Kesehatan
27-Jun-2008 16:23:03 WIB
HATI NURANI
Kaki - Kaki yang Rapuh



Repoter : Erwin Saputra
Juru Kamera : Waluyo Adi Susanto - Iwan Agung
Produser : Widayat Noeswa
Tayang : Jumat, 27 Juni 2008, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, - Meski nampak ceria, Endang dan Luki tetap tidak bisa menutupi kepedihan yang mereka rasakan. Tulang kaki dan tangannya tumbuh tidak normal. Jika disentuh atau terjatuh mereka akan menangi kesakitan. Mereka pun tidak mampu berdiri.

Jika Endang dan Luki tengah bermain, mereka nampak sangat bahagia. Tertawa, bercanda atau berbaur dengan teman-temannya. Tapi lihatlah fisiknya, tulang kedua anakku ini tak berbentuk. Tangan dan kakinya bengkok tak beraturan, hingga keduanya tidak bisa berjalan normal.

Untunglah kedua buah hatiku ini seperti tak menghiraukan apa yang mereka alami. Mereka tetap ceria menjalani hidupnya. Meski aku tahu ada keinginan yang terpupus. Keduanya kini tidak lagi bisa bersekolah. Sejak 4 bulan lalu, aku memutuskan untuk menghentikan sekolahnya. Aku lelah, setiap hari harus mengendong mereka berangkat dan pulang sekolah. Sementara ekonomi keluargaku rasanya berat untuk membiayai mereka.

Suamiku Ihin sudah tidak bekerja lagi karena mengidap penyakit darah tinggi. Apalagi sejak anakku yang bernama Indra meninggal dunia tiga bulan lalu. Padahal Indra adalah tulang punggung keluarga. Selama ini Indralah yang menopang kehidupan kami. Indra jugalah yang dengan setia membantu aku merawat kedua adiknya.

Kini aku hanya bisa mengandalkan belas kasihan anak-anaku yang lain. Meski aku tahu mereka juga hidup dalam kesulitan. Endang dan Luki memang pernah bersekolah hingga tamat di Taman Kanak Kanak. Setelah itu mereka juga sempat masuk ke Sekolah Dasar. Foto ini menjadi saksi bisu sekaligus kebanggaan Endang dan Luki saat mereka masih bisa bersekolah seperti teman-temannya.

Aku tahu Endang dan Luki sangat kecewa, mereka harus merelakan masa depannya terengut. Dan aku sadar, meski cacat, Endang dan Luki sangat bersemangat untuk maju dan menggapai cita-citanya. Tapi maafkan aku nah, aku tidak mampu lagi mewujudkan harapanmu.

Kini hari-hari Endang dan Luki hanya dihabiskan untuk bermain. Kadang untuk menghilangkan kepenatan, mereka pergi memancing atau bermain layang-layang. Jika malam tiba aku berusaha mengajari mereka belajar membaca dan menulis. Aku juga tidak lupa mengajari mereka mengaji agar keduanya punya bekal agama yang kuat. Itulah yang bisa aku lakukan, karena aku sadar aku tidak bisa membekali mereka dengan pendidikan tinggi atau harta yang cukup.

Didalam lubuk hati yang paling dalam hatiku menangis seperti tersayat-sayat melihat kondisi Endang dan Luki. Mengapa mereka lahir dan hidup hanya merasakan kesulitan. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana masa depan mereka.

Ya Tuhan, tidak tega rasanya aku melihat kondisi kedua anakku, tapi apa daya, takdir sudah menentukan kehidupan kedua anakku. Oh Tuhan aku tahu engkau sedang menguji aku. Kuatkanlah batinku agar selalu tambah menjalani ujian.

Segmen : 2

Hingga kini Mara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dua buah hatinya. Mara sudah berusaha membawa Endang dan Luki ke dokter dan pengobatan alternatif, namun tidak ada hasilnya. Kini hanya kepasrahan yang menguatkan Mara untuk menerima cobaan yang teramat berat ini.

Aku terlahir dari keluarga miskin, kehidupanku jauh dari cukup. Namun entah bagaimana meski aku hidup serba kekurangan, tapi aku dikaruniai 11 anak. Bisa dibayangkan betapa susahnya aku menghidupi anak-anakku apalagi jika memikirkan kondisi Endang dan Luki.

Aku tidak pernah bermimpi dan tidak pernah membayangkan kedua anakku lahir dengan kondisi seperti ini. Padahal saat mengandung Luki, aku merasa tidak ada yang aneh semua berjalan seperti biasa. Begitu juga saat mengandung kakaknya Endang.

Namun saat lahir, kaki Endang memang nampak lain dari anak-anak normal. Kakinya terlihat bengkok seperti kaki ayam. Endang memiliki tulang yang sangat rapuh. Jika disentuh saja pada bagian pinggang dan kedua kakinya ia akan menjerit kesakitan, sehingga tidak sembarang orang bisa mengendongnya. Tulang kakinya juga tipis dan tidak beraturan.

Tidak jauh berbeda dengan kondisi Endang, meski tidak separah kakaknya, namun tulang Luki juga rapuh dan tumbuh tidak beraturan. Karena itu aku sangat berhati-hati merawatnya, karena jika terjatuh atau tersentuh sedikit saja, mereka akan menangis kesakitan. Demikian juga saat akan memandikan mereka aku harus sangat hati-hati.

Aku sudah berusaha melakukan berbagai upaya agar mereka bisa sembuh. Aku sudah membawanya ke dokter dan pengobatan alternatif. Hingga detik ini aku juga tidak tahu apa sebenarnya penyakit yang mereka derita. Banyak orang bilang mungkin mereka cacat karena waktu mengandung aku kekurangan gizi.

Ingin rasanya aku melihat mereka bisa menjadi anak normal, bisa berjalan, berlari, bermain dan bersekolah seperti teman-temannya. Jika saja Endang tidak cacat, mestinya sudah duduk di bangku SMP. Sementara Luki, seharusnya sudah berada di kelas 5 SD. Semua itu kini tinggal impian.

Akhirnya aku hanya pasrah menerima cobaan. Aku sadar Tuhan akan selalu menguji umatnya dengan berbagai cara. Tapi mengapa cobaan ini teramat berat. Rasanya sudah habis air mata ini memikirkan dua buah hatiku.

Aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan mereka kelak. Siapa yang akan menanggung kehidupannya jika aku sudah tidak mampu lagi melakukannya. Semua aku pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa, aku hanya bisa menjalaninya. (Sup)

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :