Oleh: Ashady
http://bugistoto.bloggaul.com
Berdampingan dengan seorang laki-laki tua di sebuah halte di tengah kota, membuatku terkenang kembali sosok seorang kakek yang telah meninggal dunia 2 tahun silam. Wajahnya, rambutnya, matanya, kulitnya, dan caranya berpakaian, betul-betul membuatku seolah melihat kembali wajah sang kekek yang penuh dengan kesederhanaan. Sejumput pandangan seolah tak mau lekang dari perangainya.
Siang yang terik menyengat dimana silau matahari memicingkan mata, nyatanya membuat laki-laki tua itu mendengus berkali-kali. Kali ini ia mengeluarkan sesuatu dari saku baju kemejanya, kupandangi terus, dan kemudian terlihat sebuah bungkusan plastik berisi tembakau beserta kertas di tangannya yang akan diracik menjadi sebatang rokok. Ia lalu menggulung-gulung tembakau kering tersebut dengan kedua telapak tangannya, lalu merekatkan dengan air liurnya. Pemandangan yang sudah tidak asing bagiku, apalagi ketika kakek masih hidup dulu, beliau sempat memberiku banyak pelajaran mengenai sebatang rokok yang ia pelintir sendiri.
Aku tersenyum kemudian, sambil terus memandangi gerak-gerik laki-laki tua itu. Sebatang rokok yang sudah jadi itu lalu dikulumnya lama-lama. Asyik sekali nampaknya ia menikmati, seperti halnya anak kecil yang melumat sebatang permen manis. Lalu ia menyalakan sebuah korek api dan dan mulai membakar ujung rokoknya. Seketika asap tebal membumbung pekat dan meliuk-liuk di sekitar wajahnya. Aroma khas tembakau pun meliuk masuk ke paru-paruku dengan lihainya.
Lewat pertemuan itulah bayang-bayang masa laluku kurebut kembali. Rasanya jauh di luar dugaan kalau ternyata laki-laki tua itu hadir sebagai perlambang sebuah kisah yang hari ini membuatku tertegun panjang beberapa saat kemudian. Sebelumnya ada sekelebat mimpi yang sempat kugaungkan, dan mimpi itu merupakan bagian dari mimpi yang sempat kuutarakan kepada sosok sang kakek.
“Saya mau jadi pemimpin, bisakah, kek?” kataku suatu hari pada kakek. Masih jelas diingatanku kalau ucapan itu adalah ucapan yang lantas membuat kakek tersenyum bangga. Sebagai seorang cucu, baru kali itu aku berkata demikian kepadanya. Aku pun sebenarnya tidak sadar betul apakah harapanku itu adalah sulur-sulur keyakinan dalam hati? Bertanya-tanya saya tentang pemimpin. Apa itu pemimpin, siapakah yang bisa jadi pemimpin, dan tentu saja apakah saya bisa membanggakan banyak orang dengan karakter seorang pemimpin yang baik nantinya?
Masih pertanyaan-pertanyaan konyol itu mengisi sarafku, lalu laki-laki tua yang sedari tadi duduk di sampingku sembari mengepulkan asap rokoknya, kini menawariku sebatang rokok yang tahu-tahu sudah ia buat.
“Rokok Nak?”
Lalu senyumku mekar dan meraih pemberian itu. Teringat masa kanak-kanak ketika kedapatan mengisap sebatang rokok persis dengan rokok yang ia tawarkan. Berawal dari situlah aku merasa punya satu kekuatan baru untuk mengajaknya berbincang. Dan tanpa menunggu lama, sayapun berkata begini, “Pak, apakah Bapak seorang pemimpin?” entah pertanyaan itu bodoh atau tidak, namun di hadapanku laki-laki tua itu melongo. Lalu tersenyum, dan lama-kelamaan ia tertawa kecil.
“Laki-laki itu adalah pemimpin, seperti saya, seperti kau juga. Seperti bapakmu, seperti gurumu, seperti walikotamu, seperti gubernurmu, atau seperti presidenmu.” Katanya yakin, dan seakan ingin sekali meyakinkanku bahwa apa yang ia ucapkan adalah. Sesuatu yang sangat ingin sekali ia koarkan sedari dulu. Itu hanya perkiraanku saja, tapi lebih dari itu, aku justru menemukan sebuah semangat pemimpin dalam dirinya, manakala ia melepas kopiah yang melekat di kepalanya. Kopiah itu berwarna hitam lusuh, sudah tua. Kelihatannya sudah sangat bersahabat dengan dirinya yang memiliki helai-helai rambut memutih.
“Jadi semua laki-laki itu pemimpin, Pak?” tanyaku lagi.
“Iya. Itu menurut bapak saja. Laki-laki itu adalah pemimpin bagi keluarganya nanti. Punya anak, dan tentu saja akan memberikan contoh baik buat anak-anak dan istrinya. Yah, laki-laki memang seharusnya menjadi teladan.”
“Lantas kenapa juga banyak pemimpin termasuk pemimpin keluarga yang tidak patut dijadikan suri teladan Pak?” usutku.
Laki-laki tua kemudian diam dalam duduknya. Sekali lagi batangan rokok di tangannya ia seruput dalam-dalam dan menghebuskan jauh-jauh. Lama ia terdiam di situ, dan beberapa saat kemudian ia kembali menatapku.
“Hmmm, ketidakbenaran yang selama ini tercium mungkin awal dari sebuah keterpurukan. Di negeri kita saja sudah banyak pemimpin yang justru salah menampatkan kepemimpian mereka. Jangankan pemimpin negeri, di dalam keluarga mereka pun banyak ketidakbenaran. Sebenarnya bapak tidak bisa berkata banyak di sini, sebab Bapak juga punya kisah suram dengan makna sebuah kepemimpinan. Cukup, Nak!”
Terasa nada cengkraman mengikat jiwaku. Laki-laki yang sebelumnya membuatku merasakan sebuah semangat hidup, lama-kelamaan berbalik menjadi hal yang jauh di luar perkiraanku. Sepertinya benar jika ia punya masa lalu yang cukup miris seperti ucapannya tadi. Kenapa dengan dia sebenarnya?
“Maaf, Nak. Bapak harus pergi dulu,” saat aku berfikir-berfikir tentang apa yang ia rasakan, secara tiba-tiba laki-laki itu berucap pamit kepadaku. Semakin tidak bisa kumengerti dengan sikapnya. Beginikah sosok seorang pemimpin? Atau seperti sang kakek yang sudah beberapa tahun meninggal, sekalipun beliau tidak pernah memerlihatkan sikap demikian kepadaku. Selanjutnya kukatakan dalam hati, bahwa sebenarnya gagalkah ia sebagai laki-laki? Sebagai suami dari istri dan anak-anaknya? Atau sebagai pemimpin secara manusiawi? Aku tertunduk sejenak.
Laki-laki itu segera berdiri, dan sebelum ia beranjak, terlebih dahulu ia kembali menyodoriku dengan sebatang rokok yang ia pelintir sendiri. “Bapak sebenarnya termasuk pemimpin yang gagal. Jangan bertanya tentang pemimpin kepada Bapak, sebab Bapak bukanlah orang yang patut diteladani. Cobalah bertanya pada laki-laki yang lain, walikotamu, gubernurmu, atau presidenmu. Bapak yakin mereka adalah pemimpin sejati.” Dan laki-laki tua itupun beranjak dengan wajah tertunduk, menitipkan sejuta pertanyaan tentang pemimpin sejati di hatiku.
Makassar, 14 Mei 2008