
indosiar.com, Bogor - Tarifin, pria asal Pemalang, Jawa Tengah ini selama 30 tahun hidup sendiri ditengah ganasnya kehidupan kota. Tarifin rela meninggalkan kampung halamannya demi menghidupi keluarganya.
Bagi kebanyakan orang berkumpul dengan anak dan istri adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya, bisa berbagai suka dan duka. Namun bagiku, berkumpul dengan keluarga sebuah impian yang teramat mahal. Betapa tidak, sejak tahun 70, aku harus rela meninggalkan anak dan istri di kampung di Pemalang, Jawa Tengah demi sebuah harapan hidup lebih baik.
Aku merantau ke Bogor sebuah kota di selatan Jakarta yang terkenal dengan sebutan kota hujan. Hingga kini aku terpaksa hidup sebatang kara dibelantara kehidupan kota.
Aku berangkat merantau 38 tahun lalu dengan penuh harapan. Hidupku di kampung yang selalu bergulat dengan kesulitan dan kemiskinan, membuat tekadku semakin bulat untuk pergi ke kota. Meski aku tidak memiliki keahlian apapun, karena aku memang tidak pernah mengecam pendidikan yang cukup.
Sekolah Dasar pun aku tidak tamat. Aku sempat terdampar dan hidup tanpa pekerjaan yang menentu. Pekerjaan ini telah aku geluti selama 15 tahun. Awalnya aku pernah mencoba berbagi pekerjaan seperti menjual minyak tanah dan berjualan makanan. Namun entah kenapa semuanya tak bisa bertahan lama.
Mungkin aku tidak berbakat atau memang disinilah Tuhan memberikan rejeki bagiku. Setiap hari aku harus menyiapkan semuanya sendiri dari berbelanja, memasak hingga menjajakan daganganku keliling kampung.
Dengan kemampuan yang aku miliki, aku meracik sendiri bumbu bubur ayam. Orang-orang disekitar rumah dan kampungku sudah sangat mengenalku karena hampir setiap hari, aku melewati rumah mereka menjajakan bubur ayam. Aku biasa dipanggil Abah, panggilan yang sebenarnya tidak pas buatku yang asli Jawa.
Tapi mungkin itulah bahasa pergaulan yang terasa lebih akrab. Sebagai penjual bubur ayam, aku sadar betul tidak setiap hari bisa mendapatkan keuntungan. Jika sedang bernasib baik, aku bisa mendapatkan keuntungan hingga 25 ribu rupiah. Uang tersebut sangat bernilai bagiku dan anak istriku di kampung. Sementara jika lagi sial, aku kadang mendapatkan uang sekedarnya terutama jika cuaca hujan karena aku tidak bisa berkeliling membawa daganganku.
Uang dari hasil jualanku aku kumpulkan dan setelah cukup aku kirimkan untuk istriku di kampung. Selain berdagang keliling, aku juga melayani pembeli di rumahku. Tetanggaku kadang lebih suka membeli dan langsung makan di rumahku. Aku menjalani kehidupanku mengalir saja.
Sebagai orang yang hidup seorang diri aku tidak pernah terbebani untuk memasak khusus untuk makan sehari-hari. Aku bisa makan bubur sisa daganganku atau jika ingin masakan lain aku coba masak sendiri ala kadarnya.
Aku tinggal di rumah kontrakan dengan tarif 60 ribu perbulan. Rumah ini mungkin tidak layak sebagai rumah tinggal. Tidak ada perabotan seperti rumah tangga pada umumnya. Bagiku itu tidak penting. Karena bisa tidur dan makan saja aku sudah bersyukur. Aku membanting tulang dengan satu tujuan mencari uang untuk menghidupi anak dan istriku di kampung.
Bahkan untuk membantu ekonomi keluarga kami, istriku terpaksa berjualan makanan anak-anak di kampung. Kadang aku merasa capek hidup terus sendiri seperti ini, tanpa tahu kapan akan berakhir.
Bertani mungkin aku sudah tidak kuat, sementara sawah aku juga tidak punya. Ya akhirnya dengan penuh kepasrahan aku jalani hari-hariku seperti ini. Sebagai seorang suami sekaligus seorang bapak, kadang aku rindu bertemu dengan anak dan istri. Aku rindu bercengkrama dengan mereka.
Namun kondisilah yang memaksa kami untuk saling berpisah. Aku harus memendam jauh-jauh kerinduanku pada anak dan istriku. Aku hanya bisa berdoa, muda-mudahan Tuhan memberi jalan agar aku bisa hidup bahagia berkumpul dengan anak istriku, meski aku tidak tahu apakah masih adap harapan untuk itu. (Sup)