jeruk bali
Sosbud
18-Jul-2008 17:20:13 WIB
HATI NURANI
Tumor Merenggut Rahimku



Reporter : Sisca T Gurning
Kameraman : Waluyo Adi Susanto
Produser : Widayat S. Noeswa
Tayang : Jumat 18 Juli 2008 Pukul 12.30 WIB
indosiar

indosiar.com - Mungkin banyak orang yang menyangka jika aku sedang hamil tua. Namun Ya Tuhan, yang ada di dalam rahim ku bukanlah anak titipan tuhan yang harus di syukuri. Tapi justru penyakit yang kian hari kian semakin membuat perutku membesar dan terasa sangat sakit.

Bahkan mungkin daging tumbuh yang ada di perutku akan membawaku menemui ajal. Ya Tuhan ternyata aku menderita tumor rahim.

Tubuh Sutinah terus digerogoti tumor yang membuatnya makin hari makin tak berdaya. Namun dia tak mungkin diam. Ia harus membantu suaminya dalam mencari penghidupan meski kondisi tubuhya semakin lemah.

Meski menahan rasa sakit dan beban berat didalam perutku, namun tidak ada pilihan aku harus tetap bekerja untuk menyambung hidupku. Setiap hari aku menjadi buruh cuci dan strika di rumah majikanku.

Jujur, sebenarnya aku tidak kuat menahan derita ini. Apalagi, tumor yang ada di rahimku membuat aku tidak bisa makan. Sehinga aku merasa letih dan tidak bertenaga sepanjang hari. Jika kemasukan makanan sedikit saja, rasanya mual dan harus muntah.

Aku jadi takut kalau harus makan makanan. Bahkan untuk menahan rasa sakit, setiap hari aku harus meminum obat penahan sakit. Tidak heran jika makin hari tubuhku makin kurus kering. Sementara perutku justru makin membesar.

Ya Tuhan sampai kapan derita ini akan berakhir?

Jujur sebenarnya aku terpaksa harus bekerja seperti ini. Karena suamiku hanya bekerja sebagai tukang sapu di pasar dengan penghasilan Rp 20 ribu perhari.

Aku tahu, suamiku sudah berusaha keras mencari rizki untuk menghidupi anak dan istrinya dan menyembuhkan penyakit ku. Tapi apa mau di kata, suami ku orang miskin dan tidak memiliki bekal pendidian apalagi mencari pekerjaan teramat susah.

Sementara kami harus menanggung empat anak. Bahkan karena ketiadaan biaya hanya anak sulungku yang bisa menyelesaikan sekolah SMA. Sementara kedua adiknya harus putus sekolah di SMP dan SMA.

Sedangkan si bungsuku, meski usianya sudah 6 tahun namun terpaksa harus ditunda masuk sekolah dasar karena kami tidak mempunyai biaya. Ya buat kami yang penting anak anak bisa makan. Meski aku sadar mereka tidak mungkin akan hidup lebih baik, jika pendidikannya rendah.

Tetapi itulah hidup, pada titik tertentu kita harus pasrah untuk menerima kenyataan. Kadang aku sangat merasa berdosa kepada mereka karena aku tidak bisa memberikan bekal pendidikan yang cukup.

Ya..hanya air mata yang bisa melepaskan aku dari penderitaan, kepedihan, kekecewaan dan keputusasaan dalam menjalani kehidupan.

Dulu ketika aku masih sehat, aku berjualan nasi uduk, sementara suamiku berjualan sayur. Saat itu meski kecil namun penghasilan kami berdua lumayan lebih baik dari sekarang. Fisiku masih sehat dan aku merasa bahagia bisa membantu mencari nafkah suamiku.

Meski sulit, kini aku masih bisa bersyukur punya tetangga yang baik hati. Mereka sangat memperhatikan kondisiku. Namun aku tahu mereka hanya bisa merasa kasian dan tidak bisa berbuat apa apa. Mereka hanya membantu meringankan bebanku dengan memberikan aku pekerjaan, seperti mencuci dan menyetrika.

Oh tuhaann..kapan penderitaan ini akan berakhir..rasanya aku tidak kuat lagi menanggung semuanya ini.

Meski sudah dua kali di operasi, namun tumor rahim Sutinah masih sulit dihilangkan. Ia hanya bisa pasrah menahan rasa sakit sambil berdoa mudah mudahan ada pertolongan dan membebaskan hidupnya dari segala penyakitnya.

Sekitku ini bermula 6 tahun lalu, setelah aku melahirkan anak ke empat. Saat itu muncul benjolan atau daging tumbuh didalam rahimku dan perutku semakin hari semakin besar sehingga aku seperti hamil kembali.

Awalnya aku tidak tahu kenapa perutku makin hari makin membesar. Suamiku berusaha membawaku berobat ke berbagai macam pengobatan alternatif.

tidak sedikit uang yang kami habiskan untuk mencari pengobatan. Namun penyakitku tidak kunjung sembuh. Aku merasa makin hari makin letih karena aku harus berjalan seperti orang hamil tua. Sementara rasa sakit sering tiba tiba datang membuat aku hanya bisa menangis sendiri.

Aku kemudian memutuskan berhenti berjualan nasi uduk. Saat itu aku hanya bisa pasrah sambil berdoa mudah mudahan ada yang bisa menyembuhkan penyakit ku.

Aku bersyukur tuhan mendengar doa ku. Pada tahun 2005 ada bantuan dari sebuah yayasan yang bersedia membantu membiayai pengobatan ku. Ketika dibawa ke rumah sakit di Tanggerang, aku dipastikan menderita tumor rahim.

Kemudian aku dibawa ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta yang memiliki peralatan lengkap. Yah aku sangat bersyukur karena ada harapan untuk sembuh.

Akhirnya aku menjalani operasi pertamaku pada awal tahun 2005. Daging tumbuh seberat 13 kilogram diangkat dari rahimku. Namun menurut keterangan para dokter tumor itu masih tersisa 5 kilogram dan masih harus menjalani operasi lanjutan.

Tim dokter tidak bisa sekaligus mengangkat tumor itu karena bisa membahayakan nyawaku. Meski demikian aku merasa bersyukur karena kondisi perutku kembali seperti semula tidak tampak buncit.

Namun ternyata kebahagiaan itu tidak bertahan lama, perutku kembali membesar dan terbayang di benaku aku akan merasakan kembali penderitaan seperti dulu. Namun aku berusaha tegar menjalaninya.

Akhirnya operasi kedua dilakukan satu tahun kemudian awal tahun 2006 lalu. Operasi kali ini aku mendapat fasilitas kartu miskin. Daging seberat 25 kilogram berhasil diangkat dari rahimku. Namun ternyata operasi kedua inipun belum selesai. Aku harus menjalani operasi kembali.

Jujur, sebenarnya trauma mengahadapi operasi. Waktu mau menjalani operasi ke dua aku harus tinggal di rumah sakit selama 4 bulan tanpa dibesuk oleh siapapun. Karena suamiku tidak punya biaya untuk transportasi pulan pergi dari rumah di Tanggerang, Banten ke Jakarta.

Yah...ternyata mengurus gakin sangat melelahkan, apalagi aku harus tetap membiayai keperluan lain.

Bukannya aku tidak mau menjalani operasi ke tiga, tapi aku letih kalau aku harus berbulan bulan lagi di rumah sakit untuk menunggu operasi. Aku kasihan dengan anak anakku dan suami. Sementara aku tidak bisa bekerja membantu suami mencari uang.

Oh Tuhan...Kalau aku bisa meminta, aku hanya meminta dua hal kepada mu. Aku mohon kesempatan atau ambil saja nyawaku. Setiap hari aku letih hanya bisa berpura pura kuat dan sehat padahal sebenarnya aku sangat menderita.

Tolonglah tuhan, kalau memang aku harus sembuh kirimkan malaikat penyelamat mu membantu operasiku sehingga tumor itu benar benar bisa hilang dari rahimku.

Justru makin membesar. Ya Tuhan...sampai kapan derita ini akan berakhir?(Her)

Nama:
Email:

More HATI NURANI:
[ more Hati Nurani ]
© 2008, INDOSIAR.COM | QUICK MENU :