Oleh : Nunik Utami
Pemenang 3 Lomba Cermin Perempuan : Cerita Cinta dan Cita
Menjadi pekerja kantoran yang juga merangkap sebagai ibu rumah tangga dengan satu orang anak, ditambah menjadi penulis, seperti aku, benar-benar memerlukan ekstra tenaga dan pikiran. Tak jarang aku harus menyelesaikan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu bersamaan. Meskipun demikian, aku menikmati semua peranku ini.
Bisa menyelesaikan –dengan baik- semua tugas kantor yang diberikan atasan, membuatku merasa penting dan dibutuhkan. Berhasil menyuapi anak dan meluangkan waktu untuk bermain bersamanya, juga membuatku bangga. Apalagi ditambah dengan memenuhi deadline menulis dari penerbit. Semua itu benar-benar membuatku merasa hidupku sangat lengkap.
Namun tak jarang pula aku merasa sangat lelah. Lelah fisik dan mental, terutama saat melihat teman-teman yang hidupnya serbasantai. Teman-teman bisa tertawa-tawa sambil bergosip disaat aku harus menyelesaikan tugas kantor secepat mungkin, agar aku punya waktu untuk melanjutkan naskah cerpenku. Teman-teman bisa melenggang pergi berjam-jam ke mall untuk cuci mata, disaat aku harus memikirkan dan mengurus anak. Bahkan ada teman yang tidak usah bekerjapun hidupnya tidak pernah kekurangan, malah bisa makan di rumah makan mewah setiap hari. Kadang aku iri pada mereka.
Suatu hari, ketika aku sedang merasa amat lelah, tiba-tiba terlintas dipikiranku untuk diurut. Aku ingat, beberapa waktu yang lalu tetanggaku bercerita tentang tukang urut langganannya. Nama tukang urut itu adalah Bu Imah. Katanya pijatannya enak. Tubuh menjadi segar setelah dipijat oleh Bu Imah. Selain itu, Bu Imah juga bisa membantu menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu.
Langsung saja kutelepon Bu Imah. Tak berapa lama, Bu Imah muncul di depan rumahku. Wah, aku merasa surprise melihat penampilannya. Bu Imah cantik, berperawakan kecil, dan dandanannya rapi. Senyum ramah tidak pernah lepas dari bibirnya. Dari penampilannya aku menyimpulkan bahwa Bu Imah adalah orang yang pintar dan terpelajar.
Aku mempersilahkan Bu Imah masuk ke kamar. Ia mulai memijatku. Tidak disangka, Bu Imah yang badannya kecil begitu ternyata tenaganya tidak bisa dianggap main-main. Sambil dipijat, aku mengajaknya berbincang-bincang tentang segala hal. Bu Imah sudah lama menjadi tukang urut. Mulai bayi hingga orang dewasa, mulai orang sehat yang ingin badannya fit kembali setelah lelah bekerja hingga orang yang mengalami kesleo, masuk angin, ataupun ada yang tidak beres organ-organ dalam tubuhnya, pernah di urut oleh Bu Imah, dan sembuh.
Bu Imah orang yang rendah hati. Ia selalu berkata bahwa kemampuannya itu tidak lain berkat pemberian Tuhan. Ah, aku jadi semakin tertarik tentang Bu Imah. Lalu, mengalirlah cerita-cerita tentang hidupnya, dari bibir mungilnya.
Aku tak menyangka usia Bu Imah sudah lima puluh tahunan. Wajahnya terlihat lebih muda dan senyum ceria tidak pernah lepas menghiasi wajah ayunya. Aku semakin tercengang ketika tahu bahwa saat ini Bu Imah hidup bersama suami keduanya. Kehidupan pernikahan Bu Imah yang pertama, tidak begitu mulus. Bahkan bisa dikatakan hancur berantakan.
Suami Bu Imah yang pertama adalah laki-laki yang senang main perempuan. Bu Imah pernah dikhianati dan disakiti. Suaminya jarang pulang ke rumah dan tidak menafkahi anak istri. Perangainya kasar dan sering melontarkan kata-kata kotor yang sangat menyakitkan.
Ketika suaminya menikah lagi dengan seorang perempuan bernama -sebut saja- Rita, Bu Imah merasa hidupnya benar-benar hancur. Berhari-hari ia menangis meratapi nasibnya. Menyesali mengapa suaminya tega berbuat seperti itu. Juga tak habis pikir mengapa ia bisa memilih suami yang tidak bertanggung jawab.
Bu Imah harus berjuang keras untuk bangkit dari rasa sakit yang mengiris-iris hatinya. Bu Imah sadar bahwa ia harus menghidupi tiga orang anaknya. Bukan hanya itu, Bu Imah juga menampung tiga keponakannya yang sudah yatim piatu. Mereka masih kecil-kecil. Kasihan mereka kalau Bu Imah terus menerus terpuruk dalam kepedihan.
Betapa pedihnya berjuang seorang diri memberi makan enam buah perut – tujuh, dengan Bu Imah sendiri -. Belum lagi biaya sekolah yang harus dikeluarkan. Tapi semua itu harus dijalani.
Sehari-harinya, Bu Imah membuat kue untuk dijual ke warung-warung. Ia rela mengurangi jam tidurnya demi enam anak yang tinggal bersamanya. Bu Imah juga sengaja menyibukkan diri agar tidak sempat ingat lagi akan sakit hatinya akibat kelakuan suami.
Bu Imah juga sering menyambangi kakaknya yang berprofesi sebagai seorang dokter. Tujuannya yaitu untuk membaca-baca buku kedokteran, untuk memperluas pengetahuannya. Ya, kebetulan dulu orang tua Bu Imah termasuk orang yang cukup mampu. Itu sebabnya ada diantara saudara kandung Bu Imah yang sukses. Seperti kakak Bu Imah itu. Lama kelamaan, Bu Imah mengerti tentang anatomi tubuh dan mulai bisa memijat. Awalnya, ada keluarga atau tetangga yang minta diurut olehnya. Semakin lama, kemampuan Bu Imah itu tersebar dari mulut ke mulut. Jadilah Bu Imah tukang urut langganan banyak orang. Dari situlah bu Imah mendapatkan lagi uang tambahan untuk biaya hidup.
Seiring waktu berlalu, kehidupan Bu Imah mulai berjalan normal. Usaha dagang kuenya sudah berkembang. Sudah banyak warung-warung yang menjual kue itu. Bahkan Bu Imah sendiri sudah memiliki warung sendiri. Anak-anak, satu persatu sudah mulai beranjak dewasa. Bu Imah merasa sedikit lega karena beban hidupnya mulai berkurang.
Saat Bu Imah sedang menikmati kehidupannya yang mulai beranjak normal, tiba-tiba datang seorang perempuan. Bu Imah membelalakkan mata ketika melihat perempuan itu hadir di pintu rumahnya dengan keadaan kusut masai. Dialah Rita, perempuan yang telah merusak rumah tangga Bu Imah.
Melihat Rita, emosi Bu Imah kembali memuncak. Bu Imah ingin sekali menghamburkan sumpah serapah pada perempuan itu. Tapi hati nurani Bu Imah berkata lain. Bu Imah malah merasa kasihan kepada perempuan malang yang tengah terisak-isak itu. Ternyata Rita juga telah ditinggalkan oleh sang suami –yang juga mantan suami Bu Imah-. Sama seperti Bu Imah, Rita juga telah dikhianati. Sementara itu, laki-laki yang telah menyakiti dua perempuan itu pergi mencari perempuan lain. Ck ck ck….
Rita memohon untuk diizinkan tinggal dirumah Bu Imah. Rita sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Rumah yang dulu ditinggali bersama laki-laki itu, kini sudah dijual. Rita juga tidak punya pekerjaan karena dulu ia hanya mengandalkan suami. Merasa senasib, Bu Imah mengizinkan Rita untuk menumpang tinggal. Rasa sakit hati dan emosi Bu Imah terkalahkan oleh perasaan ibanya melihat penderitaan perempuan yang pernah memporakporandakan hidupnya.
Aku tercengang-cengang mendengar kisah hidup Bu Imah. Mengapa perempuan bisa sekuat itu ya? Sebenarnya hati perempuan itu terbuat dari apa? Baja-kah? Hingga tahan meskipun diterpa badai maha dahsyat?
Aku juga masih terheran-heran. Bibir Bu Imah masih terus menyunggingkan senyum. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu yang sangat pahit dalam hidupnya. Aku jadi berfikir. Tidak sepantasnya aku mengeluh karena harus mengerjakan banyak hal. Pekerjaan rumah, pekerjaan kantor, juga pekerjaan sebagai penulis. Seharusnya aku lebih bersyukur karena kehidupanku tidak sepahit kehidupan Bu Imah. Bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan untuk bekerja di kantor, sehingga aku punya penghasilan yang bisa kugunakan untuk apa saja. Bersyukur bahwa aku bisa menulis, sehingga aku bisa menuangkan segala yang ada di pikiranku, termasuk keluh kesahku.
Bu Imah meneguk teh manis yang telah aku sediakan. Beberapa saat kemudian, terdengar ponselnya berbunyi. Bu Imah mengangkatnya dengan wajah sumringah. Rupanya telepon dari suaminya. Ya, Bu Imah sudah menikah lagi. Menurut Bu Imah, suaminya yang sekarang benar-benar sayang padanya. Penuh perhatian pada istri dan anak-anak Bu Imah. Aku bisa merasakan kebahagiaan Bu Imah dari raut wajahnya saat berbicara dengan sang suami di ponsel.
Bu Imah sudah selesai memijatku. Badanku jadi segar kembali. Hati dan pikiranku juga menjadi lebih kaya karena Bu Imah telah membagi pengalaman hidupnya. Ada banyak pelajaran hidup yang dapat kupetik dari sana. Beberapa menit kemudian, suami Bu Imah menjemput. Aku tersenyum memandang mereka pulang bersama.