jeruk bali
Fiksi
28-Jul-2008 12:10:18 WIB
CERMIN
Siri’ Sang Aktor Kecil



Oleh : Ashady
http://bugistoto.bloggaul.com

indosair.com - Dua hari yang lalu – saat kota ini tiba-tiba terguyur gerimis di tengah terik surya yang menyengat, sempat terlihat di mataku dua anak kecil saling menyileti pandang dengan aroma kegusaran yang mencuat dari wajah mungil mereka. Nampak terlihat keberingasan, seperti halnya kerap kita jumpai perkelahian yang berbuntut panjang dari para sang aktor dalam serial aksi di layar televisi. Kedua anak laki-laki itu berkoar-koar di tengah keramaian, saling menjatuhkan, bahkan keduanya pun tak segan menggaung-gaungkan beberapa nama yang mungkin saja bisa dijadikan senjata untuk menaklukkan nyali anak yang satunya. Maka kusebut mereka aktor. Yah, aktor kecil yang tengah memainkan sebuah peran luar biasa di mataku.

Sang aktor terus angkat aksi, meski sudah banyak orang yang lalu-lalang memelototi. Mereka sama-sekali tidak peduli, sebab lebih dari pada itu apa yang disebut harga diri ternyata menjadi alasan kuat kenapa mereka bersikap demikian. Itulah adanya, namun dalam hati kecilku seketika berkata lirih, pahamkah mereka akan arti harga diri?

Sebagai seseorang yang terlahir dari suku Bugis-Makassar, tentu harga diri tersebutlah menjadi sesuatu hal yang tidak mampu terbayarkan dengan segudang rupiah. Harga diri bagaikan benda paling berharga yang dipunyai, makanya dengan berbagai cara orang Bugis-Makassar memaknai siri’ tersebut sedemikian penting dan berharganya. Terkadang demi menjaga harga dirinya, orang Bugis-Makassar bahkan rela mengorbankan nyawa, apalagi jika harga diri mereka sudah terinjak-injak. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Dalam rona pertengkaran yang masih terus bergulat dari kedua anak laki-laki tersebut, hati ini sontak tertegun manakala keduanya tiba-tiba menggaungkan nama Tuhan dengan suara yang menyeringai lantang.

“Panggil Tuhanmu!!!”

Tuhan. Sang aktor yang tengah dilanda emosi menyebut nama itu seakan-akan dirinya juga punya Tuhan yang lain, ataukah sebenarnya Tuhan mereka sama. Dari situlah nampaknya Tuhan akan diperadukan pula – nama Tuhan dijual, entah dengan maksud seperti apa. Mungkin mereka mengira dengan menyebut nama Tuhan, maka sang aktor satunya justru kehilangan nyali. Tapi justru tidak, sang aktor satunya berkoar juga dengan suara yang tak kalah lantang.

”Siapa Tuhanmu? Tuhanku paling jago. Kita lihat siapa yang paling jago!!!”

Mulutku rasanya kaku untuk bergerak ketika kalimat sakral itu menggema, hingga akhirnya membusur tajam di telingaku. Sebegitu hebatkan harga diri yang mereka pertaruhkan, hingga rasanya jauh melebihi pertaruhan harga diri yang sebenarnya? Tanya mengambang rancu di otakku. Melihat anak laki-laki yang sudah saling angkat kerah baju tersebut, seorang pun nampaknya tidak ada yang hendak melerai. Dibiarkan saja. Jangan-jangan karena alasan mereka adalah anak kecil yang memang sangat wajar jika terjadi perkelahian lantaran saling berebut sesuatu. Atau seperti apa yang apa dalam pikiranku – perawakan yang kumuh, menandakan bahwa keduanya bukanlah seperti anak kebanyakan yang hidup dengan segala kebaikan, melainkan hidup di tengah deraan yang memang sudah memaksa mereka sejak dini menjadi anak berperawakan keras. Mereka memang sering begitu, mereka memang terkadang bermulut kasar hanya karena persoalan sepele. Bukan cuma di situ, tapi di banyak tempat. Mataku kerap menyaksikan hal serupa, tetapi tidak seperti apa yang kusaksikan saat itu.

Kuasingkan semua pikiran ganjil di siang yang ganjil pula. Terfokus pada sorot kedua anak laki-laki tadi, lalu sekelebat hasrat membisik lirih dalam lubuk hati yang terdalam. Mereka masih kecil, belum tahu apa yang baik dan buruk. Mereka masih polos, mereka belum pandai memaknai apa yang mereka lakukan sesungguhnya. Kalaupun mereka sedari tadi menggaung-gaunkan nama Tuhan sebagai senjata penakluk, mungkin karena kepolosan itulah yang berbicara. Bahkan siapa itu Tuhan, mereka belum tahu. Begitulah anak-anak.

Lalu di tengah derak-derak batinku berbahasa, sebuah pukulan mendarat di pipi salah satu dari mereka. Anak itu bertubuh ceking, dengan wajah yang mengenyuhkan. Sang aktor kusaksikan semakin beringas dengan aksi tonjoknya. Sementara sang aktor satunya sudah tersungkur di atas aspal dengan tangis yang mengiris. Ia tak mampu lagi berbuat banyak, teramat sakit ia rasakan di sebelah pipinya.

Selang beberapa saat kemudian, seorang laki-laki bertubuh buntak dengan kumis melengkung hebat menghampiri. Sang aktor yang sudah berhasil melumpuhkan aktor satunya secepat mungkin berlari menghilangkan jejak. Ia menyelinap di balik tembok dan menyusuri gang sempit seperti kilat yang tak tergapai. Dan ketika laki-laki itu bertanya perihal dirinya menangis sesenggukan seperti itu, sang aktor kecil menjawab dengan suara miris.

”Dia mengambil uangku, uang yang saya dapat dari jual botol.” katanya.

Jauh di luar dugaan, sang aktor yang sudah berlari tak terburu tadi, kukira dialah adalah anak yang lumpuh dan kalah akan sikapnya sendiri. Sementara sang aktor kecil yang masih meregang tangis di tepian jalan itu, dia adalah sesosok yang berhasil mengalahkan segalanya. Susah payah ia mempertahankan harga dirinya meski terukur dari rupiah hasil jerih payahnya yang tidak seberapa – Seribu perak. Ia menang. The winner. Ia pemenang. Berkali-kali kukoarkan kata-kata itu dalam hati. Tangisnya adalah tangis kemenangan.

Satu pelajaran siri’, tertoreh dari sang aktor kecil itu. Ketika terngiang kembali nama Tuhan yang mereka pertaruhkan, kukira semua itu adalah taktik yang tak berbuah hasil. Butuh sikap pantang demi mempertahankan sebuah harga diri. Dan ketika seseorang sudah mati-matian mempertahankan siri’ itu, tapi akhirnya tak berpihak, sebenarnya itu bukanlah kekalahan sesunggunhya. Bukan berarti seseorang terinjak-injak harga dirinya. Itu sudah menjadi kemenangan buat seseorang, sebab di sisi lain yang terebut dalam sebuah usaha mempertahankan sesuatu yang menyangkut diri dan harga diri, itu jauh lebih baik dibandingkan harga diri terenggut tanpa ada usaha mempertahankannya.


Makassar, 25 Juli 2008
Nama:
Email:

More CERMIN:
[ more Cermin ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :