Cermin
Pertama-tama ijinkan saya menyatakan bahasa jiwa ini kepada yang tercinta, bangsa ini. “Bangsaku, nasibmu adalah nasib kami. Bangsaku, jiwamu ada jiwa kami. Dan bangsaku, hidupmu berarti hidup kami juga!”
Ketika saya berjalan di tengah hiruk-pikuk kota yang katanya temperamental (maaf, hanya mengutip ungkapan teman), tak bukan dan tak lain kudapati segadang proyeksi di dalamnya ; ada mall megah, ada corak kebudayaan yang kian berkembang, ada seruak deru kendaraan yang menggaung, ada bangunan-bangunan tinggi menjulang, ada bos-bos yang lewat berdasi garis-garis, ada pengemis dan gelandangan berbaju dan berwajah urakan, dan ada banyak lagi yang kulihat.
Sebenarnya ini bukan hal baru lagi, sebab keadaan seperti itu sudah sekian lama menghiasi kota. Saya salah meraba sepertinya, tapi entah kenapa jiwaku merasa bahwa yang kusaksikan itu adalah hal-hal baru dan membuatku merasa menemukan ‘kejutan’ lain di tengah peradaban yang salah atau tidak jika dikatakan temperamental.
Baru kali ini aku menemukan seorang anak kecil, yang sama sekali tidak kukenal menertawaiku. Sangat simpel, ia tertawa lantaran aku mengajaknya bercengkrama di suatu senja, saat ia tengah diam berdiri di hadapanku.
Anak itu bernama Lukman, perawakannya cukup menarik laiknya seorang anak yang berkecukupan. Perawakannya gagah dengan wajah sedikit oriental. Satu yang membuatku geli, ketika ia berkali-kali menyeka ingus yang terus-menerus keluar dari lubang hidungnya.
Hehehehe…!!!
Dia tertawa lagi, tawa yang renyah untuk anak yang masih duduk di bangku TK seperti pengakuannya. Entah apa yang ia tertawai, padahal rasa-rasanya aku hanya menatap kepalanya yang sebagian kehilangan rambut sebab terdapat luka yang sudah mengering.
“Pasti kita lihat kepala botakku?” sepertinya Lukman tahu betul apa yang ada dalam pikiranku. Sedikit malu, tapi aku tahu jika aku berbohong di hadapan anak seperti dia, itu berarti aku kalah dengan hati kecilnya. Lantas kujawab ucapan Lukman, dan kulanjutkan dengan sebuah kalimat pertanyaan sekaitan dengan kepalanya itu.
Urusan kesempurnaan dan ketidaksempurnaan yang dimiliki oleh setiap manusia memanglah bukan urusan manusia, itu urusan Sang Pencipta. Ada maksud tersendiri mengapa kesemuanya itu terjadi. Dalam kapasitas ini tentu saja secara tidak langsung kita diharuskan untuk memaknai segala ciptaan itu. Sebagai makhluk yang berpikir tentu saja segala perbedaan itu mestinya disikapi dengan keragaman yang berdinamika, tapi kita belum bisa langsung menyatakan bahwa orang-orang yang hidup dengan keadaan yang tidak sempurna, atau dalam kata lain penyandang cacat tersebut berpikir sama. Di satu sisi ia bisa dengan rela menerima semua yang diberikan Tuhan, tapi bagaimana pula dengan segala cercaan yang bahkan tidak sedikit dari mereka harus menanggung derita batin yang teramat?
Biarpun demikian, namun keindahan itu kurasakan pula disertai decakan kagum akan langit yang memberi bahasa keindahan kala itu. Aku menatap luas, dengan langkah sedang menghampiri sebuah masjid yang berada di tengah-tengah kompleks sebuah kantor yaitu Dinas Sosial yang terletak di Jalan Pettarani, yang baru kali pertama ini kakiku berpijak di dalamnya. Melihat sekeliling, suasana begitu asri nan sejuk, sangat tidak terasa aroma perkotaan; kemacetan, kebisingan, atau polusi. Semua sama-sekali tidak terasa, sebab lokasinya berada agak jauh dari jalan protokol. Di tambah pepohonan dan taman-taman yang sangat rindang, menjadikan tempat itu serasa berada di daerah pedesaan, meskipun ada banyak pula gedung-gedung kantor dan asrama di dalamnya.
Kutatap wajahnya sejenak, dia begitu kumal, kulitnya hitam dalam remang cahaya. Lebih jauh kutelisik seluruh tubuh mungilnya; kurus, memakai sandal jepit warna hijau, pakaian yang ia kenakan seadanya, namun cukup memberi kesan religius sesuai agama yang kuanut.
Di pundaknya terjuntai tas selempang yang kuperhatikan terbuat dari karung beras. Anak perempuan itu lalu berkata kepadaku, “Seribu rupiah saja pak, dan semoga amal ibadah ta’ dilipat-gandakan oleh Tuhan.” Maka terburailah raut enyuh dari anak perempuan itu sembari terus menyodorkan selembar stiker tersebut dan berharap agar aku berbelas kasih dengan membeli apa yang ada di tangannya.
Aku tersenyum, bukan berarti menepikan keadaannya. Senyum itu kukembangkan sebagai petanda bahwa sebenarnya ada keibaan yang terpancar dari dalam hatiku. Keibaan yang tidak terbaca oleh kasat mata lantaran hanya bergejolak dalam sanubari.
Tak ada yang tahu, bahkan anak perempuan itu pun kupastikan bahwa ia merasa sama-sekali tidak lagi kuperhatikan kata-kata desahan derita
.....
Ada kalanya tidak, seperti kata manusia lain di sekeliling kita. Dangkal pikiran itu, begitu lanjutnya mungkin. Terus terang saya kian bingung. Apa maksudnya?
Ini adalah pembicaraan paling ambigu yang kudapati seumur hidup. Ditambahkan manusia adalah debu, siapa yang mengatakan? Aku, jawabnya yakin!
Oke, oke, kita ngaso sejenak sambil menyeruput sebatang rokok dan segelas kopi mocca, katanya menawarkan. Kuikuti saja, kami saling beradu tatap lagi untuk waktu yang cukup lama. Kamu kenal saya? Katanya. Kataku, tidak, tapi setidaknya saya tahu nama kamu, Heidegger kan? Dia tersenyum. Dari situ satu langkah awal dari pembicaraan hangat kami mulai terbuka semakin lebar. Di tempatku sedikit kusungging senyum manis.Lewat 35 menit pukul 10 malam terlihat di jam dinding ruangan. Kami hanya terjebak dalam pembicaraan hati yang cukup alot. Ketika dia bertanya pernahkah aku mengamati wajah orang yang mau meninggal. Tentu saja ucapan itu langsung mengantarku kembali ke raut wajah mantan Presiden Indonesia, Soeharto, di mana sebelum beliau wafat pada 27 januari lalu......