Oleh : Ashady
http://bugistoto.bloggaul.com
Di antara sekian banyak keangkuhan, akukah yang angkuh ? Pohon-pohon tua yang berderet itukah ? Orang-orang itukah? Kendaraan-kendaraan mewah itukah? Rumah jabatan itukah? Atau langitkah ?
Ketika mataku terfokus pada seonggok tubuh yang terka tragis di pundak jalan yang memburaikan fatamorgana, pertanyaan itu melambung seiring debas angin menerbangkan ke pucuk-pucuk daun yang memayungi.
Seekor kucing tergeletak dengan darah mengalr membentuk sebuah peta kematian di atas legamnya aspal. Berbulu putih, berekor hitam, dengan sorot mata membelalak kaku. Gilasan mobil mewah baru saja mencerabut satu nyawa. Lelaki muda yang mengemudikan hanya terlihat berbalik sebentar dangan sinis di balik kaca dan segera melem raut caci. Di hatinya sama-sekali tidak membekas rasa iba dan belas kasih. Sementara seorang wanita berpakaian seksi yang ada di samping laki-laki itu sekilas melem tawa lebar-lebar.
"Yeiii, hari ini kamu jadi pembunuh", teriaknya lantang.
"Iya, pembunuh kucing sialan! Hahahahaha'
Kata-kata demikian sempat teekam dalam gendang telingaku kala lamat-lamat laju kendaraan mereka melintas di hadapanku. Kuikuti arah gerakan itu dengan dengan sorot mata tajam. Sekilas kata-kata itu seolah menindihku, mengusik jiwaku dengan sebuah lontaran mengiris relung. Sekelebat hasrat tiba-tiba melayang.
Bukankah ia makhluk ciptaan Tuhan juga? Seandainya takdir berbalik dan menimbulkan kegetiran pada kalian, dan semua orang hanya menatap angkuh, bagaimana jadinya?rdblquote
i0
Tubuh kaku itu masih terlentang tak bernyawa di atas pundak jalan. Di samping sebuah rumah jabatan bercat serba putih itu, perlahan busur pandangku mengarah pada sosok seorang laki-laki berpakaian salah-satu Dinas Pemerintahan yang baru saja keluar dari sebuah masjid sederhana yang juga teletak di area rumah jabatan itu.
Sesaat matanya menatap muak dan merongoh saku celananya, lalu mengambil sebuah sapu tangan putih. Ia berlalu beitu saja setelah menutup mulutnya dengan sapu tangan itu. Sejumput pandangan nampaknya tak sudi lagi dilayangkan. Namun di tengah sayu mataku memandangi laki-laki bertubuh buntak itu, tiba-tiba sebuah larik suara yang seperti remukan tulang menukik lagi di telingaku.
PRAAAAKKKKKKK!!!
"Tuhan, tak cukupkan sekali gilasan menderanya ?", sergahku miris.
Udara siang betul-betul melayangkan fatamorgana di kejauhan. Sekejap kutatap lagi tubuh malang itu yang kira-kira tergeletak 100 meter di hadapnku. Mobil yang menggilas untuk kedua kalinya kini semakin cepat melaju, meninggalkan serakan kepedihan, seperti isi perut dan otak seekor kucing itu yang terburai di pundak jalan. Di tempatku, kegetiran itu serasa memekak di urat saraf, menjalar mencabik selaput hati, hingga serasa melumpuhkan jiwaku.
Aku tak bergidik lagi.
Beberapa menit kemudian, terlihat seorang laki-laki yang berprofesi sebagai tukang sapu jalanan yang bergerak dari arah belakangku sembari menyingkirkan daun-daun kering juga sampah-sampah yang berserakan di bibir jalan dengan sapu lidinya.
Hingga ia sudah berada persis di hadapan kucing malang itu, rautnya seketika sayu. Ada kepedihan mendalam yang tergurat. Lalu buru-buru ia meletakkan sapu lidinya dan segera menghampiri tubuh kucing naas tersebut. Sesaat diangkatnya dan diletakkan di samping bak sampah yang ada di situ. Kemudian dengan sebilah kayu yang diraihnya, laki-laki itu segera menggali sebuah liang kecil dan menguburkan kucing itu di tepi got.
Namun entah mengapa terik yang sedari tadi mematuk sedemikian tajam di sudut-sudut kota, tiba-tiba saja berubah mendung. Gerimis pun berjatuhan satu-satu seperti butir-butir salju yang menyelimuti.
ildblquote Akankah ini menjadi sebuah petanda bahwa dari sekian banyak keangkuhan yang menyesaki bumi, laki-laki itu adalah penghalang timbulnya murka alam, hingga langit yang menatap angkuh pun turut melepas tangis ?
Sungai Tangka, 31 Mei 2008