jeruk bali
Kesehatan
11-Jul-2008 16:33:10 WIB
HATI NURANI
Sendiri Dalam Kegelapan



Reporter : Sisca Tiur Gurning
Kamerawan : Wasam Aji
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jumat 11 Juli 2008 Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, - Aku tidak pernah minta dilahirkan kedunia ini. Apalagi jika harus menanggung beban kehidupan yang teramat berat. Ya.....penderitaanku terasa lengkap. Kedua mataku kini buta. Dan sejak lahir, aku tidak pernah merasakan belaian kasih sayang kedua orangtuaku. Bahkan hingga kini, aku tidak tahu apakah ibuku masih hidup, karena belum pernah sekalipun aku menatap wajahnya, atau mendengar suara lembutnya.

Inilah pekerjaan yang bisa aku lakukan setiap hari untuk menyambung hidup. Mengumpulkan nasi aking dari tetanggaku, kemudian aku keringkan, dan setelah terkumpul kemudian aku jual. Buat orang lain, mungkin nasi ini sudah dibuang atau dijadikan makanan ternak. Namun bagiku, inilah rezeki yang diberikan Tuhan, yang harus aku syukuri dan aku nikmati.

Ya... Aku memang tidak bekerja. Sejak empatpuluh tiga tahun lalu, kedua mataku tidak bisa menatap keindahan ciptaan yang Maha Kuasa. Bahkan aku tidak tahu lagi bagaimana wajahku saat ini. Aku tidak tahu mengapa semua itu bisa terjadi pada diriku. Jika berjalanpun aku hanya mengandalkan perasaan dan instingku.

Aku menderita gangguan mata sejak aku masih kecil. Mataku kabur, dan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depanku. Aku juga tidak pernah di bawa ke dokter, karena nenekku tidak punya biaya. Ketika aku menginjak usia 20 tahun, mataku benar-benar gelap, tidak bisa lagi untuk melihat.

Meski demikian aku tidak ingin merepotkan orang lain. Segalanya aku kerjakan sendiri. Dari membuat nasi aking, mandi, memasak, hingga membersihkan rumah. Aku memang terlahir sebagai anak yang malang. Kini usiaku sudah 63 tahun. Namun hingga kini aku tidak pernah merasakan kehangatan belaian kasih sayang orang tua. Saat aku masih dalam kandungan, ayahku meninggal dunia.

Kemudian sesaat setelah lahir, ibuku pergi meninggalkan aku. Kata nenekku, ibuku kawin lagi dengan lelaki lain. Karena itu, sejak lahir aku dirawat dan dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Ya Tuhan.... Jika harus memilih, mungkin aku lebih baik tidak dilahirkan ke dunia ini. Untuk apa lahir ke dunia, hanya untuk menanggung beban penderitaan ?

Hingga kini ibuku tidak pernah sekalipun menemuiku. Padahal aku sangat merindukannya, meski hanya untuk mendengar suara lembutnya. Aku juga tidak tahu apakah ibuku masih hidup apakah sudah meninggal. Semuanya gelap.

Ya... Kakek dan nenekkulah orangtua yang sebenanrnya. Mereka merawat aku dengan penuh kasih sayang. Meski aku tidak pernah mengenyam pendidikan, karena kakek dan nenekku tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan aku, namun aku merasa bersyukur, dan bertetimakasih kepada mereka.

Dalam kesendirian dan kegelapan, kadang aku benar benar merasa sepi. Ketika aku masih muda terbersit keinginan untuk menikah. Namun kadang keinginan itu surut ketika aku menyadari kondisiku. Aku seorang pria buta, wanita mana yang mau menikah dengan aku? Kini usiaku sudah senja, keinginan itu sudah aku buang jauh jauh. Aku pasrah menjalani kehidupan ini. Ya Tuhan...mudah mudahan engkau selalu memberi kekuatan untuk menjalani takdirmu.

Segment II

Kini aku tinggal di rumah warisan kakek dan nenekku, di Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Pnjaringan, Jakarta Utara. Mereka sudah lama meninggal dunia. Rumah dengan ukuran 8 kali 5 meter ini, hanya cukup untuk ruang tidurku, kamar mandi dan dapur.

api aku berusaha merawatnya. Aku selalu membersihaknnya setiap hati. Rumahku berada di kampung padat. Rumah tetanggaku saling berhimpitan. Sehingga, meski aku hidup sendiri, namun aku merasa tidak kesepian. Tetanggaku sering ngobrol di depan rumah. Itulah obat satunya kesepian hidupku.

Untuk makan sehari hari, aku menyewakan bagian depanku untuk dijadikan warung kecil. Setiap bulan aku mendapat uang sewa 100 ribu rupiah. Lumayan untuk makan sehari hari. Selain itu, aku juga mengumpulkan nasi sisa makan tetanggaku. Bahkan kadang mereka yang mengantar nasi ke rumah. Setelah jadi nasi aking aku jual ke pelangganku.
Aku berusaha hidup apa adanya.

Uang yang aku dapat, aku usahakan agar cukup untuk makan sehari hari. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupanku dengan uang 100 ribu setiap bulan. Apalagi kini berbagai kebutuhan hidup harganya makin mahal. Aku berusaha untuk tidak mengeluh, apalagi meminta minta ke orang lain. Meski aku tahu banyak tetanggaku yang berbaik hati, dan selalau memperhatikan kehidupanku.

Kata kebahagiaan sepertinya sudah tidak ada lagi dalam kamus hidupku. Entahlah, mungkin karena aku tidak tahu apa itu arti kebahagian hidup. Kasih sayang orang tua saja aku tidak mernah merasakannya.

Keindahan duniaupun aku tidak bisa menikmatinya. Yang ada hanya kesepian dan kegelapan. Tapi aku besyukur, Tuhan masih menyayangi aku. Meski berkubang kemiskinan, aku tidak pernah kelaparan. Aku hanya berusaha dan terus berdoa agar tidak cepat putus asa, dan terus mensyukuri hidup ini.

Sekarang tubuhku semakin renta. Aku sering juga sudah mulai sering sakit. Namun aku berusaha aku berusaha keras agar aku tidak jatuh sakit semakin parah. Aku tidak bisa membayangkan, jika aku jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit, dari mana aku mendapat uang untuk membiayainya?

Ya Tuhan, kini hanya engkau satu satunya tempat aku mengadu. Di saat sedih dan sepi. Aku memohon kepadamu, jika mati mudahkanlah jalan kematian itu, aku tidak ingin merepotkan orang di sekitarku. (Sup)

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :