jeruk bali
Sosbud
16-Mar-2007 12:45:35 WIB
HATI NURANI
Ikhlasku Menerima Takdir



Liputan : Eliza Amanda & Dedi Suhardiman
Tayang : Jumat, 16 Maret 2007, Pukul 12:00 WIB

indosiar.com, Jakarta - Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing. Karena itu semua manusia hakekatnya sama, dan saling membutuhkan. Tak bijak kita merasa lebih sempurna, atau sebaliknya, merasa tak berarti. Karena nilai seseorang tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, atau kekuatan tenaga, tapi oleh seberapa besar ia memberi manfaat bagi orang lain. Segmen I

Namaku Ramdani. Nama itu diambil dari kelahiranku, bulan Ramadhan, 22 tahun lalu. Tapi orang - orang lebih sering memanggilku Idan. Aku anak pertama dari empat bersaudara. Dari kami berempat, hanya aku yang memiliki tubuh seperti ini. Kedua kaki kecil dan tidak bisa berjalan normal seperti orang lain pada umumnya.

Aku sebenarnya lahir normal. Tapi saat usia lima bulan, orang tuaku melihat keanehan, pertumbuhan kedua kakiku tidak seperti anggota tubuh yang lain. Orang tua telah beberapa kali membawa ke rumah sakit, sampai dua tahun, tapi tak ada hasil.

Kakiku tetap tak tumbuh normal, bahkan makin mengecil. Seorang dokter menyarankan untuk dioperasi, tapi ibuku tak mengijinkan, mungkin karena alasan biaya. Sejak saat itulah aku cacat seumur hidup. Gerakanku lambat, hanya bertumpu kekuatan tangan dan lutut. Lelah sekali menjalaninya.

Aku manusia, sama seperti yang lain, tapi ada saja yang mengejekku, menyebutku kambing. Yang menyakitkan, mereka itu tetanggaku sendiri. Ada rasa geram, tapi kucoba menahannya dalam hati. Kadang, mereka melontarkan ejekan itu di depan kedua orangtuaku.

Kami dari keluarga sederhana, atau tepatnya keluarga miskin. Adikku yang pertama sudah menikah dan tinggal di Tangerang dengan dua anaknya. Adikku yang kedua berjualan di warung depan rumah, sedangkan yang bungsu masih sekolah kelas II SMA.

Ayahku bernama Sidik, dulu dia bekerja sebagai tukang potong ayam di Pasar Senen, tapi usaha itu bangkrut dan sampai kini ayah belum juga dapat pekerjaan lagi.

Ibu coba membantu perekonomian keluarga dengan membuka warung di pinggir kali, tapi musibah dating. Tiba - tiba ibu sakit, tubuhnya lemah tak bisa bergerak. Kata dokter, ibu kelebihan darah putih. Sejak itu perekonomian kami kian morat – marit. Sedang kebutuhan begitu banyak, untuk makan, biaya sekolah si bungsu, dan tentu saja, untuk biaya berobat ibu.

Sebagai anak sulung, tak kuat rasanya hanya berdiam diri. Aku harus melakukan sesuatu, semampu. Berbekal kursi roda yang diberikan seseorang, akupun merintis menjadi penjual koran di pinggir jalan. Tanpa terasa, waktu berjalan, aku menikmati pekerjaan ini.

Segmen II

Berbekal kursi roda pemberian seseorang, Idan coba merintis langkah, dengan membantu temannya berjualan Koran. Dari situlah ia memulai sampai kemudian bisa berjalan sendiri, menjadi penjual Koran.

Beginilah pekerjaanku setiap hari. Pagi - pagi sudah harus mengantar koran ke rumah langganan. Padahal aku baru pulang dini hari setelah menjajakan koran sore.
Kelelahan membuatku mudah tertidur, dimana saja . Apalagi rumahku sempit, dihuni empat kepala keluarga.

Aku bersyukur, kondisi kesehatan ibuku mulai membaik dan sudah mulai berjualan lagi. Di hatiku, ingin melihat ibu istirahat saja, dan memberiku kepercayaan memikul tanggung jawab keluarga. Tapi beliau tidak mau, mungkin tak tega setiap kali melihat kelelahan setiba di rumah.

Aku juga bersyukur, agen tempatku bekerja sangat baik dan mengerti keadaanku. Mereka mau mengantar koran ke rumah. Selain mengantar ke pelanggan, aku juga menjajakannya. Tempatku bisanya di sekitar lampu merah Kebon Sirih.

Jujur, situasi di jalanan memang berat buatku. Sering aku merenung, di sela - sela aku berjualan, kadang muncul pertanyaan, tentang masa depanku. Saat aku dihingapi rasa sedih, aku menghibur diri, mencoba tertawa, tak mau ada orang lain tahu kesedihanku.

Inilah hidup yang harus kujalani. Aku melihat orang - orang berpacu dengan waktu, sibuk dengan urusan masing – masing, tak mau tahu orang lain. Pernah sebuah mobil menyerempet kursi rodaku.

Aku terkesima, mau marah tak bisa. Sang pengemudi mobil bahkan menuduh cacat yang kuderita hanya tipuan. Duh, seandainya dia semenit saja mau merasakan bagaimana menjadi aku.

Aku tak pernah memanfaatkan cacat ini untuk hal lain, kecuali murni berjual Koran, untuk keluargaku. Kalaupun ada yang memberiku uang lebih, kuanggap itu rezeki, karena ku takkan pernah meminta, apalagi mengemis pada mereka.

Hanya, tak semua bisa mengerti keadaanku. Aku pernah terjaring operasi Trantib. Bukan cuma terusir dari lampu merah, Koran - koran daganganku dan teman - teman juga disita. Setoran terpaksa dihutang.

Dalam sehari, paling banyak koran yang laku 30 eksemplar. Satu eksemplar aku hanya mengambil untung 400 rupiah. Tapi tak setiap hari rezeki di dapat, apalagi jika datang hujan. Koran tak laku, setoran terpaksa ditombok lagi. Hidup memang tak berpihak pada kami yang kecil, apalagi untuk aku yang begini.

Tapi biarlah. Semua akan kujalani. Karena hidup memang harus berjalan. Siapa tahu, kelak waktu berpihak padaku, dan aku bisa membuat kios, keinginan lama yang sampai kini masih kupelihara dalam hati. (Firdaus Masrun/Dv/Idh)

 

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :