Reporter : Budi Sampurno indosiar.com, - Aku tidak tahu apa yang kini dirasakan oleh adikku Rahmat. Sudah belasan tahun, Rahmat hanya bisa terduduk diam, seperti patung. Tubuhnya sulit digerakkan, dan Rahmat tidak lagi bias berbicara. Melangkahpun harus dibantu. Ya Tuhan... Ia masih hidup tapi ...ia seperti hidup dalam dunia hampa.
Kehidupan adikku berbalik sejak 20 tahun lalu. Aku masih ingat saat itu ia pulang kerja. Tiba tiba badannya panas dan kejang kejang. Aku berusaha membawanya ke rumah sakit. Kata dokter adikku menderita sakit syaraf, dan diminta membawa ke rumah sakit yang mempunyai peralatan lengkap.
Saat itu, Rahmat masih mendapat bantuan pengobatan dari perusahaan tempat ia bekerja. Aku berusaha membawa ke Rumah Sakit RSCM dan ternyata syarafnya sudah sangat parah dan membutuhkan biaya yang sangat besar.
Aku tidak sanggup untuk membiayainya, dan terpaksa di bawa pulang. Aku juga sudah berusaha membawanya ke orang pintar, dan pengobatan alternatif, namun ternyata tidak ada hasilnya.
Yang lebih menyedihkan, istrinya kemudian pergi meninggalkannya dalam kondisi sakit. Ia kawin lagi dengan laki laki lain, meski belum dicerai secara resmi oleh Rahmat adikku. Ya Tuhan... Betapa menderitanya batin Rahmat, jika mengingat nasib hidupnya.
Sementara anak semata wayangnya tidak pernah mengurusnya. Ia sempat bekerja, dan bisa mendapatkan cukup uang. Namun ia seperti lupa daratan. Ia tidak pernah berbakti pada orangtuanya. Bahkan kini, ia menganggur setelah kecelakaan dan dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja.
Kini Rahmat menjadi tanggunganku, karena akulah satu satunya kakak kandungnya. Bahkan demi adikku, aku rela keluar dari pekerjaanku. Aku malu dengan tetanggaku, karena kondisi Rahmat sangat mengenaskan. Ia tidak bisa melakukan apa apa. Untuk makan Rahmat harus disuapi seperti anak bayi.
Buang air pun ia tidak bisa. Semuanya dilakukan di dalam rumah. Bisa dibayangkan betapa kotor dan bau di dalam rumahku. Aku malu dengan omongan tetangga. Rahmat seperti tidak ada yang merawat. karena itu, aku relakan pekerjaanku, demi merawat adikku.
Puluhan tahun, aku korbankan kehidupan keluargaku untuk merawat adikku. Namun rasanya penderitaan keluargaku teramat berat. Sampai kapan waktuku habis untuk mengurus rahmat ?
Meski istriku memahami keadaanku, namun aku tahu, ada perasaan yang mungkin tidak bisa ia ungkapkan. Ia memiliki suami, yang harus bertanggungjawab mengusuri keluarganya, namun waktuku justru seperti habis untuk mengurus Rahmat.
Bahkan untuk mengobati Rahmat, aku rela menjual apa yang aku punya. Kini aku hanya bisa mencari uang dengan kerja serabutan. Kadang aku membantu mereparasi peralatan elektronik milik tetangga yang rusak, atau kerja apa saja yang penting bisa mendatangkan uang untuk menghidupi keluargaku.
Ya tuhan... Aku tahu... Rahmat sangat menderita. Kadang air matanya meleleh saat ia duduk termenung. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Jika saja ia bisa berbicara, mungkin ia memilih untuk mati daripada hidup hanya merepotkan orang lain. Tapi bagaimanapun, Rahmat adalah adik kandungku.
Aku harus bertanggungjawab merawat dan mengurusnya, meski terasa teramat berat. Aku hanya bisa berdoa, mudah mudahan ada keajaiban, yang membuat Rahmat bisa sembuh dari sakitnya. Ya Tuhan ... Mudah mudahan keajaiban itu benar benar hadir menerangi kehidupan Rahmat adikku. (Sup)
Rahmat / Rino
Jl. Kapung. Gusti Gang Kantong No. 43/ RT 11/ 15 Kec. Pejagalan/ Kel. Penjaringan Jakarta
Utara. Telp (Rino) 081534355422