Repoter : Erwin Saputra
Juru Kamera : Waluyo Adi Susanto - Iwan Agung
Produser : Widayat Noeswa
Tayang : Jumat, 27 Juni 2008, Pukul 12.30 WIB
indosiar.com, Garut - Asti dan adiknya Ahmad sungguh menderita kulitnya bersisik seperti ular. Jika sedang kambuh, mereka merasakan panas dan perih yang teramat sangat. Orangtuanya juga tidak pernah membawa mereka berobat karena ketiadaan biaya.
Sekilas Asti dan Ahmad tak ubahnya seperti anak-anak yang lain. Mereka tampak lincah dan ceria dan bisa menikmati masa kanak-kanaknya. Namun jika diperhatikan ada yang lain dari anak-anak normal. Sejak lahir kulit kedua anakku bersisik seperti ular.
Aku tinggal di sebuah desa kecil di Garut, Jawa Barat dan aku menikah dengan laki-laki yang tidak lain adalah tetanggaku sendiri. Namun kami termasuk keluarga yang kurang beruntung. Asti anakku yang pertama kini berusia 10 tahun dan adiknya Ahmad berusia 5 tahun.
Asti sudah bersekolah kelas 4 SD, sedangkan Ahmad belum bersekolah karena belum waktunya. Sekujur tubuh kedua anakku mengidap penyakit kulit bersisik berwarna keputihan tanpa pori-pori.
Sebenarnya kulit bersisik yang paling paling diderita anakku Asti. Seluruh kulit wajah Asti bersisik, hampir setiap hari kulit kedua anakku mengelupas seperti plastik yang menempel di kulitnya. Jika malam, kedua anakku selalu mengeluh karena rasa gatal yang amat sangat.
Apalagi jika udara panas, kulit anakku menjadi kemerahan dan tentu akan merasa gatal. Ya Tuhan. Aku pernah berusaha membawa Asti ke Puskesmas saat Asti berusia 3 tahun. Namun tidak sembuh.
Untuk membawa ke dokter spesialis kulit aku tidak punya biaya. Akhirnya aku pasrah dan membiarkan anakku menderita seperti ini. Suamiku hanya sebagai kudir delman yang penghasilannya tidak tetap. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja, kadang sulit.
Kini aku hanya bisa mengobati kedua anakku dengan salep murahan yang dijual di warung-warung. Jujur aku sangat mengkhawatirkan kondisi anakku apalagi Asti, karena ia perempuan. Asti kelak pasti akan minder dengan penyakit yang dideritanya.
Saat ini saja, Asti sering mengeluh jika berada di sekolah karena banyak teman-temannya yang mengejeknya. Bahkan Asti berencana berhenti sekolah. Aku berusaha kuat untuk membuat Asti tidak malu, namun entahlah aku juga tidak mungkin memaksanya, jika memang Asti tidak lagi nyaman dengan kondisinya.
Dibalik itu aku sebenarnya bersyukur karena Asti ternyata anak yang cerdas. Saat berusia 3 tahun, Asti sudah dapat membaca dan menulis. Bahkan sejak dari kelas 1 SD hingga kelas 4 ini Asti selalu juara satu.
Lihatlah piagam ini. Ini bukti prestasi sebagai juara kelas sekaligus kebanggaannya. Kini aku hanya bisa pasrah, muda-mudahan mereka selalu sehat, walau mereka memiliki kelainan penyakit kulit. (Sup)