jeruk bali
Kesehatan
4-Jul-2008 16:30:22 WIB
HATI NURANI
Hidupku Semakin Gelap



Reporter : Erwin Saputra
Kameraman : Waluyo Adi Susanto
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jum’at, 4 Juli 2008 Pukul 12.30 WIB

Segmen I

indosiar.com, Jakarta - Bagiku dunia kini terlihat gelap gulita. Terangnya sinar matahari, tak mampu lagi menerangi pandangan mataku. Ya.....sejak setahun lalu, mataku buta total. Aku tidak tahu penyakit apa yang menyerang mataku ini. Bahkan mata kananku, kadang masih mengeluarkan darah.

Aku dilahirkan oleh orang tua yang miskin. Kehidupan kota Jakarta yang keras, ternyata memang tidak mudah untuk mencari penghidupan. Orangtuaku mencari rezeki dengan berdagang kecil – kecilan. Tapi meski susah, orangtuaku tidak mengenal keluarga berencana. Bahkan orangtuaku memiliki sebelas anak. Aku lahir sebagai anak kedua.

Bisa dibayangkan betapa susahnya orangtua kami menghidupi anak - anaknya yang sangat banyak. Bahkan saudara - saudaraku tidak ada yang tamat SMP. Aku sendiri hanya tamat Sekolah Dasar. Kata orangtua, yang penting Aku bisa membaca dan menulis.

Entah karena kemiskinan atau karena apa, Aku lahir dengan mata sebelah kiri yang buta. Ibuku juga tidak tahu apa yang menyebabkan mataku cacat sejak dalam kandungan. Mungkin saja, ibu kurang mendapat asupan makanan bergizi. Tapi sudahlah, Tuhan memang menakdirkan Aku lahir seperti itu. Kehidupanku harus tetap berjalan.

Sebagai anak perempuan, Aku berusaha menjalani kehidupan yang normal, meski Aku kadang merasa minder jika menyadari kekuranganku. Namun seiring dengan berjalannya usiaku, perasaan itu lama lama hilang ditelan waktu.

Awalnya Aku masih bersyukur, mata sebelah kanan masih bisa menikmati indahnya dunia. Bahkan Aku sempat menikah dan memiliki dua orang anak. Yusuf berusia 6 tahun dan Ramadani berusia 2 tahun.Namun setahun lalu, mata kananku tiba - tiba buta. Bola mataku, terlihat memutih, bahkan kadang - kadang mengelurkan darah. Aku tidak tahu, apa penyebabnya.

Ya Tuhan..... Bagiku, dunia kini benar - benar gelap. Aku sempat shock, menerima kenyataan ini. Aku seperti tidak percaya semua ini terjadi pada diriku. Mataku yang sebelah kanan, cukup parah. Bola mataku menonjol keluar, disekelilingnya dipenuhi gumpalan darah. Sekali - kali mataku mengeluarkan darah. Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa mengelap mataku dengan kapas. Aku benar - benar pasrah.

Aku berusaha pergi ke puskesmas dekat rumahku, untuk berobat. Namun pihak puskesmas tidak mampu, karena tidak memiliki alat - alat yang lengkap.

Dokter menyatakan, kondisi mataku sangat parah, sehingga Aku disarankan untuk berobat ke rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap, atau ke dokter spesialis mata. Dokter di puskesmas juga tidak menjelaskan apa sebenarnya penyakit yang Aku derita, hingga mata kananku akhirnya juga buta.

Tapi Ya Tuhan, rasanya tidak mungkin Aku bisa berobat ke rumah sakit atau ke dokter ahli. Aku tidak memiliki biaya. Aku dengar biaya untuk penyakit mata seperti Aku sangat besar. Dari mana Aku bisa mendapatkan uang ? Untuk makan sehari hari saja rasanya sudah berat.

Akhirnya Aku hanya bisa pasrah. Menjalani hari - hari yang penuh dengan kegelapan. Aku berusaha menata perasaanku, agar ikhlas menerima takdir dari Yang Maha Kuasa. Berat memang, tapi tidak ada pilihan, kecuali harus menerima jalan hidup, yang tak seorangpun bisa meramalnya.

Segmen II

Kini, anakku Jusuf menjadi teman setiaku. Kemana pun Aku pergi ia selalu setia menuntunku. Aku tahu Jusuf sangat sedih dengan keadaanku. Mestinya, ia bebas bermain sesukanya, namun ia punya tanggungjawab lain, menjaga dan mengawalku.

Ya... Kata orang roda kehidupan itu berputar. Kadang diatas, dan kadang dibawah. Namun semua itu sepertinya tidak berlaku bagiku. Sejak kecil, Aku merasa kehidupanku berada dalam kesulitan. Dan kini kehidupanku jauh lebih sulit.

Cobaan hidup bahkan silih berganti. Sejak setahun lalu, kehidupanku memang terasa teramat sulit. Saat kedua mataku buta total, suamiku meninggal dunia. Ya Tuhan cobaan apa lagi yang engkau berikan padaku. Hidup ini terasa semakin gelap. Aku tidak tahu lagi bagaimana Aku harus menghidupi anak – anakku. Sementara Aku sendiri tidak bekerja.

Kini Aku terpaksa kembali tinggal di rumah orangtua, dikawasan Kalimati, Daan Mogot, Jakarta Barat. Karena sebelumnya Aku dan suamiku tinggal dirumah kontrakan. Sejak suamiku meninggal, memang tidak ada pilihan bagiku, kecuali kembali ke orangtua. Kondisiku tidak memungkinkan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup dua anakku, apalagi untuk membayar kontrakan rumah.

Dirumah ini, Aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan dua anakku. Meski dalam kondisi penuh kekurangan, kami berusaha menerimanya. Aku dan kedua anakku harus rela tinggal di rumah sempit, yang sebenarnya tidak layak. Untuk kehidupan sehari – hari, Aku berusaha membantu orangtua dan adikku berdagang makanan di sebuah warung nasi, dipinggir jalan. Aku membantu mencuci piring, mengelap meja, atau pekerjaan kasar lainnya.

Ya inilah sehari hari pekerjaanku, bersama keluarga. Dari warung kecil inilah keluarga kami mencari nafkah. Meski Aku rasakan semakin hari semakin sulit mencari rezeki. Semua kebutuhan hidup makin hari terasa semakin mahal. Hari demi hari, Aku jalani kehidupan ini. Jujur sebenarya Aku sendiri gamang melihat hari esok.

Hidupku kini hanya seperti menjadi beban bagi orangtua dan saudaraku. Sementara siapa yang akan menanggung kehidupan kedua anakku. Mereka butuh sekolah, mereka butuh makan dan mereka butuh perlindungan. Sementara kondisiku seperti ini. Tidak mungkin Aku menggantikan peran ayahnya.

Dalam kesepian dan kegelapan, Aku hanya bisa pasrah dan berdoa. Agar anak - anakku tumbuh sehat, meski Aku tidak berani membayangkan bagaimana masa depan mereka. Karena Aku tidak bisa membiayainya untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Aku hanya berharap, jika mereka kelak sudah dewasa, bisa menanggung hidupku. Rasanya Aku tidak mungkin terus hidup ikut dengan orang tua. Ya Tuhan....cobaan hidupku memang terasa sempurna. Mataku buta, dan suamiku telah tiada. Tapi inilah kehidupan. Manusia hanya bisa berharap dan berencana, tapi akhirnya Tuhanlah yang menentukan segala - galanya. (Dv/Sup).

Alamat Ibu Ratna :
Jalan Kalimati Rt. 04, Rw. 06, Kel. Kedaung Angke, Daan Mogot Jakarta Barat.

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :