jeruk bali

Cermin

Terlahir dari sebuah keluarga yang terbilang miskin, Aco'''' mendiskripsikan kehidupannya sebagai seorang yang yang tegar setelah perpecahan keluarga terjadi dalam kehidupannya.

Ayahnya telah meninggal, sementara ia memiliki ibu yang sedikit bersifat arogan memperlakukan dirinya.
Pengibaratan yang teramat sulit untuk sekedar dibahasakan serupa kondisi anak jalanan yang menyesaki sudut-sudut kota.

Lewat keadaan itu, Aco'''' masih mampu tersenyum dengan tukikan yang bisa menimbulkan satu kesan di mata rekan-rekan sepergaulannya.
Bahkan ia dikenal sebagai anak yang cukup cerewet, meski larik-larik kata tidak mampu terburai dari bibirnya, kecuali intonasi suara yang entah sudah berapa oktaf tingginya.

Aco'''' Pepe.
Itulah sebutan akrabnya, jika kembali berbicara tentang ibunya, sebenarnya Aco'''' tidak terlalu ambil pusing meski perlakuan layaknya binatang kerap ia terima.

Tidak diberi makan, juga kerap mendapat umpatan-umpatan kasar yang langsung membuatnya ambil langkah alternatif dengan mendatangi rumah Mami, di mana anak-anak sebayanya tiap hari ngumpul di tempat tersebut.
Demi kebutuhan makan, Aco yang bisu itu rela melakukan pekerjaan serupa pembantu rumah tangga - cuci piring ...........

Betapa hatiku takkan pilu / Telah gugur pahlawanku / Betapa hatiku tak akan sedih / Hamba ditinggal sendiri / Telah gugur pahlawanku / Tunai sudah janji bakti / Gugur satu tumbuh seribu / Tanah air jaya sakti

Saat ini kita telah kehilangan putra terbaik bangsa Indonesia, saat ini kita telah kehilangan tonggak sejarah kehidupan bangsa Indonesia, tahun ini kita tercerabut dari sosok bijaksana yang mungkin sampai detik ini kita belum sempat mengucap terima kasih atas semua yang telah beliau lakukan buat bangsa.

Kita belum sempat pula meminta maaf atas makian-makian, cercaan-cercaan bahkan kutukan yang telah mencuat atas nama beliau di permukaan.

Meski demikian (Alm) Soeharto mungkin menaruh rasa bersalah yang begitu besar dalam dirinya. Ingin ia menyatakan maaf yang sebesar-besar, meski hal tersebut tidak mampu lagi ia ucapkan.

Dari sini kitalah, anak-anak bangsa Indonseia, prajurit keadilan yang mesti merendahkan hati untuk memaafkan segala kesalahan beliau. Janganlah kita berdiri dalam lingkaran keegoan dan kecongkakan, sebab Tuhan sekalipun sangat menyukai orang-orang yang pemaaf.

.....................

Satu pertanyaan yang pernah terlintas dalam benakku, siapa sebenarnya di balik kehancuran bumi nantinya?

Seorang laki-laki berusia 23 tahun, namanya Imran, yang masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir sebuah universitas swasta secara lantang menyatakan hal demikian.

Saya lantas terdiam untuk sesaat, dan mencoba memikirkan jawaban dari pertanyaannya. Maka hari itupun saya pun seperti berada dalam satu gelombang dahsyat, di mana saya mencoba merunut dari sekian banyak keadaan di balik benih-benih kehancuran yang pernah saya baca di beberapa buku.

Dosa manusia itu sendiri. Begitu jawabku. Lalu ia kembali terdiam di tempatnya.
Kulanjutkan ucapanku; seperti yang pernah saya dengar pula lewat mimbar-mimbar jumatan, bahwasanya dosa-dosa manusialah yang nantinya akan menghancurkan bumi ini.
Entah benar atau salah, tapi saya mendengarnya dari bibir seorang ustad yang cukup punya nama di kota ini.

Jika berbicara dalil, mungkin ini adalah dalil shahih. Imran yang masih duduk di hadapanku mengangguk dengan bola mata angah, berkecumik bibirnya seakan membaca mantra-mantra dimana hanya ia dan Tuhan yang tahu. Saya tersenyum sekali lagi kepadanya, tapi entah kenapa dia tidak membalas senyumanku.
..........

Tentang keibaaan seorang wanita, begitu halus. Lewat mata hatinya yang berbahasa, muncullah sekelebat rasa petanda dirinya mampu membaca retakan-retakan hati seseorang yang tengah dirudung bimbang.

Satu pertanyaan, kenapa wanita diciptakan dengan perasa sedemikian peka?

Seperti putri malu-kah mereka yang tiap kali disentuh lantas mengatup daunnya?

Rasanya perasaan wanita tidak seperti itu. Jika dibandingkan dengan tumbuhan putri malu – ia berduri dan teramat sensitif untuk sentuhan sehalus apapun, hingga terkesan jabe (baca huruf e seperti menyebut kata elok), cengeng, dan berbagai persepsi lainnya. Dan hati seorang wanita, ia memang sensitif, tapi tak berduri seperti putri malu itu.
Lebih enaknya mungkin jika saya mengatakan wanita itu seperti bunga melati. Ia harum semerbak, berbunga putih kecil tapi mampu menarik perhatian segadang dunia.
Jika disentuh ia tetap memerlihatkan keindahannya – tidak mengatup.

Di situlah hasratnya berbahasa tentang apa dan siapa yang telah menyentuh hati terdalamnya. ...............
Seorang penulis muda berbakat menantang saya dengan sebuah pertanyaan, begini pertanyaannya; Ibu, apa hubungannya membersihkan pekarangan Masjid dengan politik? Pada waktu itu saya sedang membersihkan pekarangan Masjid, lalu dengan semangat karena selama ini – berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun saya selalu membersih-bersih, baru kali ini dapat perhatian. Aku jawab pertanyaan anak muda itu. Berbuat baik itu termasuk membersihkan Masjid dengan politik, sosial, ekonomi, budaya, kesehatan apalagi agama, semua ada hubungannya kalau kita mau menghubungkan. Jawab saya kepada anak muda penulis itu. Pertanyaannya itu aku jawab dengan gamblang tentang politik dengan pekarangan Masjid. Anak muda itu duduk di depanku sembari mendengarkan ocehanku. Dia terkesima. Saya pernah melihat seorang berkebangsaan Amerika datang ke Jerussalem. Di sana apa yang dilakukan melainkan memelihara taman-taman yang ada di sekitar Gereja yang berdampingan dengan Masjid Al-Aqsa di Jerussalem. Dia meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang pastor di Amerika demi katanya melayani Tuhan. Aku takjub dengan alasan itu, kenapa kita seorang muslim tidak mampu berbuat seperti itu. Demi politik, demi sosial, demi budaya, demi ekonomi, terakhir demi agama.........
Berbekal sapu lidi seadanya, Opo sudah melakukan rutinitas sehari-harinya membersihkan pelataran sebuah kantor pendidikan yang terletak di bilangan jalan Adyaksa.

Suasana kantor dan jalan masih terlihat sepi, warna langitpun masih terbungkus remang sisa gelap semalam. Ruas pelataran beraspal itu disapu bersih beserta pasir-pasirnya. Rimbun daun-daun ketapang yang silih berganti berjatuhan, seakan memaksa dirinya harus bolak-balik seperti mobil angkutan kota sambil membungkuk memunguti satu-satu dedaunan kering tersebut lalu menaruhnya di skop sampah yang tergantung di tangannya.

Tidak nampak keluh-kesah di rautnya yang berkulit legam bopeng itu, sebab suatu hari Opo pernah berkata “Saya di sini cari uang, tidak boleh marah-marah kalau kotor. Harus ikhlas!” begitu Opo berkata di tengah-tengah kesibukannya. Hampir tiap hari Opo terpenjara dalam retinaku, biasanya jika sudah pukul 06 pagi, ia sudah berada di kantor bergedung mewah tersebut. Terlebih dahulu ia menyandarkan di tembok pos satpam sepeda tua miliknya yang tiap hari mengantarnya melewati ruas-ruas jalan kota yang tak kurang dari dari 5 kilometer dari jarak rumahnya, jika pergi-pulang, itu berarti kurang lebih 10 kilometer Opo mesti mengayuh pedal sepedanya........

Sesekali tawa renyah terdengar di bawah rerintik hujan yang mengguyur sudut-sudut kota, beberapa orang berpakaian ala ninja dengan seluruh tubuh tertutupi kain – kecuali kedua bola mata mereka, kini mulai menarik rasa ingin tahuku. Kenapa mereka berpakaian seperti itu? Apa karena rintik-rintik hujan turun dan terselimuti aura dingin yang sudah sejak pagi tadi, sampai akhirnya mereka membungkus seluruh aurat seakan wanita bercadar di belahan bumi Arab? Kulihat telapak tangan mereka, kesemuanya terbalut sarung tangan tebal kehitaman. Semantara kedua kaki mereka? Akh…, sudah menginjak dasar got yang airnya bau dan hitam. Dari jarak yang cukup dekat terlihat mereka begitu gesit menaikkan butiran-butiran pasir juga sampah-sampah yang sudah mengendap lama dalam got berukuran kecil tersebut. Lalu-lalang kendaraan yang melintas, serta orang-orang yang balik menatap jengah tidak lagi dihiraukan. Terus saja mereka bekerja seolah tinggal beberapa hari lagi masa kerja mereka segera jatuh tempo..........
Malam yang masih jam 9, nampaknya tidak begitu ramai seperti malam-malam biasanya. Maklum hujan baru saja mengguyur dan butir-butir gerimis masih jelas berjatuhan lewat sorotan lampu jalan yang berderet di sepanjang jalan kawasan pelabuhan Soekarno-Hatta. Saya yang ketiban sial malam itu karena motor milikku mogok tiba-tiba, hanya duduk terdiam menatap sekitar di bibir trotoar. Apes, untung saja sudah tidak turun hujan deras lagi yang tentu saja akan memaksaku mencari tempat berteduh, dan tidak ada jalan lain kecuali bernaung di salah satu dari deretan toko-toko yang ada di seberang jalan yang nampak ceria dengan lampu-lampu malam yang menghiasi. Hingga cukup lama duduk di situ, seorang perempuan tambun menghampiriku setelah menyeberangi jalan yang cukup sepi. Berkali-kali kepulan asap dari bibir hitamnya menyembur. Kuperkirakan usianya sekitar 40 tahun, tapi dandanannya terlihat cukup nyentrik. Di tambah rambutnya yang pirang, dan pakaian ketat yang jelas menonjolkan lekuk-lekuk tubuh berlemaknya. “Cari barang lokal atau interlokal Mas?” Tanyanya kemudian dengan suara yang terdengar sedikit nakal.........
Belum kuketahui siapa nama lengkap anak laki-laki yang kerap mencuri perhatianku. Dari pakaian kumal yang ia pakai, nampak jelas bahwa ia sama sekali tidak pernah mendapat perhatian lebih dari orang tuanya. Begitupula dirinya, terlihat ceking, rambutnya memerah tersengat sinar matahari, dan kulitnya legam nyaris seperti aspal jalanan. Dari kentalnya fatamorgana yang menyembur naik, ia duduk di tepi trotoar sambil memain-mainkan sandal jepitnya tanpa sekalipun tersenyum. Ia memicingkan mata sebab terik yang menampar dan terpantul dari kendaraan-kendaraan yang melintas di pertigaan jalan itu. Sesekali lampu merah menyala, ia tidak nampak berlari menghampiri beberapa buah mobil sambil menjulurkan tangan seperti yang kusaksikan di hari-hari sebelumnya. Aneh, kenapa dia diam saja? Apa sudah cukup uang hasil mengemisnya hari ini? Tanya itu berkalang di otakku. Lebih dekat lagi aku menatapnya, ia masih nampak memain-mainkan sandal jepitnya seolah itu adalah sebuah mainan berharga di genggamannya.
Kudapati tulisan M.A.W. Brouwer di sebuah klipping koran tua terbitan Selasa, 15 April 1986. Tulisan itu masih utuh, meski kertasnya telah menguning. Judulnya “Banjir”, kataku tepat sekali dengan kondisi beberapa kota di Indonesia saat ini yang tidak kunjung lepas dari bencana banjir yang kerap kusaksikan di tayangan berita TV, lewat radio, atau koran-koran. Lewat tulisan itu, seorang anak usia 14 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SMP menanyakan perihal banjir pada ayahnya. Kenapa zaman penjajah dulu tak pernah ada banjir? Begitu kata anak bernama Pasty pada ayahnya. Dengan sedikit bingung sang ayah hanya menjawab, sebentar dipertimbangkan Pasty. Sang ayah merasa dirinya tengah dipermainkan dengan pertanyaan itu, dan ketika melihat muka ayahnya yang terlihat serius berfikir, Pasty kemudian melanjutkan: memang ada banjir. Seribu lima ratus keluarga di Dayeuhkolot, Mangahan dan Kacadua harus pindah karena sawah, rumah, dan ladang dibanjiri, sewaktu Ciliwung meluap karena sudah bertahun-tahun lamanya tidak dikeruk.

 1 2 3

© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :