sampai menutup mata
Ekonomi
13-Jun-2008 15:23:45 WIB
HATI NURANI
Cobaanku, Suami dan Anakku



Reporter : Budi Sampurno
Kameraman : Dedi Suhardiman
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jum’at, 13 Juni 2008 Pukul 12.30 WIB

Segmen 1

indosiar.com, - Bagiku hidup ini tidak ada pilihan, kecuali menerima takdir dari Yang Maha Kuasa. Senang, susah, bahagia dan menderita, kini sudah sulit aku bedakan. Betapa tidak. Hari - hariku kini harus menghadapi kenyataan yang teramat pahit. Merawat dua orang yang sangat Aku cintai. Anak ketigaku, Uus, dan suamiku, Salim, tercinta.

Ya Tuhan, mestinya Aku bahagia, jika saja mereka berdua dalam kondisi normal. Uus, anak ketigaku ini lahir dalam kondisi cacat. Kedua kakinya lumpuh. Padahal usianya kini 29 tahun. Namun Uus tak ubahnya seorang bayi, yang selalu harus Aku temani, dan dipenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Aku tahu Uus sangat menderita. Sebagai seorang ibu, dari mata batinku, Aku bisa menangkap apa yang dia ingin katakana. Ia ingin sekali seperti anak - anak lainnya. Bermain bersama teman sebayanya, bersekolah, untuk mencapai cita – citanya. Namun, bertahun - tahun Uus hanya bisa tergolek lemah tak berdaya.

Jika saja Uus, bisa bicara, pasti Uus akan bertanya. Apa dosaku ibu ? Kenapa Aku lahir seperti ini ? Adilkah kehidupan ini ? Ya kadang Aku menangis. Kenapa Uus lahir hanya untuk menderita. Usus hidup hanya untuk merasakan ketidaksempurnaannya.

Bagiku, tidak ada penderitaan yang paling pedih, kecuali ikut merasakan apa yang dialami anakku. Aku tahu, meski kondisinya seperti ini, namun Uus berusaha sekuat tenaga untuk bisa melakukan sesuatu. Ia berusaha berjalan, meski hanya bisa berguling dilantai. Bahkan ya ampun kadang Uus berusaha pergi ke kamar mandi sendiri.

Dengan kondisi Uus seperti ini, tak ada lagi yang bisa Aku kerjakan diluar rumah. Apalagi harus berdagang seperti dahulu. Praktis keseharianku dihabiskan hanya untuk merawat buah hatiku ini. Memandikannya, memberi makan serta menghiburnya bila Uus terlihat sedang sedih.

Awalnya Aku sempat shock dengan keadaan yang menimpa buah hatiku ini. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri, mengapa semua harus menimpa keluargaku.

Hingga detik ini, Aku juga masih tak mengerti, mengapa Uus lahir seperti ini? Ya Tuhan, apa dosa dan salahku, hingga engkau memberi cobaan seperti ini ? Meski kondisinya seperti ini, Uus hatinya sangat lembut. Ia seakan mengerti apa yang Aku rasakan. Jika Aku sedang dirundung kebosanan, atau kesedihan, Uus justru berusaha mengajakku bercanda.

Ya sebenarnya Aku sudah berusaha sekuat tenaga, untuk menyembuhkan Uus. Aku sudah membawanya ke dokter, bahkan sejumlah orang pintar sudah Aku datangi, namun Uus tetap tidak berubah.

Uang dan harta benda kami habis hanya untuk membayar biaya pengobatan. Tapi mungkin inilah yang dinamakan takdir. Aku yakin, Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Segalanya. Sehingga Aku harus menerima dengan ikhlas. Aku yakin dibalik penderitaan, Tuhan punya rencana yang lebih mulia. Entah di dunia, atau entah di akherat kelak.

Segmen II

Kehidupan ini memang penuh misteri. Belum usai batinku teramat pedih menerima cobaan Uus, Tuhan kembali menguji kekuatan imanku. Empat tahun lalu suamiku, Salim, terserang stroke.

Aku juga tidak tahu, mengapa suamiku mendapat cobaan seperti ini. Kini suamiku nyaris tidak bisa melakukan apa – apa. Tubuh bagian kiri Salim sudah tidak bisa digerakkan lagi. Bahkan untuk makanpun, tangannya tak lagi mampu melakukannya.

Ya rasanya teramat berat cobaan yang harus Aku jalani. Mungkin, jika ekonomi keluargaku berkecukupan, penderitaanku terasa lebih ringan. Namun rasanya hidupku semakin sulit.

Bahkan Aku tidak mungkin punya waktu untuk mencari nafkah, seperti dulu berjualan makanan, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang. Karena waktuku habis untuk merawat Uus dan Salim. Beruntung, dua anakku yang lain, bisa membantuku untuk makan sehari – hari. Meski Aku tahu, kehidupan mereka juga masih dalam kesulitan.

Ya hari - hariku kini, harus merawat dua orang yang sangat Aku sayangi. Uus dan Salim. Hingga Aku tak lagi mampu merawat rumah. Rasanya tak ada lagi tenaga yang tersisa. Aku kini tidak lagi peduli dengan kondisi rumahku. Bagiku merawat kedua orang yang Aku cintai ini, lebih dari segala – galanya.

Sebagai manusia biasa, Aku kadang merasa letih menghadapi kenyataan ini. Bahkan Aku pernah bertanya kepada Tuhan, kenapa engkau tidak adil kepadaku ? Kenapa engkau timpakan cobaan yang tiada henti ? Apa sebenarnya yang engkau inginkan dariku ? Akhirnya Aku sadar, tidak ada gunanya meratapi nasib.

Tidak ada gunanya menolak takdir. Bukannya Tuhan Maha Kuasa. Dan Aku hanya manusia biasa, yang hanya bisa pasrah dan tawakal menjalani takdirnya.

Dalam kesendirian, kadang Aku masih menyimpan perasaan, yang teramat sulit untuk dihilangkan. Ya kini Aku masih bisa melakukan segalanya. Fisikku masih kuat merawat Uus dan Salim, meski batinku kadang merasa lelah.

Namun bagaimana kelak, jika Aku sudah tidak ada ? Siapa yang bisa merawat Uus dan Salim. Mungkinkah anak - anakku yang lain bisa merawat adik dan ayahnya dengan penuh kasih sayang ?

Sebagai seorang ibu dan istri, kasih sayangku terhadap Uus dan Salim, memang tak akan pernah hilang oleh waktu. Pengabdian dan rasa cintaku, telah mengapus segala keraguan tentang kehidupanku. Namun sebagai wanita, kadang batinku bertanya ? Apakah Aku kuat menjalaninya ?

Ya semuanya Aku pasrahkan kepada Sang Maha Pencipta. Bukankah merawat anak adalah sebuah amanah, bukankah mengabdi kepada suami adalah ibadah? Ya Tuhan mudah - mudahan engaku selalu menerangi mata batinku, agar Aku terus bisa bertahan dalam menjalani hidup yang penuh dengan cobaan. (Dv/Sup).

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :