jeruk bali
Sosbud
10-Jun-2008 12:07:27 WIB
CERMIN
Makna Lain di Balik Nama Kana



 

Oleh : Ashady
http://bugistoto.bloggaul.com

Di suatu sore yang cerah, indah dan menakjubkan, terlukis seberkas senyum dari bibir seorang bocah perempuan di retinaku. Indah lembayung yang perlahan turun memberi nuansa tersendiri, manakala ia menggerak-gerakkan tubuhnya di tepi kanal yang dipenuhi sampah-sampah. Bagai penari ia dihadapanku, sangat lincah, layaknya seorang anak yang setiap hari mengecap dunia kebahagiaan.

Rambut kemerahan yang diikat dengan karet gelang, pakaian setengah baru yang sepertinya baru saja dicuci, juga telapak kaki berdebu dan tanpa alas kaki, membuatku renyah menatap sebuah keindahan dalam diri anak itu. Siapakah namanya? Satu pertanyaan yang memburuku, namun pertanyaan itu tidak lantas terjawab begitu saja. Perlahan kudekati ia, dan secara perlahan pula mulai senyumku melengking untuknya.

“Siapa namamu?”

Selangkah anak itu menghindar, mungkin ia agak takut dengan kehadiranku yang masih asing baginya. Kuulangi lagi pertanyaanku, “Siapa namamu, adek?”

“Kana” jawabnya pelan.

Seketika nama itu mengingatku pada sosok seorang teman semasa SD dulu. Persis namanya Kana. Dalam ingatanku, Kana yang seorang teman tersebut selalu membuatku banyak merenung akan kisah hidup dan keluarganya. Di sekolah saja dulu ia banyak mendapat perlakuan kurang baik dari teman-teman yang lain, bahkan beberapa kali ia selalu kudapati menitikan air mata. Bukan cuma itu ketika melihat dirinya, selalu saja ada keenyuhan tersendiri, bagai menyaksikan sebuah potret kehidupan yang di dalamnya banyak mengakar benih-benih derita. Sebatas itu ingatanku, namun Kana yang ada di hadapanku kini, seorang bocah perempuan dengan gerak-gerik yang girang, justru membuatku merenung dalam dalam potret yang berbeda.

Sesaat setelah ia menyebutkan namanya, ia lalu melangkah meraih sebuah kaleng bekas di tepi kanal. Di dekatnya seorang bocah laki-laki tak berbusana menemani dengan sesekali tingkah genit ia pertontonkan. Dunia anak-anak yang kusaksikan adalah dunia yang penuh dengan kebahagiaan meski mereka belum menyadari apa sebenarnya yang mereka lakukan. Kehidupan mereka pun belum terbaca dalam angan-angan; akan kemana, mau jadi apa, makan apa,  bercita-cita seperti apa, dan sebagainya. Di sinilah pertautan yang menyeruak, dan selalu saja air mata menjadi jalan terakhir dalam kehidupan mereka. Menangisi apa saja, mungkin tidak dapat uang jajan, terjatuh saat tengah asyik bermain, dipukuli sama teman sendiri, atau mendapat ejekan-ejekan tidak mengenakkan.

Kedua bocah itu kemudian kembali asyik bermain dengan kaleng bekas yang mereka dapati setelah beberapa saat kuusik yang sekedar ingin mengetahui namanya. Ingin rasanya aku bertanya lebih dekat, tentang keluarganya mungkin, atau tentang apa saja, namun hatiku merasa tiba-tiba tidak tega. Cukuplah mataku asyik memandang dengan segenap rasa yang menyeringai di hatiku. Aku tersenyum membayangkan Kana dan bocah laki-laki itu tumbuh menjadi sepasang remaja yang cantik dan gagah. Bukan tidak mungkin khayalanku akan tumbuh menjadi sebuah kenyataan, tentu dengan satu catatan usiaku pun kian bertambah. Ketika semuanya terjadi, mungkin akupun sudah menimang seorang buah hati, atau…, sudahlah!!! Aku tertunduk kala itu.

Lamunanku terusik. Kudengar suara tangis memekak tidak lama kemudian. Khawatir dan bimbang kini menyelimuti jiwaku. Kemana Kana dan bocah laki-laki yang bersamanya sedari tadi? Kucari-cari mereka, tapi sudah tidak nampak lagi di mataku. Sebab dilanda kepanikan, maka langkah kakiku segera beranjak dan mencari tahu sumber suara itu. Dan ternyata tidak jauh dari posisiku yang sedikit tertutupi rimbun dedaunan Kana terlihat tengah meraung sekeras-kerasnya. Ia terjatuh di atas aspal berkerikil. Lututnya berdarah, semenatara bocah laki-laki tadi tidak lagi didekatnya. Ternyata Kana menangis karena kaleng bekas miliknya direbut oleh bocah laki-laki tadi.

Gambaran yang Kana dapati adalah sesuatu hal yang nyaris sama dengan Kana seorang teman tersebut. Ia ditinggalkan begitu saja setelah diperlakukan kurang terpuji sampai air matanya mengalir terus-menerus. Sebagai anak perempuan seperti Kana, tangis adalah bahasa hati yang teriris, pedih, sebab tidak mampu berbuat banyak. Sementara bocah laki-laki tadi sudah menampakkan sebuah keegoisan dalam dirinya. Perbedaan yang teramat pasti antara dua insan manusia berlawanan jenis.

Lalu apa yang tergambar dari Kana yang sampai kini mulai jelas diingatanku. Kuketahui ia lahir dari keluarga miskin. Sepulang sekolah ia selalu mengembalakan kerbau-kerbaunya di hamparan sawah sampai waktu menjelang senja. Pagi sebelum berangkat sekolah terlebih dahulu ia mendatangi sumur untuk mengambil air kebutuhan keluarga. Semenatara itu di sekolah ia terbilang kurang beruntung, bahkan disebut-sebut sebagai anak yang bodoh. Memang begitu adanya, namun lepas dari semua itu, Kana balik menjadi sosok perempuan yang penuh dengan semangat. Ia mengalahkan banyak dari kami – siswa laki-laki,  dalam hal kekuatan untuk melakukan sesuatu. Ia adalah potret yang tidak seburam pemikiran dimana untuk seseorang yang hanya serupa Kana tersebut hanya menjadi sebuah bahan cemooh semata. Kukatakan demikian sebab di suatu hari aku sempat memberinya sebiji mangga muda sebagai bentuk ibaku lantaran dikesampingkan oleh teman-teman yang lain. Namun apa yang terjadi, Kana lantas berkata.

”Saya bisa dapat sendiri lebih banyak dari itu,” katanya yakin. Bukan tersinggung, tapi justru aku tersenyum lebar kepadanya. Dan alhasil, setelah ia melangkah dan kembali lagi, ia lalu membuktikan ucapannya. Lima biji mangga dalam kantong plastik ia berikan kepadaku. Katanya mangga-mangga ini untukku buat kubawa pulang. Betapa terkejutnya. Aku malu pada diri sendiri. Entah kenapa. Mungkin betul bahwa kita tidak boleh memandang remeh seseorang, karena bagaimanapun selalu ada kekuatan tersendiri dalam dirinya yang suatu saat akan bangkit menjadi senjata penakluk yang sungguh sedikitpun kita tidak mampu lagi berkata apa-apa, kecuali berdecak kagum.

Hari semakin remang, suara adzan perlahan mulai menggema di sudut-sudut kota. Tepat saat itulah pengembaraanku tentang Kana sudah berakhir. Berakhir untuk sebuah keterasingan yang kerap ia dapati (semoga), namun terus berlanjut untuk sebuah semangat hidup yang kupelajari darinya. Dan Kana yang bocah perempuan tadi, kemana ia saat ini...?

Aku masih mencari makna lain di balik nama itu – Kana!

Makassar, 05 Juni 2008 

Nama:
Email:

More CERMIN:
[ more Cermin ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :