Reporter : Sisca T Gurning - Erwin Saputra
Juru Kamera : Damar Galih - Waluyo Adi S
Produser : Widayat Noeswa
Tayang : Jumat, 20 Juni 2008, Pukul 12.30 WIB
indosiar.com, - Tak ada kata yang bisa mewakili kepedihan Iyut Fitriani. Seorang gadis belia berusia 15 tahun. Sejak bayi kepalanya ditumbuhi tumor yang kian hendak kian membesar. Orangtua Iyut tak punya biaya untuk mengobatinya hingga ia harus pasrah menerimanya.
Aku selalu membayangkan betapa bahagianya jika Aku sehat seperti teman - temanku, bisa bermain dan menggapai masa depan. Mereka bisa mengeyam pendidikan, seperti yang mereka inginkan. Sedangkan Aku diusia yang ke 15 ini, Aku hanya bisa meratapi nasib. Siapa sih yang mau mengalami derita seperti ini, menanggung malu seumur hidup.
Kata ibuku waktu Aku masih kecil Aku hanya bertahan sekolah selama 3 hari di Sekolah Dasar dekat rumahku. Waktu itu Aku hanya bisa menangis karena malu dan menanggung sakit hati karena teman satu sekolahku hanya bisa mencerca dan menghinaku.
Akhirnya Aku memilih untuk tidak sekolah lagi. Padahal Aku sangat rindu bisa bersekolah dan menimba ilmu. Aku yakin kepintaranku tidak jauh beda dengan mereka semua.
Kata ibuku sejak Aku lahir memang sudah ada segumpal daging berwarna kehitaman. Daging itu terus membesar seiring bertambahnya usiaku. Bahkan kini hampir seluruh kepalaku ditumbuhi daging itu. Kata bapakku banyak orang bilang penyakitku ini adalah tumor. Namun karena orangtuaku tidak punya biaya Aku tidak dibawa ke dokter atau rumah sakit. Aku tidak tahu apa sebenarnya penyakitku ini.
Aku sadar ini semua bukan kesalahan orangtuaku, namun kadang - kadang Aku bisa marah tanpa sebab. Mungkin karena Aku hanya bisa meratapi nasib.
Aku menjadi gadis pemurung, pendiam dan sering mengurung diri didalam kamarku. Padahal Aku rindu sekali bisa melihat dunia luar dan punya banyak teman, namun Aku tidak bisa berbuat apa - apa. Sholat rasanya susah sekali karena tumor itu membuat kepalaku berat dan sulit untuk bersujud. Ya ... Tuhan ampuni dosaku ini.
Aku bersyukur pada ibu dan bapak. Mereka sangat sabar dan menyayangiku. Setiap permintaanku mereka berusaha untuk memenuhinya. Bahkan ketika Aku minta dibelikan televisi untuk menemani kesepianku mereka berusaha keras membelikannya. Meski Aku tahu untuk mendapatkan uang ratusan ribu saja bapak dan ibuku harus membanting tulang.
Aku tahu bahwa tumor ini sebenarnya bisa dibuang dengan operasi sehingga tidak harus dibiarkan membesar seperti sekarang. Oh Tuhan terkadang Aku merasa hidup ini sangat tidak adil. Mengapa cobaan yang berat ini harus terjadi padaku ? Anak yang lahir dalam dekapan kemiskinan. Kalau saja orangtuaku kaya mungkin tumor ini sudah dioperasi sejak Aku masih bayi. Aku tentu tidak akan menanggung rasa sakit dan malu.
Segmen 2
Iyut hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Apalagi saat merasa pedih menusuk - nusuk kepala. Dalam doanya Iyut selalu berharap semoga Tuhan membukakan jalan agar Ia bisa sembuh dari penyakitnya.
Aku sering menangis sendiri di kamarku, Aku bosan dengan keadaanku, namun Aku tidak bisa berbuat apa - apa. Aku bosan hanya membantu ibuku dan bermain dengan adikku dirumahku. Aku ingin sekolah dan belajar mengaji tapi Aku malu melihat daging tumbuh diatas kepalaku.
Sekarang keadaan rumah semakin sepi. Dulu sewaktu ketiga kakakku belum menikah merekalah yang menjadi teman bermainku. Kakaklah yang mengajari Aku membaca dan menulis. Kini Aku hanya ditemani kedua orangtuaku dan adikku yang paling kecil Nasrullah yang baru berusia 4 tahun.
Aku kadang nyeri melihat wajah dan kepalaku didepan cermin. Aku tidak bisa membayangkan bagaimanan bentuk kepalaku jika tumor itu terus tumbuh menutupi kepala dan wajahku. Apalagi banyak tahi lalat yang muncul di wajah dan tubuhku yang kian hari kian membesar dan akhirnya daging tumbuh.
Ya... Tuhan apakah ini kutukan atau cobaan yang sedang engkau berikan padaku. Tapi apa dosa dan salahku, Aku tidak pernah minta untuk dilahirkan, lalu kenapa engkau menghukumku seperti ini ?
Tapi apa dayaku ? Orangtuaku miskin, bapakku Uwen hanya seorang sopir truk pasir. Apalagi sudah hampir setahun ini bapakku tidak bekerja lagi dan hanya menjadi petani serabutan.
Ini membuat ekonomi keluarga kami morat marit. Tiap hari kami hanya makan singkong hasil kebun yang kami tanam milik tanah milik orang lain. Kalaupun ada uang orangtuaku hanya mampu membeli ikan asin dan beberapa liter beras.
Aku memang tidak bisa berharap apa - apa dengan kondisi orangtuaku. Aku pasrah meski setiap saat Aku harus merasakan pusing, pedih seperti ditusuk - tusuk pisau dan tentu rasa malu. Aku jadi sulit tidur, kalau sudah begitu Aku hanya bisa menangis menahan sakit tanpa bisa berbuat apa - apa. Padahal tumor ini semakin hari semakin besar.
Oh.. Tuhan dengarlah doaku satu ini, Aku ingin tumor ini pergi dari kepalaku dan Aku bisa terbebas dari rasa sakit itu dan rasa malu yang terus menderaku. Aku tak ingin terus menerus menyusahkan kedua orangtuaku. Aku kadang bermimpi ada orang yang mau membantu keluarga kami untuk mengobati penyakitku, sehingga Aku bisa menatap dunia luar yang sudah lama Aku rindukan dan juga bisa menggapai cita - cita. (Dv/Sup).