
indosiar.com, Jakarta - Beberapa hari lalu, seorang laki - laki datang ke kantor Indosiar, sambil mendorong sebuah gerobak, yang di dalamnya terdapat seorang remaja. Laki - laki ini bernama Slamet dan remaja di dalam kursi roda ini adalah anak sulungnya bernama Sunyoto.
Ia mengaku pekan lalu sengaja berangkat ke Jakarta dari Kampungnya Rawa Jitu Selatan, Lampung, untuk mendatangi kantor Indosiar, untuk meminta bantuan bagi anaknya yang menderita lumpuh.
Slamet mengaku keputusannya diambil setelah menonton televisi ini membantu mereka yang sedang menghadapi masalah, terutama masalah penyakit. Oleh petugas Indosiar Ia diantar menemui tim Peduli Kasih, yang diketahui memang menangani mereka yang memerlukan bantuan yang Ia maksudkan.
Kepada tim Peduli Kasih Ia mengaku berangkat dari Lampung dengan menaiki angkutan umum, menempuh perjalanan ratusan kilometer, dan turun di terminal Kalideres, Jakarta Barat.
Dari sana ia melanjutkan perjalanan menuju Indosiar dengan berjalan kaki, sambil membawa anaknya Sunyoto dengan gerobak ini yang ia rancang sendiri.
Slamet menceritakan, Sunyoto tidak sendirian mengalami kelumpuhan. Anak keduanya, Mahmudi yang berusia 11 tahun, juga mengalami hal sama. Keduanya mengalami kelumpuhan tujuh tahun lalu.
Padahal semula kedua anaknya tumbuh normal seperti anak - anak lain di Rawa Jitu, Lampung. Sunyoto bahkan sempat mengecap pendidikan hingga kelas dua sekolah dasar. Namun kelumpuhan menyerang tungkai kaki kedua anaknya, hingga pendidikannya terbengkalai.
Kondisi perekonomian Slamet yang papa, membuatnya sebagai ayah tak bisa berbuat banyak. Ia tak memiliki uang untuk membawa kedua anaknya berobat.
Slamet mengakui, dalam keputusannya, Ia sempat beberapa kali meminta bantuan mereka yang barangkali peduli dengan nasib mereka. Ia sadar, cara itu tak baik, tapi ia harus melakukan itu karena merasa tak punya pilihan untuk menyembuhkan kedua anaknya.
Waktu terus berjalan, tahun berganti, penderitaan mereka tak kunjung menemukan jalan keluar, dan kondisi anaknya makin berat, karena pertolongan yang ia harapkan tak kunjung tiba, sementara ia merasa semakin menua. Hatinya kecut, membayangkan jika sampai ajalnya tiba, Sunyoto dan Mahmudi belum juga tertolong, tak ada yang bisa membimbing mereka.
Slamet sangat gembira, hatinya berbunga - bunga ketika di beritahu, tim Peduli Kasih Indosiar akan segera membantunya. Langsung terbayang di benaknya, dengan kursi roda, kedua anaknya dapat beraktifitas, hidup normal dan membaur dengan anggota masyarakat lain. Ia merasa Sunyoto dan Mahmudi kini telah memiliki masa depan. (Firdaus Masrun/Dv/Sup)