Ekonomi
30-May-2008 16:25:08 WIB
HATI NURANI
Istriku Teman Sejatiku



Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jum’at 30 Mei 2008 Pukul 12.30 WIB
Kamerawan Presenter : Iwan Agung
Peliput : Erwin Saputra - Budi Sampurno
Waluyo Adi Susanto - Dedi Suhardiman

indosiar.com, Jakarta - Hari tua adalah hari menyenangkan bagi sebagian orang, bisa menimang cucu, perbanyak ibadah atau membimbing anak - anaknya menjadi orang yang berguna bagi siapa saja. Namun tidak bagi Anani, pria malang ini harus berjuang keras bekerja untuk menghidupi keluarganya. Yang lebih mengenaskan mata Anani tidak lagi bisa melihat apa yang ada didepannya.

Pukul 6 pagi Aku sudah mulai melangkah untuk berjualan. Aku dan istriku bersiap keliling dengan berjalan kaki membawa gerobak yang berisi papan cucian. Satu per satu papan cucian Aku susun dan dimasukan kedalam gerobak. Istriku mengeluarkan gerobak dari dalam rumah. Aku hanya bisa mendengar dan membantunya seadanya.

Aku tidak bisa berbuat banyak untuk membantu istriku. Aku sebenarnya kasihan istriku sudah rentan, namun Aku tidak bisa berbuat apa - apa karena mataku kini tidak lagi bisa melihat dengan jelas.

Mataku memang samar, namun Tuhan mengajariku bahwa hidup tidak boleh menyerah dengan keadaan. Aku harus terus bekerja agar tetapi sangat mencukupi kebutuhan kami sehari - hari. Aku dilahirkan dalam kemiskinan, orangtuaku tidak mampu menyekolahkanku tinggi - tinggi.

Aku tidak memiliki bekal pendidikan apa - apa, SD pun Aku tidak tamat. Inilah pekerjaanku saat ini. Berjualan papan cucian keliling waktu muda Aku pernah mencoba berbagai pekerjaan menjual kayu atau makanan kecil.

Kini Aku berjualan papan cucian bersama istriku tercinta dengan berkeliling dikawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Aku tahu kawasan ini adalah rumah orang - orang yang sangat kaya. Mereka mungkin tidak membutuhkan papan cucian, namun rejeki hanya Tuhan yang tahu. Mulanya Aku berjualan papan cucian dengan cara dipanggul, masing - masing Aku dan istriku membawa dua papan cucian. Namun karena mataku tidak melihat Aku beberapa kali terjatuh karena menabrak sesuatu.

Karena itu Aku kemudian memilih berjualan dengan menggunakan gerobak. Saat berjalan istrikulah yang membimbing Aku untuk berbelok ke kiri atau ke kanan, kadang Aku tidak tahu sedang berada dimana dan sudah berapa lama di jalan. Aku hanya bisa bertanya kepada istriku sampai dimana Aku ini. Sebagai manusia kadang ada rasa takut jika tiba - tiba di tabrak kendaraan.

Ya.. inilah kehidupan. Aku tidak mau hidup berpangku tangan. Bagiku pantang meminta belas kasihan dari orang lain. Aku harus tetap bekerja meski kini usiaku tidak lagi muda karena fisikku tidak lagi sekuat dulu. Baru sadar diusia ke 60 badanku akan semakin lemah. Ya... manusia dilahirkan dengan kekurangan dan kelebihan masing - masing.

Mungkin Tuhan memberikan kekurangan ini padaku, namun dengan bermodalkan kepercayaan diri membuat hidupku bertahan sampai sekarang. Yang Maha Kuasa tentu telah membuat garis takdir yang berbeda - beda pada setiap manusia. Kebetulan Aku ditakdirkan hidup sebagai pria buta.

Segmen 2

Anani memang pria yang tak mau berpangku tangan. Ia juga tak mau menduduk kasihan orang lain. Ia bertekad akan terus bekerja hingga tubuhnya tak lagi mampu melakukannya.

Aku asli Jakarta kini Aku hidup dengan istriku yang ketiga. Wanita asal Malang, Jawa Timur Aku tidak memiliki anak dengan istriku yang sekarang. Aku sudah 4 tahun tinggal dikawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Rumah yang Aku bangun seadanya ini tanahnya milik sebuah perusahaan swasta. Disini Aku diberikan kesempatan untuk tinggal sementara. Aku bersyukur masih ada orang yang memiliki nurani dijaman yang serba sulit ini.

Terkadang Aku berpikir apa jadinya jika rumah yang Aku tinggal ini tiba - tiba digusur karena Aku memang tidak memiliki hak apa - apa. Kebutaan yang Aku alami terjadi 6 tahun lalu. Mataku tiba - tiba samar, Aku hanya bisa melihat bayangan yang remang - remang. Aku tidak tahu apa sebenarnya penyakit yang menghinggapi mataku.

Aku hanya bisa melihat jarak pandang 1 meter. Kejadian itu berawal ketika Aku sakit mata, lama kelamaan sakit mataku tidak kunjung sembuh. Memang Aku tidak pernah berobat ke dokter karena tidak memiliki cukup uang. Ah.. mungkin inilah nasibku ! Jika Aku memiliki uang untuk berobat mungkin mataku tidak akan seperti ini.

Aku sadar penghasilan berjualan papan cucian seperti ini tidak menentu. Jika nasibku sedang baik Aku bisa mendapatkan untung hingga 10 ribu rupiah, namun kadang juga tidak laku sama sekali. Aku mengambil papan cucian dari tetanggaku seharga 35 ribu rupiah dan Aku jual 40 ribu rupiah.

Jainul, Aku anggap orang yang paling banyak membantu hidupku. Jainullah yang membuat papan cucian yang Aku jajakan. Setiap hari ia selalu menanyakan bagaimana daganganku dan apa yang perlu dibantu ? Aku sudah menganggap Jainul seperti anak sendiri. Diusiaku yang senja ini bukanlah akhir untuk berbuat sesuatu sampai kini Aku masih mampu berdagang. Walaupun penyakit darah tinggi terus menggerogoti tubuhku sehingga tangan bagian kanan sulit digerakan.

Beruntung tetangga kami sangat mengerti keadaanku. Mereka selalu memberi perhatian mungkin mereka tahu kami berdua sudah renta. Jika Aku sakit mereka selalu memberikan pertolongan.

Aku beruntung memiliki istri yang baik. Ia setia mendampingi hidup laki - laki seperti Aku dengan kondisi apa adanya. Apalagi Aku buta, Aku tak pernah menyesali keadaan ini. Mungkin karena garis hidup yang harus Aku terima. Aku hanya memohon agar Aku dan istriku selalu diberikan kekuatan, kesehatan dan rejeki. Hanya itulah yang bisa kulakukan, Aku tidak mampu berbuat lebih dari itu. (Dv/Sup).

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :