Engkong Rimat usianya kini sudah 90 tahun. Bahkan 6 dari 12 anaknya sudah meninggal dunia, namun kakek Rimat tidak pernah merasa tua terus bekerja. Dengan sisa - sisa tenaganya ia masih berdagang mengharap rejeki datang.
Asep Roni, bocah berusia 13 tahun adalah potret kehidupan yang teramat dekat dengan keseharian kita, namun terkadang kita tidak memperdulikannya. Jutaan anak - anak Indonesia bernasib sama seperti Roni. Mereka tidak bisa meneruskan sekolah dan harus bekerja karena lilitan kemiskinan.
Bulan ini bangsa Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaan ke 63. Sebuah moment untuk mengenang lahirnya sebuah bangsa yang dicapai dengan pengorbanan, bukan hanya jiwa dan raga. Namun dibalik itu semua ternyata masih banyak cerita pilu dari mereka yang dulu ikut memanggul senjata untuk memperebutkan kemerdekaan dari para pejajah.
Melihat guratan wajah mbah Sutirin seperti membuka lembar hitam kisah hidup kaum papa. Usianya kini 88 tahun, masa yang seharusnya menghabiskan sisa-sisa hidup dengan penuh kebahagiaan. Namun mbah Sutirin harus berpeluh memeras keringat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Nek Rasi tak pernah membayangkan dimasa tuanya ia harus bersusah payah menghidupi dirinya sendiri di tengah belantara kota Jakarta. Sejak ditinggal suaminya 63 tahun yang lalu, ia telah bertekad untuk bekerja apa saja asalkan bisa membiayai kehidupannya.
Bagi banyak orang cacat tubuh menjadi halangan untuk bisa menjalani hidup secara normal. Namun tidak bagi Anen, ia berusaha keras mengubah kekurangannya menjadi kelebihan. Ia juga tidak mau menjadi beban apalagi meminta belas kasihan orang lain.
Umar Sulaiman adalah potret pria yang tidak mau menyerah dengan nasib. Meski sudah uzur, ia tetap terjuang mencari nafkah untuk kehidupan keluarganya. Setiap harinya ia harus melangkah menyusuri sudut-sudut kota Jakarta.
Neng Aisyah, bocah perempuan berusia 9 tahun hanya bisa menjalani hari - harinya dengan penyakit aneh yang dideritanya. Jika sedang kambuh hanya bisa menahan rasa sakit. Orangtuanya telah berusaha tapi apa daya mereka harus menyerah karena ketiadaan biaya.
Setiap manusia harus menjalani hidupnya seperti apa yang telah digariskan Yang Maha Kuasa. Sepahit apapun harus dijalani. Itulah yang dilakoni oleh Zulhadi (27), ia hidup dalam kebutaan. Ia beristrikan seorang wanita yang juga tuna netra. Ia harus menghidup istri dan 4 orang anaknya.
Hidup buat Teti tidaklah mudah. Ia harus membesarkan 7 orang anaknya tanpa didampingi suami. Dengan kemampuan sebisanya ia menjadi pemulung disekitar tempat tinggalnya. Sementara itu anaknya terpaksa mengais beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur.
1 2 3 4 5 6 > Last ›