jeruk bali
Fiksi
14-Aug-2008 11:01:18 WIB
CERMIN
Cermin
Kriuk...Kriuk..., di Perut Kota



Oleh : Ashady

http://bugistoto.bloggaul.com

indosiar.com - Pernah kudengar orang berkata begini, banyak orang di kota ini sudah tidak bisa lagi menjaga kotanya sendiri. Lihat saja betapa tidak terurusnya kota ini, padahal kan ini jadi tanggung jawab dunia akherat. Kalimat tersebut lalu kucerna seperti halnya melahap makanan di dalam tutup saji. Kriuk, kriuk, kriuk. Garing seperti mengunyah kerupuk sebagai pelengkap makanan. Tapi ada yang kurang saat aku tengah asyik melahap. Minumkah? kataku bukan, sebab kuah dalam makananku masih mampu membasahi tenggorokan, dan melancarkan makanan tersebut sampai ke lambung. Aku masih berfikir akan kekurangan itu. Kurang gizi mungkin, bisa jadi. Atau kurang banyak porsinya? Bukan itu, sebab sedikit makanan bagiku sudah cukup mengenyangkan, apalagi dalam kondisi yang kurang baik.

Lantas apa yang ada dalam otakku kian kusesaki, hingga sedemikian berat otakku harus bersitegang dengan apa yang terlihat di mataku. Makanan dan kota, dua kata yang kemudian menjadi pelengkap yang mungkin saja bisa menjawab segala kekalutan dari sekian banyak orang yang berseliweran di perut kota, termasuk seseorang yang kata-katanya tadi masih saja tidak bisa lepas dari menu sehari-hari.

Kubuka lembar demi lembar berita pagi ditemani secangkir teh manis. Kriuk-kriuk suara kertas koran itu kembali mengingatkanku akan garingnya gigitan kerupuk di mulutku. Hanya karena asumsi itulah sampai akhirnya hatiku seketika malas untuk mencerna lebih banyak lagi kalimat-kalimat yang tersaji dalam koran itu. Sejenak aku terdiam, sambil menatap keluar rumah. Dalam keadaan seperti itu, aku kembali membayangkan kota ini semakin ditumpuki oleh remah-remah. Bukan cuma itu, tanpa remah-remah pun, sepertinya kota ini pun sudah kumuh dengan banyaknya kalimat-kalimat hipokrit yang berjejer di sepanjang jalan. Tidak usah dijelaskan seperti apa, nyatanya ketika menyimak sedemikian banyak baligho, atau spanduk yang ada, kitapun kerap melantangkan suara hati bahwa semua itu hanya bohong belaka. Siapa yang berkata, tentu saja banyak orang yang disuguhkan sajian hipokrit itu sendiri, apalagi memang sudah musimnya aksi saling jago-menjagokan kata-kata manis demi meraih kursi tahta.

Keesokan hari, di atas angkot yang sesak, mataku menjejali sekian banyak sisi-sisi kondisi kota yang mulai banyak berubah. Perubahan zaman, tuntutan zaman, atau seakan sudah menjadi sebuah keharusan, dimana kota memang sudah sepantasnya terus berbenah. Berbenah yang kurasakan sepertinya sangat lain. Harusnya berbenah, hingga terlihat rapi, elok, indah dan asri, tapi kok nyatanya kian urakan di mata. Maka kukatakan apakah mataku yang salah melihat atau memang dewasa ini kata berbenah memang berujung seperti itu?

Laju angkot yang kutumpangi bersama beberapa penumpang lainnya, melaju dengan kecepatan sangat lambat. Macet lagi, macet lagi. Seseorang di sampingku lantas berkata, apa ada demo mahasiswa lagi di depan? Aku tersenyum kecil mencoba menenangkan fikiran dari kegalauan suasana yang panas bercampur debu dan polusi. Setidaknya setiap hari hal-hal seperti itu pula sudah menjadi makanan sehari-hari. Gurih menyantap pernafasan, renyah melibas kulit. Kota memang seperti itu barangkali, artinya kalau tidak macet, tidak ada polusi, itu berarti bukan kota.

Kemudian di perempatan jalan, persis di bawah lampu merah, hal yang sedari kemarin kufikirkan akhirnya terjawab sudah. Tentang makanan dan kota. Di situ kulihat seorang perempuan tua yang hampir setiap hari kusaksikan menenteng lembaran-lembaran koran untuk dijual di perempatan Tol Reformasi itu, tengah asyik menyantap sebungkus makanan. Kriuk..kriuk..., dari jendela angkot kubayangkan betapa renyahnya ia menyantap kerupuk pelengkap makanan di tangannya. Sesekali perempuan tua itu menerawang jauh, seakan hendak menyatakan pada siapa saja yang melihat bahwa dirinya tengah menyantap makanan yang enak. Lahap sekali, meskipun debu dan polusi kota, bak hujan yang mengguyur masuk ke dalam bungkusan makanannya. Itu berarti perempuan itu sadar atau tidak sadar tengah menyantap polusi juga, seperti lauk-pauk yang gurih dan mengenyangkan. Kataku.

Sepertinya dia tidak begitu peduli, makanan yang ia santap jauh lebih penting untuk segera ia habiskan ketimbang harus memikirkan hal semua itu. Masih dalam hambatan lampu merah, hati kecilku merasakan kenikmatan lain di tengah asyiknya perempuan tua berpakaian kumal itu melahap makanannya. Diseruputnya segelas air kemasan, menambah kenikmatan lagi di tenggorokannya. Lalu kemudian bungkusan makanan yang sudah kosong itu diremas membentuk bulatan, lalu dilemparkan ke arah sampingnya. Bulatan kertas itu akhirnya mendarat persis di bawah sebuah baligho raksasa yang memamerkan sepasang wajah sang kandidat yang katanya siap bertarung di kancah perebutan kursi Walikota dan Wakil Walikota.

Betul-betul sebuah pemandangan yang secara kebetulan pula sigap mengundang persepsiku. Tidak jauh-jauh, apa yang ada dalam otakku rasanya menjadi senjata pamungkas juga buat sang kandidat demi meraih partisipasi dan dukungan banyak orang. Tidak akan membiarkan masyarakat kota ini hidup dalam kemiskinan (makanan), atau akan menjadikan kota ini semakin lebih baik lagi kedepannya. Lantas antara kota dan makanan yang mana nantinya lebih didahulukan?

Kriuk...kriuk..., sama-sama kita nantikan apa yang akan terjadi nantinya, sementara biarlah mulut hanya menyantap sepotong kerupuk di dalam perut kota yang sudah seperti kerupuk kulitnya.   

 

                                                                                                                   Makassar, 08 Agustus 2008
Nama:
Email:

More CERMIN:
[ more Cermin ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :