Reporter : Erwin Syaputra
Kameramwan : Waluyo Adi Susanto
Produser : Widayat S. Noeswa
Lokasi : Tasikmalaya, Jawa Barat
Tayang : Jum’at, 6 juni 2008 Pukul 12.30 WIB
Segmen I
indosiar.com, Tasikmalaya - Usianya kini 17 tahun, namun Opik anakku, hanya bisa berbaring di dalam rumah. Opik tak ubahnya seorang bayi. Ia tidak bisa melakukan apa - apa. Untuk makan dan minumpun harus disuapi. Ya Tuhan andai saja Opik terlahir normal, aku pasti sangat bahagia.
Inilah kondisi anakku Opik. Aku sudah tidak bisa lagi bisa membedakan antara bahagia dan sedih memiliki seorangan. Jika Opik adalah anak normal, mungkin Aku akan sangat bahagia. Namun Ya Tuhan mungkin inilah nasibku. Tuhan menitipkan Opik, dengan ketidak sempurnaan. Aku harus menerima anugerah Yang Maha Kuasa ini, dengan penuh ketabahan.
Aku sendiri kadang miris, melihat keadaan Opik. Ia hanya bisa berbaring, tanpa bisa melakukan apa - apa. Bahkan dudukpun tidak mampu. Kalau berjalan Opik harus berguling di lantai. Usianya kini menjelang 17 tahun. Usia yang mestinya sedang bahagia - bahagianya menikmati masa remaja. Bermain kemana ia suka, atau sedang giat giatnya mempersiapkan masa depan sekolahnya.
Ia juga tidak bisa berbicara dengan jelas, sehingga kadang Aku tak mengerti apa yang dimauinya. Jika diajak berbicara, Opik hanya bisa bersenyum, atau menjawab dengan gerakan tubuh. Sehari hari Opik hanya bisa berdiam di rumah.
Bersyukur masih ada televisi, meski Aku sendiri tidak tahu, apakah Opik bisa terhibur melihat acara - acara di televisi. Jika ada sedikit uang, Aku juga membelikannya mainan, sebagai teman Opik di kala sendiri, atau mengisi hari – harinya, dengan ketidak berdayaan. Apalagi jika Aku sedang tidak berada di rumah.
Merawat Opik, tak ubahnya merawat seorang bayi, yang butuh kesabaran. Makan dan minum terpaksa aku suapi. Setiap hari Aku juga harus membawa Opik ke tempat mandi, yang jaraknya puluhan meter dari rumah. Bahkan Aku harus melalui jalanan yang terjal dan berliku. Maklum rumah kami di kampong, yang tidak punya kamar mandi sendiri.
Aku tidak tahu persisi mengapa Opik lahir tidak sempurna. Namun saat Aku mengandung Opik, Aku pernah terjatuh dibelakang rumah. Usia kandunganku saat itu delapan bulan. Aku merasa sakit diperutku, namun karena Aku tidak punya uang untuk berobat ke dokter, Aku hanya meminta tolong pada tukang pijat. Hingga kini Aku juga tidak tahu, apakah ada hubungannnya kejadian itu, dengan kondisi Opik.
Belasan tahun, perjalanan berat ini sudah Aku lalui. Aku tidak bisa berbagi derita ini dengan orang lain. Apalagi sejak suamiku meninggal sepuluh tahun lalu, akibat sakit lever. Semuanya harus Aku tanggung sendiri. Aku harus berjuang menghidupi Opik. Karena itu, wajahku kini tampak lebih tua dari usiaku. Mungkin karena beban hidupku yang teramat berat, menjadikan Aku terlihat lebih tua. Padahal usiaku kini baru 46 tahun.
Segment II
Nasib membawaku selalu berkubang kemiskinan dan penderitaan. Orang tuaku, hanya petani miskin. Semua saudaraku, tidak ada yang tamat Sekolah Dasar. Kini Aku juga hidup dalam kemiskinan. Sepeninggal suamiku, sepuluh tahun lalu, beban hidupku terasa semakin berat. Sebagai orangtua tunggal, Aku harus bekerja keras menghidupi anakku.
Kini Aku berusa berjualan makanan dan sayuran keliling kampung. Setiap hari Aku harus berjalan belasan kilometer, dari kampung ke kampong, demi sesuap nasi. Hanya ini yang bisa Aku lakukan karena Aku memang tidak memiliki keahlian apa - apa. Aku hanya seorang wanita. Dulu sewaktu suamiku masih hidup, Aku memiliki warung kecil – kecilan. Namun lama kelamaan, modalku habis.
Makanan yang Aku jajakan, Aku ambil dari orang lain. Dalam sehari Aku untung 2 ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Itupun tak menentu. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana Aku harus menghidupi keluargaku. Aku kini tinggal di Kampung Tegal, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Jangan tanya kondisi rumahku, karena memang Aku tidak mampu membuat rumah yang layak, apalagi sehat. Bagiku semua itu hanyalah impian yang tidak mungkin bisa terwujud. Bisa makan sehari hari saja Aku merasa sangat bersyukur.
Aku harus berjuang hidup demi menghidupi kedua anakku. Anakku Erna berusia 18 tahun terpaksa Aku titipan di Panti Asuhan. Karena Aku sudah tidak kuat lagi dengan tekanan hidup ini. Ya Tuhan sebenarnya Aku tidak tega membiarkan Erna anakku hidup bersama orang lain. Namun demi masa depannya, Aku harus mengubur dalam dalam semua perasaan sedihku.
Di rumah ini, Aku hidup berdua dengan Opik. Kadang Erna datang bermain ke rumah, untuk melepas rasa rindu atau menemani Opik bermain. Aku sebenarnya ingin sekali menyekolahkan Opik. Aku pernah menyekolahkan Opik ke sekolah luar biasa. Namun Opik tidak bisa berkembang. Akhirnya Aku bawa kembali ke rumah.
Bersyukur, Aku memiliki tetangga yang teramat baik, dan mengerti penderitaan hidupku. Mereka sering membantuku ketika dalam kesulitan. Bukan hanya materi, namun kadang juga membantu menjaga Opik, saat aku sedang menjajakan makanan.
Kini Aku menjalani kehidupanku dengan penuh kepasrahan. Tuhan memang tidak pernah berhenti memberi cobaan berat dalam hidupku. Namun sebagai umat beragama, Aku yakin, Tuhan memiliki keinginan lain, dibalik cobaan yang diberikan.
Namun jujur, di lubuk hati yang paling dalam, Aku kadang gamang melihat hari depan anakku Opik. Dengan kondisi seperti ini, Opik tidak mungkin akan hidup mandiri. Sekarang masih ada Aku, yang bisa merawat dan membesarkannya. Namun bagaimana jika Aku sudah tidak ada ? Hanya Tuhan yang tahu rahasia itu. (Dv/Sup).