendirian di suasana larut malam. Maka perasaan hati yang tadinya berdegup, kini mulai agak tenang. Laki-laki itu membuka helmnya kemudian, seakan memintaku untuk mengenal betul raut wajahnya. Adakah tampang penjahat? Perampokkah ia? Atau apakah namanya yang bisa saja membuat seseorang takut ketika melihatnya?
Antara ya dan tidak. Demikian saya berpikir lagi. Lalu kami saling menatap tanpa kata untuk beberapa saat kemudian. Dan keputusan saya adalah menjadi penumpangnya. Yah, apapun yang terjadi, saya justru berkata dalam hati, urusan hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Kalau memang sudah ajanya mau diapa lagi. Saya lantas menanyakan harga tumpangan ke Toddopuli. Dan laki-laki itu berkata 5000 rupiah. Mahal memang untuk ukuran kantong saya, tapi harus bagaimana lagi. Sepertinya ini adalah kendaraan terakhir yang bisa saya gunakan agar bisa tiba sampai tujuan.
“Iya pak!” saya setuju, lalu ia menyodorkan sebuah helm kepada saya.
Dalam perjalanan, saya membuka pembicaraan di tengan kecepatan lambat kendaraan yang ia kemudikan.
“Saya baru dengar kalau di sini ternyata ada tukang ojek, Pak!”. Kataku.
“Iya memang dek, kami tukang ojek di sini tidak seperti tukang ojek yang lain. Di sini kami tertutup dengan alasan nama baik. Makanya kami tidak punya warna helm tertentu atau nomor di helm!”
“Terus mana orang bisa tahu kalau bapak tukang ojek?”
“Yah, seperti cara saya tadi ke adek, itupun harus dengan cara yang santun agar orang tidak salah sangka. Sekarang dapat bahaya itu lebih gampang, makanya untuk keselamatan penumpang kami pun harus berani menanggung resiko. Kalau perlu nyawa taruhannya!”
Kata-kata yang mendiskripsikan tentang perjuangan demi mencari kehidupan. Saya menangkap ucapan demikian dari pembicaraan cukup panjang kami. Laki-laki itu juga sempat berkata jika dirinya berprofesi sebagai tukang ojek belum cukup lama. Alasaanya demi hidup dan keluarga. Seharinya ia bisa meraup sekitar 25 ribu rupiah saja. Tapi jika keluar daerah, biasanya tarifnya juga jauh lebih tinggi.
Saya sempat kaget, ternyata ia tidak saja mengantar penumpang di dalam kota, melainkan ke luar daerah. Itu berarti resikonya juga jauh lebih tinggi dan menurut hitungan saya ongkos tumpangan sekalipun tidak akan sanggup menanggung resiko demikian. Tapi katanya begitulah perjuangan hidup, jika tidak berani mengambil resiko, tidak ada gunanya hidup. Saya mengangguk kagum. Betul-betul sebuah perjuangan yang ia lakukan rasanya sangat jauh di luar perkiraan. Saya membayangkan bagaimana jadinya saat ia tengah mengantar penumpangnya ke luar daerah, namun di tengah jalan ia di todong, kendaraannya di rampas, lalu dibunuh? Saya bergidik.
Saat saya mengatakan hal demikian, ia justru tersenyum lebar. Temannya pernah mengalami hal seperti itu, begitu katanya. Ia melanjutkan, tapi namanya pekerjaan, dijalani saja selagi masih mampu. Jangan terlalu memikirkan resiko secara berlebihan, karena nantinya akan membuat kita tidak mau berbuat apa-apa. Jadi orang malas, dan membuat kita hanya tahunya duduk mendongkol di rumah. Bagaimanapun semua pekerjaan itu selalu ada resikonya, dan kalau kita lari dari kenyataan itu, berarti kita sudah menjadi manusia pengecut yang takut pada gertakan keadaan, padahal sebenarnya gertakan itu seperti angin lalu saja di angan-angan. Kenapa saya berkata demikian? Yah, karena saya sudah ketemu dengan banyak resiko hidup dek. Saya punya keluarga, dan yang kini saya pikirkan adalah bagaimana usaha yang mesti saya lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, bukannya memikirkan resiko jika saya mondar-mandir bawa penumpang. Begitulah pekerjaan saya sebagai tukang ojek!
Tidak terasa pembicaraan itupun berakhir saat saya memintanya berhenti tepat di depan gerbang jalan menuju rumah. Sedari tadi memang saya telah memikirkan resiko yang terlalu berlebih ketika ia datang menghampiri dan menawarkan jasa. Semuanya salah, saya yang salah mengira tepatnya. Meski pada dasarnya kekhawatiran itu selalu ada, tapi bukan berarti mengangapnya sebagai jalan buntu untuk menuju sebuah tujuan. Saya memaknai satu hal lagi larut malam itu, yaitu sudah berani mengambil resiko dalam hidup, sebab hidup memang penuh dengan resiko. Semuanya berkalang di belakang pundak laki-laki yang mengantar saya pulang, di atas tumpangan seorang tukang ojek.
Makassar, 12 April 2008