Reporter : Sisca Tiur Gurning indosiar.com, - Aku memang berbeda dengan kebanyakan remaja sebayaku. Saat lahir, dokter mengatakan bahwa Aku mengalami cacat diseluruh tubuhku. Tulangku kekurangan kalsium, karena saat dalam kandungan, tali pusarnya hampir putus. Sehingga Aku kekurangan asupan kalsium. Kini kondisi tulangku sangat rapuh, dan mudah patah. Pertumbuhan tulangku juga tidak normal.
Aku tak mampu beranjak dari tempat tidurku ini, karena Aku baru saja mengalami patah tulang di lengan tanganku, padahal waktu itu Aku hanya membalikan tubuh saat tidur. Rasanya ngilu dan sakit sekali. Dan patah tulang itu bisa terjadi setiap hari, bahkan kalau batuk terlalu keras aja, tulangku bisa patah.
Hampir semua tulang ditubuhku pernah mengalami patah tulang. Sewaktu Aku lahirpun, kedua lengan tangan dan kakiku sudah mengalami patah tulang. Ibuku, Nurainah bercerita, ketika Aku masih bayi, ibu merawat Aku bagikan keramik kristal termahal, yang harus sangat hati - hati memegangnya.
Tidak semua orang yang bisa memahami dan mengetahui struktur dan kerapuhan tulangku. Hanya ibu dan ayahku yang tahu persis, bagaimana caranya mengangkat dan memindahkanku. Karena kalau tidak, Aku akan mengalami kesakitan yang luar biasa, karena tulangku akan banyak yang patah.
Kondisi tulangku,tidak mambuat Aku patah semangat dalam menjalani kehidupan. Meski tidak normal, Aku juga berusaha seperti anak - anak yang lain. Bahkan Aku bertekad tetap sekolah. Bahkan kata teman – teman, Aku termasuk siswa yang ceria dan berprestasi.
Waktu Aku duduk di Sekolah Dasar, Aku masih bisa dengan lincahnya merangkak, namun seiringnya usia yang terus bertambah, badanku semakin bertambah berat, sehingga membuat tulangku semakin rapuh, dan mudah patah.
Oh… Tuhan entahlah, mungkin bisa dibilang Aku mengalami patah tulang hingga jutaan kali. Aku sebenarnya dua tahun lalu mendapat nilai tertinggi untuk matematika, dalam ujian akhir nasional tingkat SMP, se DKI Jakarta, dan Aku diterima masuk sekolah menengah umum favorite di Jakarta Selatan.
Namun, karena kondisi fisik yang lemah membuat Aku harus rela melepas kesempatanku disekolah favorite. Aku terpaksa menimba ilmu di Yayasan Pendidikan Anak Cacat. Aku tidak menyianyiakan kesempatan belajar.
Aku ingin membuktikan Aku memiliki kelebihan, meski kondisi fisikku lemah. Aku tidak menyianyiakan kesempatan belajar. Aku ingin membuktikan Aku memiliki kelebihan, meski kondisi fisikku lemah.
Saat diadakan lomba cerdas cermat MIPA, siswa SLB, tingkat provinsi, Aku berhasil menjadi juara. Aku bercita - cita untuk kuliah ekonomi atau memperdalam seni musik. Tapi Aku tidak bias. Aku hanya bisa memendam cita - citaku itu di dalam hatiku.
Selain ketiadaan biaya, kondisi fisikku juga tidak memungkinkan. Ketika Aku duduk di kelas 6 SD, Aku pernah dijanjikan mendapat beasiswa oleh Presiden BJ Habibie. Namun hingga sekarang janji itu tidak pernah aku nikamati.
Oh …. Tuhan, kini sudah 7 bulan Aku tidak lagi bersekolah. Tulangku semakin rapuh, dan mudah patah, apalagi ayahku sudah pension. Keluargku hanya mengandalkan belas kasihan kakak tertuaku. Aku merasa hidup semakin susah. Padahal Aku masih ingin sekali mewujudkan cita - citaku, mengapai masa depan. Tapi apa daya, Aku hanya bisa pasrah menerimanya. (Dv/Sup).