Kesehatan
20-Jun-2008 16:58:49 WIB
HATI NURANI
Lumpuh Merenggut Kebanggaanku



Reporter : Sisca T Gurning - Erwin Saputra
Juru Kamera : Damar Galih - Waluyo Adi S
Produser : Widayat Noeswa
Tayang : Jumat, 20 Juni 2008, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Sumedang- Een Sukaeshi dulunya adalah seorang guru disebuah SMA di Cirebon, Jawa Barat. Namun takdir mengubah kebahagian hidupnya. Sejak 21 tahun silam, Een hanya bisa berbaring lemah di kamar tidurnya karena kedua kakinya lumpuh.

Hidup memang penuh misteri. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Itulah yang aku alami saat ini. Aku terlahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara di sebuah desa kecil di Sumedang, Jawa Barat. Cita-citaku sangat mulia menjadi guru. Aku berusaha keras menggapai cita-cita itu.

Dan sungguh bahagianya ketika aku berhasil mencapai cita-citaku dan lulus diploma dari sebuah perguruan tinggi. Kebetulan akulah satu-satunya yang bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Aku tentu menjadi kebanggaan sekaligus menjadi penopang kehidupan keluargaku, karena kedua orangtuaku hanya sebagai pedagang ikan di pasar. Tapi takdir yang maha kuasa menentukan lain.

Saat aku tengah menikmati profesiku sebagai guru disebuah Sekolah Menengah Atas di Cirebon musibah datang tanpa diundang. Awalnya pada bulan Januari tahun 1987 aku mengalami gangguan tulang pada kedua kakiku. Aku merasakan nyeri yang luar biasa.

Bahkan untuk berjalan saja sangat sulit. Tepat sebulan kemudian aku sama sekali tidak bisa berjalan, kakiku lumpuh total. Aku sudah berusaha berobat ke berbagai tempat. Mendatangi dokter ahli bahkan juga ke ahli pengobatan tradisional. Namun semuanya sia-sia. Menurut dokter aku terserang radang sendi.

Penyakitku sangat langka dan sulit disembuhkan karena belum ada obatnya. Kini aku hanya bisa berbaring layu ditempat tidur, karena memang aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk makan pun aku harus disuapi. Mulanya aku shok menerima kenyataan hidup yang teramat pahit ini. Aku berusaha mengingat kembali masa laluku.

Ya Tuhan, apa salahku hingga aku menerima nasib seperti ini. Airnya aku sadar tidak mungkin bisa menolak takdir, aku pasrah dan aku berusaha tabah menerimanya. Namun meski kondisiku tak berdaya, namun semangat untuk mengabdi dan berbagi ilmu tidak pernah pudar. Aku merasa punya tanggungjawab moril yang besar atas ilmu yang aku miliku.

Hampir setiap hari tak pernah mengenal hari libur, aku memberikan pelajaran tambahan kepada anak-anak disekitar rumahku secara cuma-cuma. Semua pelajaran yang aku kuasai aku ajarkan kepada mereka.

Rasanya bangga sekali jika minat anak-anak asuhanku bersemangat untuk meraih ilmu. Bukankah ilmu adalah penerang dunia dan ilmu bisa membantu kita memecahkan berbagai persoalan hidup.

Kini aku hanya bisa berdoa dan memohon kepada Tuhan semoga aku selalu diberi kesehatan dan kekuatan menjalani hidup ini, mudah-mudahan ada keajaiban yang bisa menyembuhkan kelumpuhanku ini. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendakinya. (Sup)

 

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :